Senin, 18 Juni 2018

4.00 jancuk

udara dingin pil aspirin sepatu gunung piring seng pagar berkarat tanah becek tanaman layu mobil mogok rumah usang bunyi keran apron ibu loyang tua bau parafin lampu jalan bunga liar kunang kunang engsel patah dengkuran bapak jaket jeans raut pensil kusen jendela kain rajut lilin kecil teh hangat daun kering hitam pekat harum ragi mabuk arak radio rusak papan catur teras nenek malam lengang akar pohon ikan sapu kunir asem nona belanda burung walet

jam empat pagi dan saya bicara ngaco

untuk alasan-alasan yang kadang saya nggak mengerti:

kenapa di dunia ini ada banyak sekali hal yang membuat terperangah
kenapa saya menangis sesenggukan ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah
kenapa udara malam kadang-kadang seperti mengendap dan menusuk
kenapa rasanya ingin tenggelam setiap disergap sepi dan pikiran berkecamuk
jancuk

kenapa cuma melihat anak laki-laki itu, saya sampai bingung dan tidak tidur sampai pagi

Minggu, 29 April 2018

Kena sihir 'Cerita Anak' milik Papermoon

Rasanya kalau mengingat-ngingat konsep pertunjukan yang dihelat oleh Papermoon pada akhir april kemarin, perasaan saya langsung jadi bergemuruh; karena senang, takjub, sekaligus merinding. Saya pernah bilang sebelumnya, menonton teater sama dengan membantumu untuk berefleksi, tapi kalau konsep teater itu bagus, kamu bukan hanya bisa berefleksi saja, tapi kamu juga akan dihantarkan pada banyak perasaan-perasaan yang meluap, meluber, sampai kamu sendiri kesulitan menampungnya.

“Cerita Anak” adalah bentuk teater interaktif yang didesain untuk anak usia 2-8 tahun (tentu dengan dampingan orangtua). Pementasan ini digawangi oleh Papermoon Puppet Theatre (komunitas teater boneka dari jogja) dan Polyglot Theatre dari Australia sebagai bagian dari pembukaan pameran seni ArtJog 2018. Cerita Anak juga ternyata pernah dipentaskan di Melbourne, tentunya dengan versi yang berbeda. Jalan cerita di dalam pertunjukan ini sebenarnya sangat sederhana. Seorang anak TK yang menonton pasti bisa dengan mudah menceritakannya di hadapan teman-teman mereka. Tapi bagaimana kemudian alur tersebut dieksekusi dan dibungkus dengan sedemikian indah, adalah poinnya.

Cerita Anak berlatar di sebuah perairan laut luas. Dilansir dari website ArtJog, tema pertunjukan ini mengenai sejarah maritim dan kisah nyata seorang anak Srilangka yang menjadi salah satu pencari suaka di Australia. Panggung teaternya dibuat berkelambu, dan ada kapal besar sebagai properti utama yang ditaruh di tengahnya. Tiga orang dewasa yang berperan sebagai awak kapal kemudian masuk dan memulai petualangan, disusul rombongan anak-anak manis bersama orang tua mereka yang juga memainkan cerita. Menariknya, anak-anak tadi benar-benar diterjunkan tanpa arahan sutradara, mereka bebas bermain dengan berbagai properti laut yang ada di panggung. Ketika air ombak yang divisualkan lewat kain biru tipis saling bergulung, mereka langsung lompat dan ikut bergelung di dalamnya. Ketika awak kapal menyuruh mereka untuk masuk ke dalam kapal karena air ombak semakin tinggi, mereka kemudian menjerit-jerit dan langsung menaiki kapal. Ketika kapal masuk ke wilayah laut lepas dan mulai muncul banyak ikan-ikan, mereka kemudian diajak untuk memancing dengan alat pancing mainan. Ketika kapal tenggelam setelah menerjang badai ombak yang liar, mereka lalu mencengkeram tangan orang tua mereka karena ketakutan. Sepanjang pertunjukan, anak-anak kecil itu tertawa, terperangah, kaget, berteriak, menggumam, dan berbagai emosi mereka ikut saya rasakan, membuat saya tersenyum lebar melihatnya. Sangat lebar sampai saya sendiri nggak sadar kalau saya sedang tersenyum.

Semua adegan dalam Cerita Anak tentu sangat emosional, dan saya tidak bisa menuliskan detil bagaimana perasaan-perasaan tersebut menguras saya. Ada pula beberapa adegan yang saking emosionalnya, mata saya langsung berkaca-kaca menahan tangis.

