November 16, 2017

"orang merasa sedih itu bukan karena dirinya lemah, tapi karena dia sudah terlalu lama menjadi kuat."

perempuan paruh baya itu bicara sambil menepuk-nepuk punggung tanganku, mencoba menenangkan sekaligus membuat keadaanku lebih baik. dia menggeser cangkir hitam yang berisi penuh kopi ke hadapanku, sampai asapnya yang mengepul panas itu memapar ke wajahku.

"obat sedihmu?" perempuan itu menawarkan kopi tadi sambil tersenyum. ia duduk di depanku sambil melipat tangan di meja.

"makasih, bu." ujarku pelan sambil menyentuh gagang cangkir. hangat, dan bau kapal api.

dia juga menatapku hangat, lalu bicara sambil menyenderkan badannya ke kursi kayu yang ia duduki, "boleh sedih, tapi harus keren lho mbak."

aku tersenyum lebar sampai telinga mendengar ucapannya. betul juga, kenapa pula aku jadi semenyedihkan ini ketika sedang bersedih? kenapa terlihat begitu putus asa kalau sebenarnya aku pun masih bisa jadi srampangan dan berkoar-koar dengan kesedihanku ini? aku menyeruput isi cangkir perlahan, meresapinya diam-diam. ah, sedih itu kan bukan hal yang buruk!

Muak

November 13, 2017

bajingan,
untuk beberapa hal yang menyesakkan

Bapak

Percakapan dengan Ibu

November 09, 2017

“Mbak, Ibu kesal sama Bapak.”

Mataku melebar ketika Ibu mulai bersuara. Aku berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil satu botol kombucha dan gelas plastik di atasnya. Sambil menunggu Ibu bicara lagi, aku merebahkan diri di sela-sela sofa reyot berganjal, menaikkan kedua kaki, mencari posisi yang paling enak, lalu menuangkan isi botol kombucha tadi ke dalam gelas.

“Kemarin pas Bapak datang ke kosmu, Ibu senang banget soalnya jadi nggak ada yang berisik di rumah.”

Kombucha yang sedang kutenggak tiba-tiba melesat turun ke paru-paru yang bukan tempatnya. Aku tersedak, sehabis itu tawaku meledak karena mendengar ucapan Ibu. Kutaruh gelas yang berceceran air daun telang itu dan membetulkan posisi duduk.

“Kemarin pas di sini Bapak beli peralatan dapur lagi, Bu,” aku ikut mengompori, masih sambil meredam tawaku gara-gara Ibu barusan. “Wajan, sorok, panci, beli piring sama sendok juga. Padahal peralatanku kan udah lengkap banget.”

“Ya gitu Bapakmu,” suara Ibu mulai melengking. Aku terkikik geli. Sungguh, Ibu paling jago kalau sudah menyinyir soal Bapak. “Senangnya mubazir. Mentang-mentang duitnya banyak jadi apa-apanya dibeli, suka-suka Bapak lah. Kamu simpen dulu aja barang-barang baru itu, nanti kalau pas Ibu ke sana tak bawa pulang.”

“Oke, oke.” aku mengangguk-ngangguk sekaligus keheranan tak habis pikir. Banyak sifat Bapak yang tidak disenangi Ibu, tapi entah kenapa, hal itu justru melanggengkan pertalian mereka. Parahnya, Ibu adalah tipe yang cerewet dan gemar bicara dengan nada tinggi, sementara Bapak cenderung datar dan lebih sering menonjolkan ekspresi bingungan. Ini masih perkara yang biasa, soalnya ada banyak sekali situasi lain yang kemudian menjadi diktum dari hubungan perkawinan Bapak dan Ibu, yang kalau diurai bakal cukup rumit juga. Banyak hal-hal yang menggelitik, mengesankan, menjengkelkan, membingungkan, menakjubkan, dan ihwal lain soal mereka. Bapak dan Ibu bukan sekadar hubungan antara suami dan istri, bagiku, konteks mereka jauh lebih luas. Semakin meluas deh ketika unsur anak-anak kemudian dimasukkan. Kami jadi ikut memainkan peran mereka di dalam unit keluarga.

