Rabu, Desember 28, 2016

sebuah upaya pelarian diri

setelah seharian dari pagi sampai malam berkutat di hall teater gelanggang yang kabarnya akan digusur (sumpah sedihnya enggak ketolong, bangunan sakral tempat sehari-hari anak-anak teater bermukim akan dilenyapkan...), esok paginya tanggal 20 desember aku memutuskan untuk minggat ke suatu kota yang jauh dari Depok Slemanku berada, suatu kota di utara pulau Jawa dan sebelahan sama laut Jawa, suatu kota yang asing dan nggak pernah kuinjak lagi setelah berbelas-belas tahun lamanya...

ke Semarang doang padahal. hahahaha.

ini adalah bentuk pelarian diri yang paling dinanti setata-surya! kadang-kadang aku merasa sangat butuh tempat lain selain tanah tempatku kuliah di Jogja dan kampung tempatku pulang di Purwokerto untuk bernapas, aku tuh perlu udara tempat lain untuk membuat waras dan kepalaku dingin, meski Kaliurang atau Gunungkidul sudah berhasil banget jadi penawar sih... terus kan masa aktifku di Jogja sudah ku baptiskan berakhir di pertengahan desember —serentak dengan jadwal ujianku yang kelar dan rapat tetek-bengek lain yang ikutan tamat. dan ketika jatahku di Jogja habis, coba tebak aku akan ke mana? jelasnya ya pulang ke kampung, tapi aku nggak mauuuu. maka dari itu kemudian aku melacur (melayang-layang dan meluncur) di Semarang. kenapa Semarang? kenapa enggak Bukittinggi? Manado? Timika? Pulau Alor? ya jawabannya ada di duit sih, lagian Semarang dekat banget, perjalanan berkisar antara tiga sampai empat jam, dan di sana banyak teman-teman SMA yang bisa ditebengi kos-kosannya untuk tidur (melarikan diri modal hemat).

di Semarang, aku diadopsi oleh seorang teman berpipi besar dari jurusan kesehatan masyarakat bernama Virgi! perempuan itu mengijinkanku untuk tidur di kasur kosnya dan ndompleng bersama motor mio dan helmnya untuk pergi ke tempat-tempat yang nantinya bakal aku kunjungi. untungnya, teman-teman Undip sudah selesai ujian semua, jadi waktu hidupnya Virgi enggak begitu terganggu-terganggu banget dengan kehadiran seorang Hamima yang jatuh tersungkur dari bulan ini, hahaha.

menginjakkan kaki di Semarang, rasanya gimana ya... kaya aneh aja sih soalnya aku benar-benar hidup dengan membawa diriku sendiri dan enggak kenal sama orang-orang yang berada di sekeliling aku. Semarang just same like other places; panas, lalu lintas semrawut, orang-orang berteriak aneh-aneh (posisiku waktu itu di terminal Sukun), pohon-pohon sedikit, dan udara kota masih campur polusi mesin kendaraan berknalpot. ibukota Jateng ini sungguh berisik, tapi di saat yang bersamaan aku merasa begitu akrab dengan kehiruk-pikukannya.

lalu aku dibawa Virgi menuju kosnya yang dekat dengan kampus Undip. perasaanku beda lagi mendadak; aneh, adem, bisa lihat Undip, lihat anak-anak yang kuliah di sana, lihat tempat fotokopian, printer, laundri, burjo, warteg, kopisap-kopisop, swalayan, berkerumun di wilayah kampus. emang norak kan aku aja enggak paham dengan diriku sendiri, semuanya bermodal 'udara Semarang enak juga ternyata kalau dipikir-pikir'.

di Semarang aku cuma hidup selama tiga hari. list tempat yang ingin aku kunjungi sudah kubuat sungguh-sungguh di dalam sketch book (buku gambar yang alih fungsi menjadi buku agenda) di antaranya adalah; pasar-pasar tradisional seperti prembaen, johar, suryokusumo, tambak lorok, bangetayu, randu sari, peterongan, gang baru, karang kembang, dargo (banyak ya!), taman djamoe indonesia, museum jamu nyonya meneer, kota lama, tekodeko koffiehuis (nama cafe), kampung jamu semarang, masjid agung jawa tengah (ingin sholat di sana dan lihat matahari terbenam di menaranya), pagoda buddhagaya watugong, klenteng-klenteng ibadahnya orang Semarang kaya sam poo kong atau tay kak sie, museum ronggowarsito, komplek pecinan, museum muri, semarang art gallery, bahkan ingin juga numpang lewat ke sunan kuning... salah satu lokalisasi di Semarang.