Salah satunya adalah ketika melihat properti teater berbentuk hewan laut super besar yang diperagakan menggunakan lampu warna-warni, saat itu saya refleks mencengkeram tangan Pije (teman nonton saya waktu itu) dan kami memekik bersama. This is just so beautiful, mata saya berair dan menghangat. Saya nggak punya kosa kata lagi untuk menggambarkan betapa ‘Cerita Anak’ ini begitu indah. Saya seperti disihir, oleh anak-anak yang bermain dengan polos (spontan dan tanpa skrip), tata lampu, proyeksi video, properti panggung, setting suara, plot cerita, dan semua kombinasi yang membuat pertunjukan itu sangat kontemplatif. Cerita Anak seperti menghidupkan kembali imajinasi dan dinamika anak-anak yang sederhana dan begitu menyenangkan, pada kami orang-orang dewasa yang menonton.

magisssssss

Malam itu saya berterimakasih banyak pada Mbak Ria Papermoon dan seluruh kru yang telah menyajikan pentas teater seapik itu. Saya pulang dengan perasaan bahagia berkali-kali lipat, sambil menyeka mata dan bertepuk tangan tak habis-habis.


sumber foto: instagram Papermoon

Kamis, 19 April 2018

Bicara tentang relasi pertemanan


Kita semua punya satu atau dua bahkan lebih manusia yang kita sebut teman. Bagi saya definisi teman itu melingkupi semua orang yang saya kenal dan mengenal saya. Kalau saya tahu kamu dan kamu tahu saya pula, then we are friends. Sesederhana itu. Tapi beda lagi ketika saya mengerucutkan konsep teman itu jadi beberapa kategori; teman dekat, teman kampus, teman ngopi, teman saling sapa doang, teman kalo pas nebeng, teman tapi yang yangan, dan lain-lain, maka akan ada pengekslusifan orang-orang tertentu yang masuk ke dalam klasifikasi teman menurut saya tadi.

Sejujurnya pun, I can be friends with anyone, dengan semua jenis manusia, terlepas dari apa latar belakang sosiokultural, agama, warna favorit bahkan orientasi seksualnya (saya rasa saya orang yang sangat terbuka dengan siapapun). Soalnya, bagi saya, saya nggak berhak asal memberikan penilaian baik buruk pada seseorang hanya karena beberapa hal yang ia konsumsi, kenakan, atau pahami. Pertemanan saya akan terhenti kalau seseorang yang saya anggap teman itu mulai memberikan pengaruh yang merugikan terhadap hidup saya dan menggoyahkan prinsip saya, then we will break up. Saya punya teman yang suka minum, atau yang anak kiyai, atau yang hidupnya di jalanan, atau yang bekerja di bar, atau yang hobi trek-trekan, atau yang nggak percaya dengan konsep Tuhan, atau yang memakai cadar, atau yang mengaku dirinya naksir sesama jenis, atau yang orangnya konservatif dan patuh dengan tradisi, semua itu, terlepas dari siapa mereka dan cara mereka hidup, nggak pernah sekalipun terlintas di benak saya untuk memberikan sekat-sekat dan membuat penghakiman pada mereka. Kalau mereka punya sikap baik, lantas kita akan berteman. Saya mengapresiasi mereka semua yang hidup dalam kondisi-kondisi tertentu (yang pasti dilaluinya dengan banyak resiko) tapi tetap punya nurani yang baik, nggak merendahkan mereka yang punya paham berbeda, nggak memaksakan kehendaknya dengan kehendak orang lain, saling menghargai dan semua sikap-sikap yang mengantar pada sisi kemanusiaan kita.

Semua orang pasti punya pemikiran masing-masing tentang konsep teman itu. Tapi saya yakin, satu dua persamaan konsep pasti akan kita sepakati bersama, tentang bagaimana teman itu menjadi obat pereda sakit kepala, penyembuh yang menyenangkan, seseorang yang selalu ada di samping kita dalam keadaan baik dan buruk, our support system, wadah curhat colongan kita, dan lain-lain. Memang betul, saya juga menyadari kebutuhan teman dalam hidup saya itu berperan penting dalam pembentukan pribadi saya. Ada waktu di mana ketika saya nggak memiliki teman, saya akan merasa sangat sedih.

