Jumat, 16 Februari 2018


badan panas
kepala pusing
hidung tersumbat
beberapa orang membuat janji, lalu tiba-tiba membatalkan
sepertinya mereka punya janji lain yang lebih menyenangkan
teman yang ingin aku temui terus-terusan melontarkan alasan sibuk
dia tidak akan mencariku kalau bukan aku yang mencarinya lebih dulu
teman lain justru menghilang ketika aku memerlukannya
satu-dua di antaranya terang-terangan mencampakkan aku
sisanya seperti yang sudah-sudah,
membual bersama janji-janji yang tidak pernah ditepati
untuk alasan-alasan itu,
kadang aku tergelak
kenapa kamu mudah sekali disakiti, hai anak perempuan kecil?
sudah berapa banyak kamu menelan pahit dari rasa sakit – rasa sakit itu?
yang lebih konyol adalah,
kenapa kamu selalu melontarkan kebohongan pada mereka?
oke, nggak apa-apa, lain kali saja ya
bohong
wah, gitu ya? ya sudah, semangat ya!
bohong
kalau gitu aku pergi dengan yang lain saja ya
bohong
kamu selalu ingin terlihat baik-baik saja, anak perempuan kecil?
untuk apa?
apa perasaan sakitmu mereda?
tai, kenapa kamu selalu menjaga perasaan orang-orang tapi diri kamu sendiri pecah berserakan
sinting, dahiku makin panas
hssssh, hari ini pingin menangis dan memaki serampangan

Kamis, 25 Januari 2018

Untuk adikku

Jam lima pagi. Saya nggak bisa tidur. Saya kepikiran adik saya. Dia sudah berada di penghujung tahun ketiga, sebentar lagi dia akan menemui banyak ujian supaya bisa keluar dari sekolahnya. Sore tadi saya ngobrol dengan anak itu lewat pesan online whatsapp, bertanya ingin melakukan apa sehabis lulus. Dia jawab mau kuliah, saya bertanya lagi mau ke mana dia, dia bilang jurusan X, dan saya tertegun sebentar. Saya sama sekali tidak membayangkan adik saya akan berminat pada jurusan tersebut, hal lain adalah karena jurusan itu tergolong sangat mahal dengan waktu studi yang cukup lama. Perguruan tinggi yang dia pilih juga tidak main-main, jauhnya melampaui kota yang sekarang saya tinggali, ratusan kilometer dari rumah.

Saya bertanya lagi, apakah ibu bapak menyetujui pilihannya untuk kuliah di jurusan yang dia sebutkan tadi, anak itu membalas tidak, dan dugaan saya benar ketika persoalannya adalah di biaya. Saya nggak sedang menatap raut bocah itu, tapi saya bisa merasakan kalau mungkin hatinya gusar dan ia pun kelimpungan memikirkan urusan pilih-memilih jurusan itu. Pasalnya, dia masih begitu muda, belum punya pendapatan apapun, mana bisa dia kuliah tanpa mengandalkan uang dari orangtuanya?

Saya lalu mengganti room chat dan mengirim pesan kepada ibu, memberitahunya kalau bocah itu ingin kuliah di jurusan X. Ibu menjawab tidak sanggup, tidak ada sepuluh menit setelah pesan saya terkirim. Biayanya terlalu banyak, untuk ukuran bapak dan ibu yang bukan konglomerat dan dari keluarga ningrat, mereka menolak kalau biaya sebuah pendidikan harus semahal itu. Bapak ibu keberatan, mbak, begitu katanya. Saya berdesir membacanya.

Saya beralih pada adik saya lagi, bertanya soal peluang jurusan yang lain, barangkali anak itu hanya sedang gegabah memilih jurusan sehingga dia asal melontarkan jawaban ingin kuliah di jurusan X. Adik saya pintar menggambar, pandai membuat ilustrasi menggunakan berbagai aplikasi software, pengalaman organisasinya bagus, dia juga pandai berbaris, dia punya daya tahan tubuh yang baik, saya yakin dia punya kesempatan untuk memilih banyak jurusan yang dia minati. Mungkin asal bukan jurusan X. Tapi setelah saya bicara panjang lebar pun, anak itu masih kebingungan, dia seperti ngeblank begitu bapak ibu berkata tidak. Betapa urusan perkuliahan ini menjadi hal yang begitu memusingkan. Kamu harus bertaruh dengan banyak hal untuk satu bangku di jenjang pendidikan lain setelah lulus. Perkuliahan adalah awal yang mendebarkan untuk anak-anak muda seperti kamu, selama waktu ini, kamu harus terus jadi kuat, jangan sampai tersingkir atau kamu akan mati. Kalau memang sistem yang membuat kamu tersingkir, kamu harus coba lawan kembali.

Dik, semangatlah, kalau memang perlu menangis, menangislah. Bicara baik-baik pada bapak ibu, sampaikan apa yang sebenarnya kamu mau dan dengarkan apa yang sebenarnya bapak ibu mau. Kamu nggak tahu betapa seringnya dulu mbakmu ini beradu argumen dengan mereka, sampai berakhir dengan membanting pintu kamar dan menangis semalaman hanya supaya mereka mau mengijinkan mbakmu ini kuliah di jurusan yang mbak ingin. Maaf kalau mbak ragu dengan keputusan yang sedang kamu ambil, begitu pun bapak ibu, tapi semoga kamu mau berjuang dengan gigih untuk apa-apa yang ingin kamu capai.