tapi teman-teman.......... aku sedikit sedih karena realitanya aku dan Virgi hanya jalan-jalan di sekitar kota (melihat tugu muda, lawang sewu, mall-mall, yang mana kita harus 'turun' dari wilayah atas dan menempuh sekitar 20 menit perjalanan, ibaratnya Undip ada di atas sedangkan pusat kota peradaban ada di bawah), ke pasar gang baru (melihat ekonomi pasar pada pagi hari, beli bubur sum-sum, liat pertokoan orang cina; melihat babi-babi tergolek tak berdaya dan macam-macam peralatan sembayang), menyusuri komplek pecinan (TAPI AKU SEDIH DI SINI KARENA ENGGAK BISA KE PASAR SEMAWIS! DI SANA JUALAN MAKANAN-MAKANAN PECINAN TAPI KATA VIRGI PASARNYA CUMA BUKA PAS WEEK END DOANG SEDANGKAN INI hari rabu, jadi ya sudah deh aku cuma bisa menangis dalam hati), terus kita ke kota lama (biasa, harus menunaikan ibadah wisata sajyaratun) mampir ke pasar klitikan barang seni yang dihelat oleh paguyuban Padang Rani (pedagang barang seni) dan mendapati barang-barang aneh super lawas yang dijual, nemu lukisan yang dikasih harga jutaan rupiah, beli es teh sambil jalan kaki melihat-lihat sekitar, foto-foto, duduk di depan warung orang sambil bengong ngeliatin jalanan, mampir ke semarang art gallery dengan harga tiket ceban dan cari angin di dalam, ke pagoda buddhagaya malam-malam dan mengendus-ngendus di depan dupa (ingin beli dupanya tapi duitku jatahnya untuk makan), ngefoto bapak dan ibu yang sedang ibadah, ke kedai kopi hitssss di Semarang, having a lunch di Toko OEN yang atmosfirnya kolonial abis (lihat sejarahnya di http://tokooen.com/en/history_of_toko_oen) dan super mehong tapi aku cuma pesan cappucino late panas dan roti isi keju di sana hahahaha. aku juga main sama teman-teman SMA yang kuliah di Undip (they were so friendly! thanks aniwei!), dan jadi sedikit hapal jalan-jalan kecil di sekitar kos Virgi karena sering banget sebentar-sebentar keluar buat cari makan di warteg. kamis sorenya pukul lima, aku kemudian berpulang ke Purwokerto karena orang rumah sudah edan marah-marahnya nyuruh pulang padahal baru tiga hari aku minggat, tapi juga karena duit sudah makin tipis dan enggak enak mengganggu kehidupan Virgi terus, aku beneran pulang sore itu, naik Kamandaka dan menghabiskan uang sembilan puluh ribuku yang berharga. 

thankssss maksimal untuk Virgi jagoanku yang telah berkorban seluruh jiwa raganya untuk membantuku memenuhi nutrisi rohani dengan melalang-buana di kota Semarang. mudah-mudahan Tuhan selalu banjiri kebaikan-kebaikan di hidup Virgi! aku kenyang secara jiwaaaa!

oh ya, dalam perjalanan menuju rumah, aku cuma menghabiskan waktu di kereta dengan melamun,


untung tidak ada bumbu-bumbu air mata.

Kamis, Desember 22, 2016

menghabiskan jatah desember di jogja

adalah dengan mengerjakan banyak paper penelitian maupun review jurnal dalam rangka hari besar ujian akhir semester.

 ibadah rohani seperti mengunjungi pameran seni atau festival masih tetap berlangsung tapi mendadak harus tertelan bulad-bulad karena tiga mata kuliah terakhir; Etnofotografi, Etnografi NTT, dan Antropologi HIV/Aids membuatnya tidak tidur berhari-hari dan kering kerontang akibat terlalu banyak konsumsi kopi. matanya pun sudah seperti spanduk lecek bertuliskan 'rumah dijual' yang dibiarkan kosong oleh penghuninya selama satu dasawarsa, setiap malam menajamkan pandangan di depan layar inchi dan membual entah di atas papan ketik demi melahirkan berlembar-lembar paper siap tumpuk. baru selesai menjelang subuh, kedinginan tapi kepala pusing, mengantuk berat di sela-sela merapikan margin dan page layout, baru tidur antara pukul enam sampai tujuh, kemudian lapar, dan pukul sembilannya harus cabut ke kampus untuk menyerahkan hasil kerja keras satu malam suntuk.