Tapi hidup ini nggak segalanya berjalan baik, masih ada orang-orang menyebalkan dan punya sifat-sifat jelek, yang sayangnya, mereka adalah teman kita sendiri. Hal ini sangat sering saya temui dalam relasi pertemanan. Saya nggak akan bilang kalau relasi pertemanan itu toxic, tapi saya akan bilang kalau dalam relasi yang bernama pertemanan itu, ada lho hal-hal yang bisa membuat toxic, sampai kita merasa rendah diri, ada lho-lho hal-hal dalam relasi pertemanan yang membuat kita sampai sakit hati dan menangis. Sama persis seperti relasi orang pacaran dan relasi keluarga, berteman juga membuat saya mengalami banyak ups and downs, both of good and bad experiences. Relasi yang dulu diawali dengan sapaan malu-malu, ‘halo, boleh duduk di sini enggak?’, sebenarnya nggak melulu soal hal menyenangkan. Bahkan semakin menginjak usia tua, saya merasa lingkaran pertemanan ini sudah menjadi hal yang serius. Saya nggak bisa asal melabrak teman yang ketahuan menikung saya di belakang seperti jaman SMP dulu, saya nggak bisa asal memusuhi bahkan menjambak rambut teman yang terang-terangan menipu saya seperti yang pernah saya lakukan jaman SD, saya nggak bisa sembarangan menaruh permen karet di atas bangkunya, memeletkan lidah ketika berpapasan dengannya, atau mengedit foto profil faceboknya menjadi jelek. Sekarang saya selalu diliputi perasaan takut akan resiko-resiko sosial yang timbul kalau saya melakukan hal-hal tadi. Akan ada banyak pertimbangan yang dipikirkan dan yang jelas, saya jadi sangat berhati-hati.

Bagi beberapa orang yang kenal dekat dengan saya, pasti tahu sifat saya yang sangat menyusahkan (yang justru muncul di kehidupan saya pasca SMA) yaitu perasaan nggak enakan. Saya kayaknya lebih memilih jadi tersakiti deh daripada harus mengatakan yang sejujurnya pada teman kalau perbuatannya menyakiti saya, entah secara verbal maupun non verbal. Kalau sudah merasa lingkaran saya membawa toxic, biasanya saya akan menghilang diam-diam dan tidak menemui mereka sama sekali, sampai saya merasa agak baikan. Saya bukan tipe orang yang bisa dengan mudah memutus tali pertemanan, apalagi jika mereka adalah orang-orang yang sebelumnya dekat. Biasanya kalau saya dan teman saya menyadari hubungan kami sedang tidak baik-baik saja, kami akan lost contact selama beberapa hari, lalu muncul dengan membawa topik obrolan kepada hal-hal yang membuat kami berkonflik, membahasnya, sampai kemudian mereda dan kami nggak canggung lagi.

Satu hal yang sering saya pelajari adalah, perbedaan pandangan yang tidak dibarengi dengan sikap saling memahami akan selalu mengantar kita pada perselisihan, yang ujung-ujungnya adalah konflik. Saya mungkin menganggap teman saya itu keras kepala, tapi siapa tahu kalau ternyata itu memang cara dia untuk mempertahankan sesuatu, yang saya nggak pahami. Cara berpikir kita selalu beda, kita menempa diri dengan fase yang berbeda-beda, pengalaman hidup dan tata nilai yang kita anut selalu berbeda. Nggak semua hal yang menurut saya benar juga disepakati oleh teman saya, dan karena sebab ini, kita semua harus saling memahami. Kita nggak perlu setuju dengan argumen teman kalau kita memang merasa nggak setuju, tapi bukan lantas kemudian memaksa dia untuk setuju dengan argumen kita. Kalau kasusnya seperti ini, maka seperti yang saya bilang di awal, saya akan mengumpulkan keberanian untuk memutus pertemanan. Kita semua nggak berhak berteman dengan orang-orang yang gemar memaksakan kehendaknya, merendahkan sesamanya hanya gara-gara perbedaan prinsip. Relasi pertemanan adalah relasi yang imbang, bukan relasi yang berisi kuasa. Teman adalah saling mendukung, bukan saling menjatuhkan karena ada pihak yang kuat dan yang lemah.

Meskipun perasaan sakit itu selalu ada, saya nggak lantas akan menutup diri untuk bertemu orang-orang. Saya akan terus berpergian dan menemukan teman baru. Saya akan bercerita dan mengantongi banyak pengalaman lewat sudut pandang yang beragam. Saya akan terus belajar dari siapa saja dan tumbuh dewasa dengan baik. Saya akan hidup dengan mengenal lebih banyak manusia, apapun keyakinannya.