Aku menyeret laptop yang tergeletak di meja samping sofa, menyalakan benda elektronik tersebut, lalu bergerak menuju fitur music player. Satu lagu berjudul ‘Bapak’ milik musisi asal Malang, Iksan Skuter, diputar lembut.

ada manusia yang paling ingin aku peluk
tapi aku malu

Kombucha-ku tak dingin lagi, tapi rasa asamnya masih menjalar kuat di lidah. Ibu masih berbicara nyinyir soal Bapak, tak henti-henti. Arah pembicaraannya sudah ke mana-mana, aku cuma mendengarkan, sesekali Ibu diam sebentar dan menarik napas, lalu mulai bicara kembali.

Aku tersenyum. Ponsel yang sedari tadi ku tempelkan di telinga kemudian aku letakkan ke atas meja, kutekan tombol loudspeaker supaya suara Ibu bisa menguar lebih keras.

Kutenggak kombucha-ku lagi, pandanganku beralih menyoroti pelataran rumah yang sedang ku singgahi saat ini. Ada beberapa pot bunga dan tanaman hidroponik yang disebar di halaman tersebut, helai daunnya ditiup sayup-sayup oleh angin sore, aku merasa begitu teduh dan tenang.

Sisanya masih sambil mendengarkan Ibu dan tersenyum-senyum sendiri.


Pertunjukan

Mengkritisi Seni Rupa lewat Pertunjukan Teater ‘Gambar Kecu’

Oktober 29, 2017

Jam setengah delapan lebih beberapa menit ketika saya dan Pije memadati pelataran PKKH yang malam itu sudah disesaki banyak orang. Untung belum mulai, ujar saya lega setelah melihat panggung pertunjukan yang masih melompong meski penonton sudah siap sedia di tempatnya masing-masing. Ada sebuah tonil yang dipasang menyerupai backdrop dan sepertinya dijadikan properti utama, tonil tersebut (yang mirip hasil lukisan manual) dipakai untuk memberikan suasana setting latar dan tempat pada sebuah lakon. Di atasnya, tertulis ‘Kelompok Sedhut Senut’, sebuah name tag untuk mengenalkan identitas pelaku pertunjukan kepada publik.

Selang beberapa menit kemudian, seorang perempuan berkebaya memasuki panggung dan memulai pertunjukan dengan menjadi biduan. Dia menyanyikan lagu dangdut era kini dari grup musik hip hop campur dangdut bernama NDX –kalau saya nggak keliru. Sambil menikmati lelaguan, saya bisa menebak kalau konsep pertunjukan ini sepertinya akan diusung dengan sangat santai.

Pertunjukan teater yang diberi judul “Gambar Kecu” tersebut disutradarai oleh Ibnu Gundul Widodo dan naskah yang ditulis oleh Elyandra Widharta. “Gambar Kecu” adalah upaya Kelompok Sedhut Senut membaca persoalan relasi antara seniman dan artisan di dunia seni rupa. Gagasan ini rupanya juga berkorelasi dengan salah satu tema yang dicetuskan oleh Festival Arsip (19 Sept-1 Okt) tentang wacana seputar praktik komodifikasi seni, dan mengenai apa yang sering disebut sebagai praktik pemalsuan lukisan. Fenomena lukisan palsu sempat menjadi topik hangat dalam perbincangan seni rupa di Indonesia, terutama mengenai lukisan-lukisan karya yang dianggap old master (Tembi, 2017).