hamima adalah seorang dateliner kelas kakap dan dia tidak pernah tahu bagaimana cara mengatasi hal tsb, satu-satunya yang dia paham adalah bagaimana satu-dua cangkir kopi hitam yang mengepul panas bisa membantunya merapikan pekerjaan, and she did well. she did fucking well. jancok.

jatahnya di jogja juga mulai mendekati masa tenggang. setelah ujiannya selesai pada jumat pagi, sorenya dia harus menuntaskan pekerjaan yang lain: nukang di pementasan jurusan bernama Wayang Antro, merekatkan diri dengan cat tembok dan gabus mudah tertiup. lalu malamnya sekitar pukul sepuluh meluncur ke Jalan Turi untuk menghadiri rapat besar teman-teman teater dan melekkkkkkk sampai subuh, sampai pukul tujuh pagi, sampai kerongkongan mau muntah karena segala-galanya harus sampai pagi. terus setelah itu dia kemudian pulang ke kos dan tidur sampai sore. sungguh, tidur adalah cita-cita luhurnya yang ingin sekali dia capai, badannya tidak sekuat pekerja lemburan yang membaptiskan diri untuk terjaga semalam suntuk sampai pagi, anak perempuan itu kurus dan dia butuh tidur normal supaya bisa tetap waras, tapi tetap saja; dia masih punya pekerjaan lain dan urusan tidurnya harus terpotong lagi; rapat redaksi suatu jurnal ilmiah kampus, sampai larut malam lagi tapi untung tidak sampai selesai pagi, kabar baik. besoknya anak itu benar-benar mati sehari di dalam kamar kos untuk menyembuhkan diri. bangun malam hari dalam keadaan pusing kepala, lalu mengajak teman untuk nongkrong di kedai kopi dekat stasiun dan mengisi perut yang seharian kosong.

belum selesai, pada pagi harinya dia harus datang rapat produksi teater di gelanggang, lalu ikut latihan tim aktor sampai malam, tapi pamit duluan soalnya beneran enggak tahan dan rasa-rasanya mau muntah. anak itu pulang dan mencari cara untuk pergi dari jogja secepat-cepatnya, tapi karena sudah malam, lapar, mengantuk, kering, mual, demam, dia tidur satu malam lagi di kosnya setelah selesai packing untuk kabur dari jogja keesokan harinya.


pulang karena sudah nyerah

Jumat, Desember 02, 2016

sometimes it just feels really-really wonderful to be alive

    sepulang dari rapat perkumpulan teman-teman berhati baik pegiat anak (di situasi) jalanan, membuka gerbang kos, memasukkan honda beatku ke garasi, masuk kamar dalam keadaan nyeri kepala, dan menjeklek saklar lampu, aku seketika memekik dalam hati:

    "ayo bersih-bersih!"

    lalu berlari ke kamar mandi dan membasuh wajahku dengan air kran yang dingin. let's do the things that must be resolved, soal hal-hal yang masih dihitung hutang, soal to do list yang hanya jadi pajangan, soal komitmenku yang akhirnya terbengkalai, soal kegemaranku yang pelan-pelan terkubur, soal cita-citaku yang mendadak kabur, semua terlihat entah dan berubah sangat maya kalau bisa dibilang. terus kalau sudah begitu, siapa yang akan jamin kehidupanku kalau bukan aku sendiri? jadi lah, aku memang harus memberesi kehidupan seorang h a m i m a yang berantakan dan undirected. kenapa? pernah kah teman-teman pikir kalau sometimes it just feels really-really wonderfull to be alive?

    oke? coba hayati deh. sometimes it just feels really-really wonderfull to be alive.

    aku rasa teman-teman juga harus mulai melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan, kalau bingung akan mulai darimana, mungkin teman-teman bisa mencoba dengan menyeduh teh hijau hangat sambil mematut diri di depan cermin dan bicara sendiri sampai teman-teman lelah, semoga firman-firman alam sekitar bergegas mengendap di sanubari teman-teman semua.

sepedanya keren, gambar ambil di pinterest

Selasa, November 15, 2016

hal-hal yang sepantasnya disyukuri

    jumat sore kemarin setelah mengikuti kelas etnografi nusa tenggara timur di lantai tiga margono, aku beserta teman-teman perempuan yang lain sebanyak 10 orang berkumpul di depan kolam kodok untuk melaksanakan ibadah sakral kami, yakni beach camp, gampangannya sih, bobo di pantai. segala kebutuhan hidup yang mendasar sudah aku kemas dan ringkas sesederhana mungkin hingga aku benar-benar cuma bawa satu ransel yang kugendong dengan bobot yang enggak berat-berat amat. sisanya, sandal 'lapangan' omiles merah hitam, korsa teater sebagai pengganti jaket karena jaket lagi dicuci, kaos tipis bekas kuliah seharian, serta jeans biru prada yang warnanya sudah berubah jadi abu-abu saking kumalnya. betapa sesungguhnya aku sangat senang ketika satu per satu teman-teman mulai terlihat dengan bawaan mereka, memenuhi pedestrian yang dipakai untuk jogging, dan pukul empat lebih sedikit kami memutuskan untuk berangkat melewati jalan imogiri. hehe maaf agak norakkkkk.