Jangan berhenti, kamu akan melewati banyak hal, kamu akan tumbuh dengan baik. Mbak berdoa tulus untuk seluruh mimpi-mimpi kamu.

Kamis, 18 Januari 2018

Kaleidoskop 2017: Menjadi perempuan merdeka di perantauan (bagian 2)

April dan Mei rasanya menyenangkan kalau diingat-ingat. Selain menyibukkan diri dengan ikut organisasi, jadi relawan sosial, ikut demo di depan kantor gubernur, bikin screening sama klub film di kampus, nyempet-nyempetin diri ke hall teater karena sedang ribet pementasan, saya juga melakukan kegiatan internship alias magang pada sebuah proyek film yang sewaktu itu akan dirilis pada bioskop komersial. Film ini adalah jalur alternatif yang digarap secara militan oleh filmmaker lokal, keluar-masuk berbagai festival film di luar negeri dan menyabet banyak piala penghargaan, dua kali diputar di JAFF hingga tiket penonton ludes berkali-kali, lalu akhirnya berhasil mendapat ruang yang lebih popular untuk disajikan ke penonton, yakni bioskop komersial. Film Ziarah! Saya pernah menulis pengalaman berharga saya ini pada postingan panjang sekitar bulan Juni tahun lalu, silakan langsung ditengok saja dengan menilik lewat arsip blog! Periode magang saya berlangsung antara bulan April-Mei bahkan hingga Juni pada divisi Distribusi Film, dan saya khusus mengampu Social Media Officer.

Ah ya allah sampai lupa! Di bulan Mei ini saya juga diberi kesempatan baik untuk riset kecil-kecilan di sebuah panti wredha daerah Giwangan untuk tugas mata kuliah Etnovideografi. Sebenarnya sudah dari bulan-bulan yang lalu sih persiapan saya bersama tim untuk ke sana, tapi seingat saya memang kunjungan rutin kami berakhir pada bulan Mei. Kami sering sekali berkunjung ke panti tiap weekend atau menyempatkan di hari-hari sebelum kami berangkat kuliah. Simbah-simbah di sana sangat ramah, dan juga pencerita yang baik. Saya bisa duduk berjam-jam di samping mereka hanya untuk mendengarkannya bercerita, soal masa mudanya, soal cerita keluarganya, dan hal tersebut bisa mereka ulang sampai berkali-kali, sampai saya hafal dialognya. They are really nice, dan saya selalu punya perasaan magis tiap kali bertemu dengan para lansia. Saya suka sekali kalau sudah menjabat tangan rentanya dan melihat kerut di wajahnya ketika tersenyum. I think I have talked about it many times, soal kecintaan saya pada tiyang sepuh tersebut. Apalagi saya dipertemukan dengan tokoh Mbah Sri di Film Ziarah, wuih, semakin besar lah tingkat kekaguman saya pada mereka.

Juni masih sibuk merayakan Ziarah, ngampus untuk kuliah dan organisasi, ke hall teater meski cuma sekadar nongkrong dan ikut latihan, juga wara-wiri ngajar secara sukarela pada komunitas tertentu. Bedanya, Juni jadi bulan yang istimewa karena sedang Ramadhan vibes! Banyak hal baru yang saya lakukan pada bulan baik ini, seperti mencoba merajut, nonton pertunjukan Sisir Tanah di Teater Garasi, nonton kolaborasi indah antara Mbak Lani dan Sekar Sari (dua seniman Jogja yang saya kagumi), belajar meracik jamu, wisata religi ke masjid-masjid besar (dan kuno) di Jogja, serta banyak hal lain. Saya juga pernah merangkum ragam aktivitas saya selama bulan Ramadhan tahun lalu, silakan diintip saja dengan menuju ke arsip blog!

Juli sangat menenangkan karena saya diberi kesempatan untuk merayakan Hari Raya di rumah, bersama keluarga dan orang-orang baik di kampung saya. Alhamdulillah dan bersyukur sampai pol. Karena rasanya begitu nyaman kembali ke sangkar setelah menjadi capek berbulan-bulan di kehidupan luar. Akhirnya saya pulang, akhirnya rumah.

Pertengahan Juli juga masih menjadi bulan yang menyenangkan. Sehabis lebaran, saya sempatkan kembali lagi ke Jogja meski waktu libur masih tersisa lama. Saya naik kereta dari stasiun Purwokerto menuju Lempuyangan pada pagi harinya, lalu menonton pertunjukan teater berjudul Gejolak Makam Keramat di PKKH UGM pada malam harinya. Iya, demi nonton pentasnya ibu-ibu penyintas 65 yang terhimpun dalam kelompok Teater Tamara (Tak Mudah Menyerah). Mereka adalah bekas tahanan politik (tapol) peristiwa 1965 dari Plantungan, Ambarawa, Bulu, dan lain-lain. And guess what, ini adalah pertunjukan teater pertama yang mampu membuat saya terkesima, bahkan sampai menangis. Pengalaman menyaksikan ibu-ibu itu melakukan pertunjukan akan selalu menjadi pengalaman yang tak ternilai bagi saya, it was really a most heartwarming performance. Saya bersyukur sekali bisa diberi kesempatan untuk terlibat di dalamnya.