Pertunjukan dengan konsep sandiwara berbahasa Jawa ini bermula dari penampilan Mbah Gun, pelukis senior sekaligus guru senirupawan junior, dan istrinya yang tengah mengangkati jemuran di pelataran rumah. Istri Mbah Gun lalu sambat mengenai kondisi ekonomi mereka yang selalu melarat. Istri Mbah Gun bahkan meminta Mbah Gun untuk menjual lukisan-lukisan yang dikoleksinya, tetapi Mbah Gun dengan idealismenya menolak hal itu, Mbah Gun menganggap seni rupa yang dilakoninya bukan hanya sekadar persoalan materi, lebih dari itu, Mbah Gun menekankan nilai-nilai estetika dan ‘ruh’ kesenian itu sendiri. Istri Mbah Gun sampai kesal sendiri bicara pada suaminya, sebaliknya, Mbah Gun malah menuduh kalau istrinya itu tidak paham soal seni.

Selain itu, ada pula tokoh Juragan Ngabdul, seniman lukis kondang dan kaya raya yang dulunya merupakan bekas murid Mbah Gun. Ngabdul juga membawahi beberapa artisan, satu di antaranya adalah Sugeng, yang telah berhenti dan beralih profesi menjadi tukang parkir karena merasa mendapat kekangan selama menjadi murid Juragan Ngabdul. Sugeng digambarkan sebagai laki-laki yang berpendirian dan idealismenya kuat, kehidupan yang bisa dibilang mapan karena menjadi artisan Juragan rela dia tinggalkan karena Sugeng tidak mendapatkan kemerdekaannya di sana, Sugeng tidak pernah bebas ketika melukis, selalu ada sekat-sekat dan intervensi dari Juragan ketika dia melukis. Baginya, menjadi artisan Juragan Ngabdul sama saja seperti menjadi babunya.

Artisan yang lain adalah Jarno, yang justru masih setia kepada Juragan Ngabdul meskipun dirinya menyadari bahwa Juragannya itu kadang cukup pelit dalam hal memberikan upah. Konflik perlahan muncul ketika Yatmi, pembantu Juragan Ngabdul, berusaha menembak Jarno, namun ditolak karena Jarno sudah menganggap Yatmi seperti adiknya sendiri. Jarno kemudian mengaku bahwa dirinya telah menyukai Retno, yang merupakan pacar Sugeng. Sugeng yang mencuri dengar kabar tersebut dari warung Bu Darmi (yang merupakan muara dari berbagai rerasanan antar tokoh) tidak terima dengan hal itu. Sugeng lalu mendatangi Jarno dan mengajaknya berkelahi. Yatmi, yang juga dirundung cemburu dan kemarahan akibat ditolak, kemudian merencanakan niat jahat bersama Sugeng. Mereka ingin memalsukan lukisan Nyai Roro Kidul milik Juragan Ngabdul yang akan dipamerkan di luar negeri, lalu menjualnya kepada makelar yang akan dijualnya kembali pada seseorang dengan harga selangit.

Di tengah kepelikan tersebut, Yatmi kemudian menuduh Jarno sebagai tersangkanya. Juragan Ngabdul semakin pusing dan hal itu memperparah keadaan tubuhnya yang sedang sakit-sakitan. Di situasi sekarat karena tidak mampu lagi menahan derita, Yatmi berlutut di depan Juragan dan mengakui kesalahannya sambil menangis. Juragan yang sudah kecewa dengan kasus pemalsuan lukisannya, ditambah sakit keras yang dialami dan pengkhianatan pembantunya itu akhirnya meninggal dunia. Mbah Gun dan istrinya yang saat itu datang ke tempat Juragan Ngabdul untuk menjadi dalang pertunjukan di pembukaan pameran pun kalut karena Juragan meninggal dan projeknya gagal. Ia menyatakan bahwa wayang yang urung dipentaskan tidak lebih dari sekadar gambar kecu (Tembi, 2017).