Halo, siapapun yang sampai pada akhir tulisan ini, saya harap kita selalu jadi teman yang baik!

Sabtu, 31 Maret 2018

Self-healing abad kontemporer: duduk di kursi teater


Jadi sudah belakangan ini saya merasa nggak enak badan, pikiran, dan juga perasaan. Hawanya jadi uring-uringan melulu. Mungkin efek tugas-tugas kuliah yang sangat membebani pundak kali ya. Tapi selain itu, saya sebenarnya sadar satu hal akan kondisi saya sekarang ini; saya lagi bosan banget! Semester enam ini saya sudah lepas dari segala bentuk penyematan jabatan, saya nggak lagi rapat sehabis kelas, nggak lagi ngevent di fakultas tiap malam minggu (saking seringnya fib bikin acara), nggak lagi nongkrong di hall teater ngomongin proyekan sampai jam dua pagi, nggak lagi ribet keuangan proposal proker, nggak lagi cari-cari kerjaan di luar kampus (magang, ikut kepanitiaan, cari duit), nggak lagi wara-wiri cari penghidupan di seantero jogja sampai lupa kuliah lupa makan lupa mandi lupa harus tetap tenang. Kalau dipikir-pikir, semester enam ini sudah jadi bebas banget, dan saya kira saya bakal lega sampai paru-paru, tapi rupanya nggak lega-lega amat. Saya kira saya akan menjalani hidup dengan damai, tapi ternyata nggak damai-damai amat. Saya jujur aja, tapi kok rasanya malah pusing ya? Pusing karena saya nggak punya kehektikan apapun. Hidup saya sekarang jadi cuma perihal kuliah, dan kalian tahu lah kerjaan di antro itu ngapain; baca jurnal, review, baca jurnal, review, baca jurnal, rev– dan sumpah kegiatan itu tuh sebenarnya sangat membosankan. Pengetahuan akan isu-isu baru di dalam artikel memang jadi nambah sih, tapi ya sudah cuma sampai itu, saya nggak punya banyak pengalaman di lapangan. Suka heran juga saya, kenapa jadi jarang riset ke lapangan ya? Padahal ini modalnya anak antro. Sudah tiga tahun ini saya melakoninya, tapi rasa-rasanya baru kali ini ngempet banget di pikiran, kaya muak sampai ubun-ubun tapi nggak bisa ngapa-ngapain setelahnya. Ada sih kegiatan yang membuat saya bisa bergerak luwes tanpa sekat-sekat di dalam ruang kelas, tapi jumlahnya satu-dua dan intensitasnya jadi sedikiiiiiiiiiit sekali. Ada juga KKN yang lumayan menguji kembali kemampuan bersosial saya dengan orang-orang baru, tapi tetap aja lingkupnya beda! Mana ketika saya coba apply cv pada beberapa perusahaan untuk magang, saya ditolak habis-habisan, ada tiga kali kayanya dalam sebulan. Nggak paham lagi lah dengan hidup ini, kadang jalur lintasannya memang bisa seenak dia doang.

Maaf saya jadi marah-marah satu paragraf panjang begitu. Intinya, di saat kondisi bosan saya sungguh-sungguh ingin meledak, saya mulai merutinkan kembali ibadah rohani yang dulu sering saya lakukan untuk menyeimbangkan hormon saya; cari festival, nonton screening film, ke pameran, naik kereta, jalan-jalan sore, dateng konser, dan salah satunya adalah menonton pertunjukan teater!

Sebenarnya niat terselubung di balik nonton teater adalah; saya pingin banget duduk di kursi penonton sebuah gedung pertunjukan yang besar. Sebutlah kalau di Jogja itu berarti concert hall-nya TBY. Kalian boleh menyebut saya aneh atau nggak masuk akal, tapi saya memang akan jadi baik-baik saja kalau sudah duduk di kursi penonton itu. Senderan sambil menyangga dagu, melihat berderet-deret kursi lain di sekitar, merasakan atmosfir pertunjukan lewat lighting redup, panggung megah, aktor yang mungkin tiba-tiba muncul dari samping, setting musik yang disetel padu, tata artistik yang seolah jadi hidup ketika disorot lampu, dan segala komponen lain yang menyatu dalam sebuah pertunjukan.