Masuk ke bulan Agustus? Saya ngapain ya? Sepertinya bulan ini tergolong selo, karena saya nggak lagi turut serta dalam euforia penyambutan mahasiswa baru di kampus. Saya nggak jadi panitia ospek di fakultas maupun universitas, soalnya tahun lalu sudah pernah, begitu alasan saya ketika ditanyai teman-teman. Bulan ini juga merupakan bulan sakit hati terbesar saya. Kayaknya saya jadi sering banget bersedih pada bulan ini, entah karena masalah cinta-cintaan, maupun urusan klasik lain. Selain itu, Agustus menjadi bulan penolakan saya untuk beberapa hal; salah satunya adalah terlibat dalam suatu festival seni besar di Jogja. Saya sudah trying my best sampai berkali-kali ke Jogja meskipun masih sedang liburan di rumah, dan saya tetap ditolak. Anehnya, rasa sakit ditolak itu seperti menggumpal dan siap meledak. Saya muak banget rasanya, akibat sudah sering sekali saya ditolak di mana-mana. Meskipun begitu, saya masih tetap datang ke festivalnya sih, beli totebag, jajan makanan, dan nonton band-band lokal Jogja manggung. Selain itu saya juga masih mengurus kuliah, kegiatan organisasi kampus, volunteering di komunitas sosial (buka lapak jualan di pekan seni), juga jadi penanggungjawab Gelanggang Expo untuk stand Teater Gadjah Mada. Lagi-lagi jadi PJ setelah tahun lalu sudah, just because “Hamima aja, kan dia setprop (setting properti).” Eek kadal.

September! Bulan ulangtahun Ibu saya! Bulan ini jadi bulan yang dipenuhi refleksi akan diri saya pribadi. Saya jadi sering melakukan perjalanan hanya untuk berkontemplasi dan mengarungi diri, memikirkan hidup yang sudah sembilan belas tahun dan berpikir macam-macam. Saya pergi ke pantai, ke bukit-bukit megah, ke jalanan entah yang kanan-kirinya cuma terpampang sawah, ke air terjun, ke museum, pasar tradisional, toko buku seorang diri, ke pertunjukan-pertunjukan teater, nonton konser, beragam pameran seni dan festival, hanya untuk mencari tahu diri saya sendiri, tapi saya masih belum juga pergi ke gunung. Nggak tahu ya, mungkin karena belum dipertemukan kesempatan untuk naik gunung, atau memang saya yang secara badan belum siap, meskipun jiwa saya sudah meraung-raung ingin sekali naik gunung.

Bulan September juga membuat saya kembali aktif belajar gamelan bersama suatu kelompok karawitan bernama Sekar Jindra, yang isinya memang cewek-cewek Antropologi dari lintas angkatan. Kami tampil di pernikahan seorang alumni Antro, mengiringi nganten tersebut dengan gamelan jawa yang kami mainkan. Saya lagi-lagi bertemu dengan Mbak Lani yang ikut nggamel ke dalam tim, beliau memang nggak ikut latihan di hari-hari sebelumnya, jadi ketika melihat beliau tiba-tiba ikut tampil bersama kami ya wajarlah kalau saya kemudian jadi kaget, sekaligus senang. Hehehe.

Selain itu saya juga bertemu banyak orang-orang keren di bulan September. Kayak misal ketemu Wregas dan Ghyan pada saat talkshow perfilman di lol.yk, terus Kadekarini dan Febrian yang mencerahkan saya soal dunia travel blogging pada event yang sama di lol.yk, terus saya juga sempat ikut workshop dari komunitas Lab Laba Laba soal pita film seluloid di Festival Arsip, nonton Mbak Lani manggung, juga band-band favorit saya konser. September kenyang lah!

Masuk bulan Oktober giliran saya yang ulangtahun. Menyambut usia dua puluh, saya banyak ikut kegiatan baru, kayak Jogja Berkebun dan bertemu dengan pengetahuan soal urban farming, istilah-istilah pertanian, permakultur, healthy food lewat veganisme, dan lain sebagainya. Saya juga magang di salah satu media lokal Jogja, jadi reporter berita, belajar meliput dan bikin narasi yang bagus. Saya nggak paham, meski sudah masuk antro dan melupakan jurusan komunikasi sejak kelas 2 SMA lalu, saya masih selalu punya keinginan untuk kerja di media journalism. Selain itu, saya juga melibatkan diri pada acara inisiasi antro di Jakal atas (meskipun tidak begitu intens). Yang jelas, Oktober membuat saya punya banyak kawan baru yang baik.