    pantai yang akan kami tuju adalah siung di gunungkidul, daerah itu terletak jauuuh dari kecamatan depok sleman tempatku tidur sehari-hari. jaraknya bisa sampai 75-80 kilometeran dengan waktu tempuh dua jam lebih sedikit, cukup untuk membuat tepos dan jari-jari pegalinu mencengkram stang motor, tapi aku sudah lumayan mahir dengan persoalan berkendara hehe, jadi ini aman dan justru akan menambah pengalamanku menghadapi 'ruang transportasi darat'. terus kalau dipikir-pikir, kontur jalan ke south mountain itu sudah oke kok, jalanannya aspal mulus meski berkelak-kelok dengan kemiringan yang curam, hawa daerah sana juga dijamin enak, rimbun hijau-hijauan lebat membuat kita enggak akan capek ketika naik motor, ya sisanya sugesti saja sih kalau memang benar enggak akan capek. :(

    tapi sedih mendadak ketika masih di jalan dan hujan gerimis tiba-tiba turun, langit juga mulai gelap dan harapan kami untuk sampai di tempat sebelum petang meleburrrr bersama rintik-rintik tadi. kami melanjutkan perjalanan lagi dan entah kenapa rasanya kok jadi semakin lama semakin lama semakin lama dan enggak sampai-sampai ya? faktor apa iniii? aku berdoa terus kepada Tuhan semoga kami dilimpahkan perasaan baik selalu sehingga perjalanan ini benar-benar berlalu baik. aku tak henti-hentinya menghirup udara jalanan dan memicingkan mata ke depan sementara hujan makin deras dan langit sudah gelapppp. dadah matahari sore...

    kami terus jalan entah ke mana aku enggak tahu rute, sampai pimpinan rombongan kami mulai sebentar-sebentar berhenti dan bertanya ke warga setempat soal keberadaan siung, beberapa memberi petunjuk sedang sisanya ada juga yang asal mengarah entah, mereka teman-temanku pusing karena sadar kalau kami semua telah t e r s e s a t di malam hari begini ketika hujan deras dan aku tetap mencoba untuk selow, soalnya kalau aku ikut-ikutan pusing, teman-teman tidak tahu kan kemungkinan apa yang mungkin terjadi pada seorang aku yang bisa saja tiba-tiba jatuh dan menjatuhkan diri dengan motorku, atau parahnya menangis tersedu-sedu karena tidak tahu harus bagaimana saking pusingnya. kami lalu lanjut jalan, menuju entah, dan hujan makin turun deras sederas-derasnya sampai air yang turun itu terasa seperti menghujani tangan dan wajahku, selain itu aku juga masih terus berpikiran baik sejak selesai kelas etnografi tadi sampai detik itu. pikiran baik itu yang jadi senjataku untuk tetap oke meski situasinya sudah nggak enak begini. 

    terus kita benar-benar sudah enggak tahu lagi jalan menuju siung itu ke mana, sementara hujan terus turun deras, malam semakin larut, teman-teman mulai kelihatan capek dan perlu kita semua tahu, rombongan kami sebenarnya meninggalkan dua anak perempuan bernama linda dan alidza sejak di jogja tadi, alasan mereka kami tinggalkan karena mereka sedang otak-atik ban motor, sementara hari mulai sore, jadi pilihan untuk berangkat mendahului tanpa mereka kemudian disepakati bersama dengan pertimbangan: linda dan alidza tahu jalan menuju siung dan dua-duanya anak mapala yang nggak akan takut tersesat di jalan, jadi kami sama sekali tak khawatir kalau mereka benar-benar kami tinggal. tapi bodoh ya, kami sendiri yang justru enggak hapal menuju siung dan ketika rute kita berbelok menuju daerah saptosari tempat pantai kukup, slili, sundak, dan pantai-pantai lain berada, linda dan alidza itu tidak bisa dihubungi lantaran susah sinyal. kami lalu singgah sebentar di warung yang menghadap langsung ke arah pantai slili yang malam itu sedang dilanda angin kencang, sehingga kami bisa dengar debur ombak yang seperti marah dihantam angin dan hujan deras, aku enggak tahu kenapa rasa-rasanya takut dengan slili malam itu, hawanya terasa berbeda dan itu membuat aku enggan menoleh ke pantai tersebut. kami beristirahat di warung tadi dan menghangatkan diri dengan memesan kopi, lalu kembali menghubungi linda dan alidza yang mulai detik itu kami ubah statusnya menjadi 'menghilang'.