Kayak kemarin ini, ketika saya diajak teman untuk nonton teater lakon Jawa Barat di concert hall TBY, langsung menjerit-jerit mau lah saya, apalagi tiket masuknya gratis. Saya sih nggak berekspektasi apa-apa terkait konsep pertunjukannya, asal saya bisa duduk di kursi penonton concert hall aja saya sudah lega banget lah. Saya akan meluruhkan segala beban di kepala, pundak, maupun lutut kalau sudah duduk di kursi penonton. Rasa-rasanya jadi kaya sedang menjalani pengobatan altenatif, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang mendera dalam kehidupan usia dua puluhan. Asli lah, nggak bohong saya.

Tapi meskipun nggak berekspektasi apapun terhadap teaternya, saya akan tetap memperhatikan jalan cerita dan setting lain yang dibangun oleh kru. Soalnya kalau saya nggak serius nonton, ya nggak dapet lah atmosfirnya! Apalagi kalau selesai pertunjukan dan ada curtain call setelahnya, rasanya pingin banget tepuk tangan paling lama dan paling keras –yang mana adalah bentuk apresiasi ter melegakan di atas panggung. Pulang-pulang, bahagia lahir batin lah saya, dan kalau pas kebetulan konsep teaternya bagus parah, bahagia saya jadi berlipat bertingkat-tingkat, sampai kadang saya nggak bisa berkata-kata dan cuma mampu menangis. Contoh kasus yang ini adalah pertunjukannya teater Tamara (tak mudah menyerah) berjudul Gejolak Makam Keramat, yang dimainkan oleh ibu-ibu penyintas tragedi 65 yang pernah lalu-lalang masuk-keluar camp penahanan akibat peristiwa politik berdarah tersebut. Rasanya selesai menyaksikan pertunjukan mereka, saya seperti punya keberanian baru untuk hidup. Saya nggak pernah tahu sebelumnya kalau menonton teater bisa jadi semagis itu. Kalau dengan menonton teater, saya bisa berkontemplasi tentang banyak hal dan bersyukur karenanya.

Teman-teman yang lagi pusing banget sampai pingin muntah, bilang saya ya, nanti saya ajak duduk di kursinya gedung teater.

curtain call paling menyenangkan

Selasa, 27 Maret 2018

Kopi sialan dan promag pertama

Saya nggak tau kalau ternyata pola makan saya yang sak sak e itu akan jadi hal yang serius dan berdampak terhadap sistem pencernaan saya, kirain cuma jadi missing habit saya saja. Soalnya nggak pernah saya merasa sesakit ini cuma karena pola makan, pol-polan ya rasa lapar yang amat. Mungkin karena sudah pada tahap terlalu sering ya, jadi kebiasaan jelek itu kemudian menumpuk dan jadi pecah pada masanya. Malam kemarin ketika sedang rapat KKN (kapan-kapan saya cerita soal tim ini) di fakultas sebelah, setelah tegukan kopi yang kedua kali, tiba-tiba saya merasa nggak enak badan. Gejala yang pertama adalah karena tiba-tiba saya ingin muntah, perut rasanya jadi tidak karuan, seperti ada yang sedang menggelinding dan bertabrakan di dalamnya. Tadinya saya masih bisa mengabaikan hal tersebut soalnya saya pikir itu cuma perasaan saya saja, atau halusinasi akibat pusing pikiran, tapi makin lama badan saya malah jadi merinding, tangan saya sampai dingin dan bergetar.

Saya lalu berbisik pada Chusna, teman saya yang waktu itu duduk di sebelah saya, ‘Chus, pingin muntah’, dia melihat kopi kaleng yang tergeletak di depan saya, lalu langsung melotot ke arah saya, ‘Kamu terakhir makan kapan?’ tanyanya dengan nada tinggi. Saya memicingkan mata sambil berpikir, kapan ya, kapan ya, astaga, lalu baru ingat kalau sepertinya siang tadi sekitar pukul dua belasan saya memasukan nasi ke dalam perut, setelah itu saya biarkan perut saya kosong sampai delapan malam ini saya jejali kopi kalengan yang saya beli di minimarket dekat kos. Mungkin malam itu adalah akumulasi perasaan ingin muntah terbesar karena sudah beberapa hari belakangan ini saya selalu telat makan dan kurang tidur. ‘Bego, asam lambungmu naik itu!’ Chusna memaki saya. Saya yang nggak ngerti apa itu asam lambung hanya hah-heh-hah-heh nggak paham. Saya lalu ijin ke toilet dan muntah-muntah di sana, tapi nggak ada yang bisa saya muntahkan, alias rasa mual itu hanya sampai pada kerongkongan saja, menolak untuk dilahirkan ke luar. Saya bingung dan makin pusing.