November super hectic dan lumayan kacau karena sepertinya kegiatan saya sangat padat di bulan ini. Saya masih kuliah (dan mulai masuk minggu UAS yang chaos), masih mengurus organisasi kampus (dan sedang spaneng LPJ-an), masih magang di media lokal jogja (dengan semangat yang naik turun karena kadang-kadang saya nggak suka sama penugasan dan topik liputannya), masih volunteering anak-anak (meskipun lebih suka menghilang), sedang menggarap proyek pementasan Teater Gadjah Mada yang dilangsungkan di Desember awal (silakan ditebak saya berkutat di bagian apa, ya jelas setting properti lah!), dan dapat kerjaan baru mengurus festival film yang digalakkan oleh Dinas Kebudayaan. Kerumitan itu sebenarnya masih belum semua, saya masih punya tetek-bengek kecil yang kalau dijabarkan nggak akan ada habisnya. Tapi senangnya, November jadi saksi di mana akhirnya saya bisa nonton penampilan Tetangga Pak Gesang yang saya cintai dan saya sayangi pada malam pembukaan Biennale, bonus nonton mas Jason Ranti juga.  Saya juga berkesempatan mengerjakan proker kementerian organisasi kampus saya yang terakhir yakni Sekolah Media! Rasanya sumpah, melegakan sekaligus meredakan. Kayak pingin nangis setelah proker tersebut terealisasi, pun dengan LPJ-LPJ yang sudah selesai di hari sebelumnya. I’m done with it, tapi belum tuntas sih, karena masih harus LPJ-an dengan internal organisasi dan fafifu pergantian jabatan. 

Dan November masih jadi bulan yang menyedihkan. Iya, lagi-lagi saya ditolak pada suatu event seni besar di Jogja, sampai saya nggak tahu harus bicara apa lagi pada diri sendiri, saking sudah seringnya ditolak, saking sudah seringnya menelan kepahitan hidup. This is suck, but I am okay anyway. Hidup masih terus jalan.

Akhir tahun! Astaga nggak menyangka sama sekali 2017 berlalu secepat itu. Kalau November jadi bulan yang super hectic dan kacau, maka Desember berada di satu tingkat lebih parah dari November. Yup! Bulan ini saya digempur habis-habisan. Tapi saya tetap chill karena tahu itu semua pasti akan berlalu, saya cuma perlu melewatinya saja. Awal bulan semakin panas karena pementasan teater dengan tajuk ‘Kupu Kupu’ (reformasi naskah Kapai Kapai-nya Arifin C Noor) akan berlangsung pada tanggal 7 dan 8 Desember. Setiap hari pulang pagi, setiap hari rapat produksi, begitu terus sampai selesai pertunjukan dan kami semua bikin lingkaran evaluasi di depan panggung. Saya juga banyak datang ke JAFF untuk bikin liputan berita, menonton banyak screening film-film bergizi dan merenung sesudahnya. Garapan UAS yang tak kunjung usai juga menguras lumayan banyak tenaga saya, setelah selesai bepergian ke sana-ke mari, malam larutnya barulah saya mulai mencicil mengerjakan paper-paper tersebut, dan baru bisa tidur menjelang subuh. Literally subuh. Di sela-sela ujian tersebut, saya masih sempat ikut kepanitiaan di FFPJ (Festival Film Pelajar Jogja) divisi Program, untungnya festival tersebut hanya berlangsung selama dua hari, kalau sampai seminggu seperti JAFF maupun FFD, bisa tewas lah saya di tengah kespanengan mengurus banyak hal.

Desember juga jadi bulan-bulan LPJ mewabahi semua kegiatan-kegiatan kampus yang saya ikuti. Kalau bentuk LPJ di November masih berupa masalah admnistrasi seperti laporan kegiatan dan keuangan ke pihak kampus, Desember berbentuk laporan kerja yang disampaikan kepada publik secara langsung, beserta evaluasinya sisan. Saya LPJ-an dua kali di bulan ini, satu urusan Teater Gadjah Mada (membawahi divisi PSDM), dan lembaga eksekutif saya di Kementerian Media. LPJ-an TGM juga dibarengi dengan mengkaji AD/ART dan pemilihan ketua baru, jadi agendanya menguras waktu dan tenaga banget dari malam sekitar pukul sembilan sampai keesokan harinya pukul tujuh pagi. Tewas? Jelas. Tapi perasaan lega yang didapatkan setelahnya sungguh tak tertandingi oleh apapun. 

Tentunya masih ada sesi penolakan lagi di bulan ini. Saya nggak mau secara eksplisit menjelaskan detil ceritanya, tapi saya akan bilang kalau saya ketolak KKN, sampai dua kali. Menjelang semester 6 memang menjadi periode yang sengit untuk persoalan KKN. Semua orang nampak berlomba-lomba membentuk tim KKN yang yoi dengan mengagung-agungkan potensi daerah. Esensi bekerja untuk masyarakat jadi kelihatan hilang. Baru pertempuran awal saja saya sudah kedepak oleh sistem. Bagaimana rasanya? Wo, ya ndak perlu ditanya, saya sudah kebal sekali dengan hal-hal semacam ini. Saya sudah di luar batas muak dan sudah mencoba legowo sekali. Santai saja lah, penolakan bukan akhir segalanya. Saya masih bisa bersenang-senang setelah ini.