Pemain yang berperan dalam pertunjukan ini adalah Gundul, Nurul, Elyandra, Kukuh, Ninit, Nanik, Wawan, Haryo, Dafa, Joko, dan Teteh. Durasi yang dimainkan juga lumayan lama, yakni sekitar dua jam, tapi kok saya sama sekali nggak merasa bosan ya? Tebakan saya kalau pertunjukan ini akan diusung dengan santai ternyata betul juga. Alur cerita lakon ini bagus, semua tokoh mampu merepresentasikan karakternya sehingga konstruksi cerita bisa dibangun secara utuh, dan saya rasa, mereka telah menyampaikan lakon dengan baik. Satu hal lagi yang saya sukai dari pertunjukan yang dihelat untuk menutup rangkaian agenda di Festival Arsip ini adalah; bumbu-bumbu humor yang berlimpah tapi disajikan dengan porsi yang pas. Entah sudah berapa ribu kali saya dan penonton lain tertawa sampai pingin menangis ketika melihat adegan Mbah Gun dengan istrinya, Jarno dengan Yatmi, Sugeng dan Retno, percakapan-percakapan di warung Bu Darmi dan tokoh anak kecil yang juga menghibur (kabarnya dia sudah bermain lakon sejak umur tujuh tahun), serta beberapa adegan lain yang secara terangan-terangan mencoba satir terhadap kondisi hidup saat ini. Gambar Kecu menjadi ajang kritik sosial terhadap berbagai hal jelek di dunia; kesombongan, kebobrokan, kecurangan, dengki dan iri hati, kepalsuan, ambisi berlebih, kecacatan, keluh kesah, dan sejawatnya. Menyadari saya dan penonton lain tertawa sangat keras, rasanya seperti sedang menertawakan diri sendiri yang tak ayal juga dipenuhi hal-hal jelek tadi. Dari segi penokohan dan jalan cerita, saya sangat menikmati dari awal pengadegan hingga babak terakhir selesai. Permainannya halus, ada cacat sedikit langsung bisa diimprov.

Setting propertinya sendiri sederhana dan realis. Tonil yang dipasang di belakang itu dipakai untuk mengganti latar tempat ketika cerita berganti ke babak selanjutnya, caranya adalah dengan menarik tali tonil di sisi panggung. Kendala mungkin terjadi di bagian teknis, di mana tali kerekan itu sempat macet sehingga kain tonil berlukiskan tempat-tempat tertentu tadi tidak bisa dibentangkan sempurna.

Tata lampu yang digunakan juga oke, yakni halogen kuning redup dengan komposisi warnanya yang senada. Lampu-lampu tersebut diletakkan di atas tiang (atau apa ya namanya? Saya nggak tahu tapi pemasangan lampu teater ini keren juga, saya jadi bertanya-tanya bagaimana cara kerjanya) dan menyerong menghadap kanan-kiri panggung. Latar musik yang dipakai untuk mengiringi pertunjukan ini berupa tabuhan tradisional Jawa seperti gamelan (tapi nggak seperangkat, hanya kendang-kendangan, suling, dan sepertinya saron?), ada penyanyi sindennya juga kalau enggak salah. Konsepnya jadi mirip ketoprak Jawa gitu, ya?

Oh ya, sekadar membagi pengetahuan, Kelompok Sedhut Senut merupakan grup teater atau sandiwara, yang menggunakan bahasa Jawa sebagai media komunikasi atau dialognya, dan sering melakukan aktivitas pentas keliling dari kampung ke kampung. Kelompok Sedhut Senut tersebut, merupakan nama baru dari grup lama Komunitas Sego Gurih. Kelompok ini selalu mencoba menghadirkan suasana baru dalam setiap pementasannya dengan menghindari jenis panggung konvensional dan menggunakan tonil sebagai properti utamanya. Dan sungguh, sehabis menonton pertunjukan mereka, rasanya saya lega sekali, seperti habis menimba banyak pengalaman baik. Gambar Kecu memberikan saya pemahaman soal hidup dan substansi di dalamnya, yang kemudian menjadi bahan reflektif dan kontemplasi saya sendiri.

Wangun, mas, mbak! Kapan-kapan saya mau lihat kalian manggung lagi!

mengambil gambar setelah pertunjukan selesai, duh, habisnya pas masih main, saya serius nonton e jadi nggak sempat foto-foto. nda papa lah ya...