Wajah saya nampak pucat kalau lihat di cermin tadi, tapi saya cuek dan malah membubuhi lipstik tebal-tebal di bibir. Saya kembali ke forum lalu Chusna marah-marah lagi karena saya masih sempatnya menenggak kopi sialan itu. Perempuan Solo itu lalu mengambil kopi saya dan menyerahkannya pada anak laki-laki, digilir ke mulut mereka semua, sampai kopi saya habis. Saya melenguh dalam hati, tapi mengutuk diri juga, kenapa pengetahuan sedasar ‘kalau perut kosong jangan minum kopi’ ini nggak saya pahami? Kenapa saya harus merasa mual dulu baru mengerti kalau ternyata hal-hal tersebut dapat menaikkan asam lambung saya? Apa itu asam lambung dan kenapa pula ia harus naik? Saya mengutuk diri dua kali akibat kebodohan itu.

Teman saya yang lain lalu memberikan promag setelah Chusna bilang pada dia kalau saya habis muntah-muntah. Promag? Kenapa harus minum ini? Saya nggak mau awalnya, soalnya kan saya gak pernah sakit maag, lagian saya juga nggak bisa menelan obat pil. Chusna semakin geram, dijelaskannya kalau saya harus minum obat warna hijau itu supaya sembuh. Saya bertanya sekali lagi untuk memastikan, ‘Obat ini pait nggak?’ saking skeptisnya saya pada obat. Pol-polan kalau saya sedang merasa nggak enak badan, saya cuma akan membalut diri dengan minyak tawon milik Bapak, jahe hangat, atau minuman seduhan lain, dipijat Ibu, lalu tidur sambil berdoa pada Gusti minta kesembuhan.

Cara minum promag ini dikunyah ternyata, hal pertama yang baru saya ketahui seumur hidup, rasanya pun nggak begitu pait, malah seperti sedang mengunyah kapur barus. Saya menenggak air putih banyak-banyak setelahnya, memastikan supaya tidak ada sisa gerusan obat yang mengganjal di dalam mulut. Saya belum baikan sesudahnya, perut masih aneh, kali ini seperti ada yang menyalakan pendingin ruangan di dalam perut, rasanya dingin. Seorang teman kemudian menawarkan jasa membelikan makanan, apa saja, asal bisa dikonsumsi dan masuk ke dalam perut. Chusna juga meminjamkan aplikasi gojeknya supaya saya bisa memesan nasi. Hari itu jadi pingin menangis karena ada banyak sekali orang baik, Chusna lebih-lebih, meskipun anak itu selalu bicara dengan nadanya yang mbengak mbengok.

Makanan tiba di depan mata, berkat kemurahan Dzat paling ajaib se jagat raya bernama Tuhan, saya lalu menyantap nasi ayam dan beberapa potong roti bakar yang dibelikan teman saya tadi. Betulan ajaib, setelah semua sajian masuk ke dalam perut dan ritual malam saya akhiri dengan menenggak air putih, saya lega sampai taraf ubun-ubun. Hal-hal yang mengganjal dan membuat sesak rasanya lepas. Sehabis itu saya nggak lagi merasa ingin muntah, jemari saya sudah nggak tremor, badan nggak lagi merinding seperti disusupi hawa-hawa negatif, nggak ada lagi nyeri pada bagian ulu hati, pokoknya saya pulih dan segar kembali. Terima kasih selebar-lebarnya kemudian pada teman-teman KKN yang suka menolong sesama, upah kalian pasti besar di surga nanti, aku yang jamin, aku yang jadi saksinya. Terima kasih pada promag aneh yang harus dikunyah karena meredakan perasaan mual, terima kasih pada kopi sialan karena sisa-sisamu mengendap di tenggorokan orang lain, terima kasih pada tisu toilet, wastafel, dan cermin yang memucatkan wajah saya, terima kasih wujud-wujud kasih Tuhan lainnya yang mungkin menyamar menjadi botol minuman yang kutenggak, roti bakar yang kumakan, lipstik merah yang kuolesi pada bibir, atau orang-orang yang bertanya ‘Sudah mendingan?’.

Malam itu untuk pertama kalinya, saya tahu bagaimana rasanya zat asam yang ada di lambung itu bisa naik dan mengacaukan proses metabolisme di dalam tubuh saya. Mungkin habis ini saya akan pergi ke dokter, bertanya tentang gejala dan bagaimana cara mengatasinya. Sedih juga kalau saya dilarang-larang untuk nggak boleh mengonsumsi kopi.
oh ini yang namanya promag