Bersenang-senang itu saya wujudkan dengan melakukan perjalanan ke Jepara bersama teman-teman cewek antropologi menaiki kendaraan motor! Menyusuri Jogja, Semarang, Demak, Jepara, dan melipir ke perbatasan Pati. Perjalanan ini tentunya menjadi penutup 2017 saya yang sangat crowded dan melelahkan. Saya bersyukur sekali akhirnya saya selesai dengan banyak hal. Saya sudah menyelesaikan banyak hal. Dan Jepara jadi reward yang paling menyenangkan. Saya banyak melihat lalu-lalang kapal dan perekonomian nelayan di sini, merasakan kehidupan kota kartini yang masih asri dan elok, mengalami banyak pengalaman seru, menemukan hal-hal baru yang membuat saya bisa berefleksi dan merenungi diri.

So, this is why I called my self as ‘perempuan yang merdeka’. Saya merasa di tahun 2017 lalu, I can do anything that I want. Tidak ada paksaan dari siapa-siapa, tidak ada tekanan untuk mengerjakan hal lain yang tidak saya suka (kalaupun ada, biasanya saya memilih untuk hengkang). Saya murni jadi diri saya sendiri, murni karena memang ingin belajar banyak hal. Jatuh tersungkur, sakit, putus asa, pasti ada, karena itulah hidup. Tapi memacu diri untuk terus bergerak dan melakukan kebaikan adalah tantangannya. Melakukan kilas balik setahun kemarin seperti ini rasanya sungguh melegakan, saya nggak sadar telah melewati itu semua. Teman-teman mungkin hanya membaca part-part yang memang menyenangkan saja, tanpa tahu kalau sebenarnya saya pun banyak merasakan kesedihan di tahun kemarin. Dua hal itu yang kemudian membentuk diri saya lebih baik lagi, untuk terus belajar dan berkarya, tanpa membenci dan menyakiti orang lain.

Saya juga bersyukur karena bisa tumbuh di lingkaran orang-orang dengan kegemaran terhadap hal-hal yang sama, rasanya menyenangkan. Saya punya banyak teman yang saling mendukung dan mendengarkan, meski saya berada di kondisi terjelek sekalipun. I am really grateful for these blessing. Hidup ini enak sekali, Tuhan.

Mendiang Ibu Anna, dosen antropologi saya yang awal Januari lalu menghadap Tuhan, pernah berkata, dalam suatu kelas gender. “Selamat untuk kalian, perempuan-perempuan yang sekarang berada di kota orang untuk kuliah. Kalian ini sedang merayakan kemerdekaan kalian sebagai perempuan. Merdeka dari stigma tentang peran domestik, juga merayakan kesetaraan hidup.”

And my heart is touched. Saya mendadak seperti punya keberanian baru untuk hidup.

Saya sadar karena kata-kata itu bukan hanya berdampak pada saya saja, tapi pada seluruh teman-teman perempuan di bumi ini yang menggunakan waktunya untuk belajar di luar lingkungan tempat tinggalnya, jauh dari keluarga dan saudara, melepas diri di tanah asing lalu membaur dan mencoba hidup di lingkungan barunya. Perempuan-perempuan di perantauan, saya salut dan menaruh kagum untuk kalian di manapun kalian berada, yang sedang berjuang dan menjadi harapan baik untuk orang-orang yang disayangi. Bersabarlah, semoga kalian sehat-sehat selalu, teruslah hidup dengan benderang dan menjadi beranilah. Kalau kalian sedang dipertemukan dengan kesempatan baik untuk pulang, satu pesanku; pulanglah. Keluarga hangat kalian merindukanmu di rumah.

Peluk hangat,
Hamima 
my kind of happiness (volunteering)
nonton Silampukau di urban gigs
mengobrol dengan mantan srimulat jawa timur di panti wredha. saya sempat diberinya cincin akik warna merah. nuwun, mbah :)
dialog dini hari bersama teman-teman Teater Gadjah Mada. kayaknya ini sudah jam satu pagi
teman-teman Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) selesai rapat


ibadah rohani paling menyenangkan; nonton teater
konser terbaik saya!!!!!!!!! (sheila on 7 with loovee)

Selasa, 16 Januari 2018

Kaleidoskop 2017: Menjadi perempuan merdeka di perantauan (bagian 1)

 
Merdeka dalam arti kita berdiri di atas kaki sendiri, jadi kendali penuh atas pilihan-pilihan dalam hidup, berani dalam memutuskan sesuatu, bebas dan tidak tunduk pada kuasa orang lain, apalagi termakan oleh pengaruh-pengaruh jelek di lingkaran kita. I mean, ini hidup kamu, dan kamu lah yang sedang menjalaninya.


2018 menjadi tahun ketiga saya hidup jauh di dataran provinsi DIY dan sekitarnya, although only 169 kilometers away dan dengan jarak tempuh 3 sampai 4 jam. Bagi saya hal itu sudah jadi pencapaian baik untuk saya bisa keluar dari zona paling nyaman; rumah, keluarga, tempat tinggal saya desa Lemberang yang tenang, dan juga orang-orang baik di sekeliling saya. Setidaknya saya sedang melatih diri untuk survive dengan mencebur ke dalam lingkungan yang multikultur, pada keadaan yang tidak segalanya berporos pada kita, pada dataran bumi yang lebih luas lagi. Karena kalau saya cuma berada di dalam tempurung, takut melongok ke luar, menutup diri dari kesempatan-kesempatan baik, saya jelas akan rugi banyak hal. Saya cuma akan diam dan berputar-putar dengan isi kepala, tanpa membebaskannya, tanpa menumpahkannya, tanpa mau melihat kalau sebenarnya kehidupan ini begitu kaya dan beragam, akan banyak hal. Lagi-lagi; banyak hal.

Saya jelas masih mengingat alasan saya memutuskan untuk merantau setelah lulus SMA: saya ingin merasakan tinggal di luar rumah, dan cara untuk merealisasikannya kemudian adalah dengan kuliah. Kenapa kuliah? Ya dengan cara apa lagi saya bisa mewujudkan keinginan itu selain mengikuti sistem yang berlaku di Indonesia ini? Habis TK ya SD, masuk SMP, lalu SMA, lanjut Perguruan Tinggi-Bekerja-Menikah-dan entahlah tahapnya apa lagi. Kecuali kalau kamu punya keahlian mumpuni, kecerdasan luar biasa, atau keluarga ningrat dan konglomerat, yang membuat kamu tidak perlu capek-capek melakukan hal lain. Karena SMA saja saya tidak punya keterampilan apa-apa, jadi ya begitu lulus kegiatan yang selanjutnya saya lakukan adalah sekolah lagi lebih tinggi. Untungnya, dengan saya kuliah, saya bebas pilih jurusan apapun yang saya mau, jadi saya tidak perlu lagi repot-repot belajar matematika, fisika, kimia, biologi, dan bidang-bidang lain yang sama sekali nggak menarik perhatian saya. Saya bahkan hobi mempermalukan diri saya sendiri dengan berkali-kali remidi dan gagal dalam mata pelajaran saintek tersebut, astaga, terima kasih SMA, saya blasss lupa sama sekali dengan materi hitung-menghitung sampai angkanya tak terhitung lagi, rumus-rumus yang ada xyz-xyznya, unsur-unsur senyawa yang tak pernah saya ketahui bentuknya, nama sel anu, organisme anu, anu anu anu. Saya payah, buktinya teman saya yang lain oke-oke saja dan malah begitu menikmati. Dari situ saya tahu, mereka menikmati, sementara saya tidak.

Pilihan jurusan kemudian jatuh kepada Antropologi Budaya. Saya lalu membongkar banyak website dan platform online di internet untuk mencari tahu di mana saya bisa kuliah Antropologi Budaya. Hasilnya adalah beberapa universitas terkemuka di Jawa yang jadi top ranking. Ada UI, UGM, Unpad, Udayana, UB, Unair, terus entah deh di mana lagi. Pilihan saya kemudian jatuh pada UGM yang berada di Jogja. Kalau tanya alasan, saya akan jawab dengan mantap; di Jogja kegiatan kesenian dan budayanya rame banget, nggak seperti di Purwokerto. Sudah itu saja cukup, silakan diinterpretasi sendiri-sendiri.

Awalnya memang keinginan saya untuk kuliah di luar kota ditentang habis-habisan oleh keluarga, terutama Bapak. Saya pernah menulis di postingan sebelumnya kalau Bapak itu orangnya sangat konservatif, apalagi untuk urusan-urusan yang menyangkut dengan anak perempuannya. Tidak aman lah, bahaya lah, dan segala justifikasi dijadikan alasan Bapak. Tapi karena saya juga tidak mau mengalah dan merasa punya hak atas keputusan yang akan saya jalani (meskipun support dana masih ditanggung 100% oleh keluarga), lama-lama Bapak meleleh juga karena sepertinya beliau betulan sadar kalau step hidup setelah lulus SMA ini sepenuhnya ada di tangan saya. Voila, juga berkat doa Ibu yang manjur, saya kemudian kuliah antro di Jogja, ngekos dan hidup jauh dari lingkungan tempat tinggal. Alhamdulillah!

Senangnya jadi perantau adalah saya bisa bertemu dengan manusia yang punya latar belakang budaya berbeda, keyakinan akan hal-hal yang berbeda, perspektif dan tata nilai yang berbeda, juga melihat dinamika hidup yang berbeda pula. Rasanya really interesting berada di masyarakat yang majemuk, kita akan mendapat banyak pengalaman dan pemahaman yang baru, yang kemudian membuat kita jadi pribadi yang open minded, terbuka dengan segala bentuk keragaman, lalu kita akan diantar pada sikap saling menghargai dan menyayangi sesama. Tidak ada kebencian dan kejahatan yang ditularkan, tidak boleh merasa paling-paling, tidak boleh merendahkan kelompok lain, no way. Pokoknya, merantau sama dengan melihat banyak hal yang akan memperkaya sudut pandang.

Saya pun bersyukur, karena antropologi juga studi yang berbasis pada catatan-catatan etnografis, yang didapat dengan cara melakukan penelitian lapangan, terjun ke kelompok masyarakat tertentu, live in selama beberapa waktu, menyelami sistem kebudayaan dan tatanan perilaku anggota kelompok, menjadi pengamat sekaligus ikut membaur. Esensinya adalah saya harus sering-sering keliling dan melihat sekitar, entah dengan penelitian lapangan maupun juga dengan membaca (jurnal-jurnal, artikel ilmiah, paper penelitian). Soalnya memang nggak cukup kalau hanya menelan banyak teori dan omongan-omongan dosen tanpa melihat dimensi sosial di luar, tanpa melihat orang-orang saling bersinggungan antar sesama. Jadi seru banget lah kalau sudah keluar untuk penelitian lapangan.

Jadi kalau bisa diakumulasikan, menjadi perantau sama dengan menjadi anak antropologi, karena kami sama-sama bisa melihat banyak keragaman, yang tercermin lewat sistem kebudayaan masing-masing kelompok.

Tulisan ini akan jadi semakin panjang karena saya akan mengilas balik satu tahun kemarin, perjalanan selama di tanah rantau yang membuat saya sungguh-sungguh bersyukur untuk segala hal yang dihantarkan Tuhan di dalam hidup. Tahun kemarin saya cukup banyak menempa diri dengan berbagai kesempatan baik. Hal itu tentunya nggak semerta-merta saya dapatkan dengan bergelung selimut di kasur atau duduk manis di ruang kelas. Saya menghabiskan waktu dengan terus berpergian ke berbagai tempat untuk menemukan kesempatan-kesempatan baik itu. Saya lagi-lagi mencoba untuk melihat banyak hal dan menceburkan diri ke dalamnya, menjadi basah bersamanya.

Januari, dan bulan-bulan sebelumnya di tahun 2016, menjadi bulan persiapan saya untuk mementaskan pertunjukan teater berjudul ‘Kemalingan’. Saya mengepalai bagian setting properti yang saya kerjakan bersama Hening, teman dari jurusan filsafat, dan hanya kami berdua –perempuan-perempuan cilik. Kegiatan padat tersebut saya selingi dengan menggarap projek sosial di salah satu komunitas kerelawanan yang bergerak di isu anak jalanan, dan hal ini sangat menyenangkan karena saya bisa bertemu dengan teman-teman kecil yang berani, punya daya juang yang hebat untuk bertahan hidup, serta orang-orang baik yang mau meluangkan waktunya untuk menengok kehidupan teman-teman kecil jagoan tadi. Para relawan dan anak-anak adalah kombinasi baik yang manis.

Masuk bulan Februari dan mendekati tanggal pentas, saya semakin hectic mengurus ini-itu di hall teater bersama teman-teman satu tim, sampai seringkali harus pulang ke kos ketika sudah jam 1 atau 2 pagi. Kerja keras kami semua kemudian terbayar ketika akhir Februari kelompok teater kami sungguhan melakukan pertunjukan di gedung IFI-LIP Sagan, menghadirkan kurang lebih 400an penonton dalam waktu dua hari, mengantarkan kami pada tepuk tangan ramai dan riuh seusai pertunjukan. Lega! Perasaan yang didapati setelahnya sangatlah menyenangkan. Apresiasi teman-teman adalah semangat saya untuk bisa terus berkarya.

Februari juga jadi kali pertama saya mengunjungi Solo (setelah sekian lama) bersama teman-teman teater untuk menghadiri sekaligus mengirimkan perwakilan kami dalam agenda festival teater yang dihelat oleh UNS. Saya bermain ke Pasar Klewer, mengitari kompleks keraton, mengunjungi ISI, mencicipi gedung pertunjukan di Taman Budaya Jawa Tengah, dan merasakan banyak perasaan senang. Tahun ini saya akan merencanakan perjalanan ke Solo lagi!

Maret adalah bulan yang sangat mendebarkan, karena saya dititahi amanah besar untuk jadi Menteri Media dalam suatu lembaga eksekutif di kampus. Kaget jelas iya, selebihnya adalah perasaan bingung yang menjalar, mengingat saya belum pernah punya pengalaman organisasi yang straight berbentuk lembaga. Mentok-mentok paling seperti forum komunitas atau kolektif seni begitu. Meski awalnya ragu dan pesimis karena saya cenderung nggak suka dengan sistem kerja mirip-mirip birokrat pemerintahan, tapi toh akhirnya saya mengiyakan ajakan Ibu Presiden yang sewaktu itu menelpon saya malam-malam lewat aplikasi line. Sisan saya nyemplung deh, nyambi belajar organisasi di lembaga yang ngampu fungsi eksekutif di wilayah kampus saya. Fyi, struktur kepengurusan organisasi di UGM memang mengadopsi seperti sistem pemerintahan di Indonesia, yang mana juga memegang kekuasaan eksekutif dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintah sehari-hari. Jadi jabatan resminya ada pada Presiden sebagai kepala tertinggi, lalu dibantu menteri-menteri dalam sebuah kabinet. Kalau eranya Jokowi dinamai Kabinet Kerja, maka di FIB, kampus saya, dinamai Kabinet Teman Dekat. Terdengar ramah dan akrab ya? Soalnya memang itu yang ingin diusung oleh kami-kami –pejabat eksekutif kampus, kami ingin jadi teman dekat bagi seluruh warga di fakultas yang merangkul dalam berbagai aspek, akademik maupun non akademik, pokoknya ranahnya di FIB begitu.
 
Yang jelas, pengalaman satu periode mengarungi diri bersama organisasi mahasiswa tersebut membuat andil besar atas terbentuknya Hamima yang sekarang. I mean, that’s how I grew up. Saya lagi-lagi menerpa diri saya dengan banyak kesempatan baik supaya saya bisa terus tumbuh, berkembang dan menjadi mekar. Because you change as you get older, dan perubahan inilah yang harapannya akan selalu ke arah yang lebih baik, meskipun hanya setitik kebaikan.

April dan bulan selanjutnya akan saya sambung di tulisan berikutnya! Sudah jam satu pagi dan saya mau istirahat dulu, hehe.

Minggu, 31 Desember 2017

Tahun Baru Apanya?

Tahun baru apanya kalau orang-orang masih melupakan cara bersyukur dan nggak sadar kalau ada banyak sekali hal sederhana dalam hidup yang perlu dinikmati?

Saya nggak mau membuat ritus yang aneh-aneh dalam pergantian tahun kalau realitanya itu hanya jadi bentuk citra diri kita di ranah digital internet, supaya orang-orang memandang kita sebagai pribadi yang produktif dengan ide-ide progresif dalam mengusung hari, padahal aslinya kita cuma sedang membuang-buang kuota dan karbon monoksida untuk hal-hal yang embuh, cuma jadi ajang pamer dan tak ada solusi apapun.

Pemikiran itu terbesit ketika pagi tadi saya membaca berita di portal online tentang kotornya jalanan raya dan beberapa kawasan yang dijadikan spot tahun baruan semalam. Asu. Tumpukan sampah plastik dan botol-botol membanjiri seluruh tempat. Itu terjadi setelah ribuan orang yang mungkin matanya sliwer merayakan nu yer nu yer-an dan berpesta pora sampai tengah malam, lalu memproduksi sampah-sampah nggilani yang kalau ditumpuk mungkin akan jadi gunungan maha agung dan dahsyat. Saya nggak sanggup membayangkan ketika setiap orang membuat 3-5 sampah sehari, sementara pada malam tahun baru itu, semua orang di Indonesia seperti tumpah di suatu tempat. Hm, hal itu mungkin bisa dijadikan ladang rejeki bagi para pemulung, tapi tetap, alasan ini nggak bisa dipakai untuk menutupi kelengoban orang-orang yang malam tadi merayakan tahun baru dan menelurkan banyak sampah. Andai saja masing-masing dari kita mengantongi sampah milik pribadi, lalu mengumpulkannya di titik-titik tertentu, saya yakin, hari ini petugas-petugas kebersihan yang bekerja pasti akan sangatttttttttttttttttt terbantu sekali, jalanan juga pasti tidak akan hancur-hancur amat, ha ini, sudah hancur, tidak berbentuk lagi akibat ditutup muatan sampah.

Saya nggak melarang momen perayaan tahun baru ini, karena pasti momen ini juga dipakai untuk berkumpul bersama keluarga, liburan bersama teman, atau sekadar berefleksi dengan diri sendiri. Tapi saya jadi jengah kalau cara orang merayakan peristiwa tersebut malah jadi ajang perusakan lingkungan dan merugikan pihak-pihak tertentu, apakah kalian waras atau memang sedang konslet sih? Apakah susah menumbuhkan sikap peduli dan aware terhadap hal lain di bumi ini? Merasa hidup sendiri ya?

Pagi ini saya sudah cukup bersyukur karena bisa bangun pagi akibat diganggu Ibu yang berisik dan kelimpungan soal radionya yang tidak bisa dinyalakan, lalu menjemur pakaian di halaman samping rumah, mendengar Ibu lagi-lagi berisik memarahi adik yang tak mau makan, menulis resensi film, mengantar Bapak pergi bekerja sampai depan pintu, melihat bebek berbaris lewat di depan rumah, dan sungguh, kalau saya detilkan satu-satu apa saja yang membuat saya bersyukur pagi ini, nggak akan selesai sampai adik saya tamat sekolah. Lalu, mau pakai alasan apa lagi kalian mengkufuri nikmat-nikmat ini?

2018 saya cuma mau jadi orang baik. Itu saja sudah mewakili banyak hal, karena menjadi baik akan mengantarkan kita pada hal-hal yang baik pula. Terus jaga saya, Tuhan...

Tapi tetap terimakasih banyak kepada komponen alam raya untuk 2017 ke belakang. Saya telah banyak menjadi mekar dan berkembang, menempa diri terhadap hidup yang lika-liku, belajar berkarya dan berefleksi macam-macam, melakukan perjalanan dan membawa diri menekuri kisah-kisah, mencintai kekurangan dan mencoba legowo atas apapun, membuka banyak perspektif dan cara pandang baru untuk banyak hal di muka bumi, pun dengan kesedihan-kesedihan yang membuat terpekur lama,  tangis sesal untuk beberapa kesalahan-kesalahan, tersungkur dan lebam akibat merasakan sakit dan kehilangan orang-orang tertentu. Saya harap, segala proses laku tersebut bisa terus saya rasakan sampai nanti Tuhan memeluk saya ke dekapan-Nya.

Salam hangat,
Hamima yang sedang gemar melamun!
sambil menyeduh

What i feel rn

ingin memangkas rambut sampai gundul (but i won't take off my hijab guys, chill)
lalu melakukan perjalanan spiritual
dan menghilang