    telkomsel yang kaya raya, indosat, axis, aplikasi line, whatsapp, sms dan telepon sama sekali tak bisa digunakan untuk mencari tahu kabar dua anak itu. kami mulai resah dan aku cemasnya bukan kepalang. pasalnya ya teman-teman, mereka cuma berdua dan daerah yang sedang kami jejaki ini berbeda dengan depok sleman tempat kami semua hidup dan mencari kehidupan sehari-hari, bagaimana mungkin kami enggak khawatir ketika dua teman itu hilang di antah berantah ini? binguuuuung... kami kebingungan sampai ibu-ibu pemilik warung berkemas karena mau tutupan dan kami diusir dengan halus. betapa sedihnya kami ketika belum menemukan solusi tapi ibu itu malah ingin kami pergi. kami lalu menuju pantai terdekat yang beach-camp-able tak seperti slili tadi dan terus mencoba menghubungi linda alidza. kami akhirnya menuju ke pantai sundak karena sudah tidak tahu lagi harus belok ke mana kalau seandainya menuju ke siung. 

    pukul sebelas malam kurang sedikit ketika hujan sudah berhenti total, kami mendirikan tenda di bibir pantai yang menjorok ke luar dengan halim dan esti sebagai penanggung jawab karena mereka anak pecinta alam dan aku memegangi senter karena aku enggak bisa apa-apa, sedang sisanya memasak mi goreng sembilan bungkus (dua bungkus tersisa milik linda dan alidza) dengan nestingku, kompor lapangan milik agista, dan air mineral satu liter milik ryu. beberapa masih mencoba mengontak teman kami yang hilang itu, tapi semesta tampaknya lagi enggak mau kompromi, pesan-pesan kami kepada mereka terkirim, tapi tetap tak pernah ada balasan, sepertinya cuma mengambang di langit-langit yang mendung. aku merutuki sinyal seluler gunungkidul pelan-pelan sambil berdoa semoga Tuhan selalu jaga linda dan alidza di manapun anak itu berada, entah siung, entah mana.

    selesai menikmati mi bungkus ramai-ramai di pinggir pantai, kami lalu membuat api unggun dengan lagi-lagi halim dan esti sebagai penanggung jawab dan aku yang cuma bisa memegangi senter. api menyala, kami merasakan dingin yang hangat sambil mendengar debur ombak sundak yang ku akui, terdengar tenang. aku melepas korsa teaterku dan menggelarnya di atas pasir sundak untuk ku jadikan alas berbaring. 

    sundak malam itu terasa sepi. mungkin karena mendung, dan terlampau larut sehingga aku seolah merasakan sepi yang amat dalam. tapi teman-teman terus bicara banyak sambil mengelilingi unggun dan aku terselamatkan dari perasaan tadi. aku lalu bangun dan berjalan sambil agak pusing mendekati bibir pantai, diam di sana sebentar dan menunggu ombak lembut menyapu kaki telanjangku.

    suara ombak, halus tapi terdengar jelas. aku terpejam dan merasakan air laut itu menyentuh kulit kaki,

    lalu aku bergidik.

    dingin.

    aku kembali berbaring di atas korsa dan mendengar lagu-lagu folk ringan yang diputar dari musik player di hape sampai mencoba tertidur dengan terpejam selama satu jam. tapi enggak bisa tidur, karena terusik suara debur ombak yang terus-menerus dan terus-menerus, dan aku tiba-tiba takut entah untuk alasan apa dan kenapa, sepertinya cuma gejala pusing saja hehe.

    dini hari sekitar pukul tiga lebih sedikit aku sudah terjaga karena teman-teman mulai berisik berbicara soal langit yang dihampar sesuatu indah; bintang, yang jumlahnya tak kuasa oleh manusia hitung. aku terpana, takjub, dan bersyukur sekali bisa menyaksikan langit sundak dini hari itu. kapan terakhir kali aku lihat bintang? seperti apa itu rasanya? aku merasakan perasaan yang menghangat selagi api unggun masih menyala. linda dan alidza, yang kami tidak tahu keberadaannya, semoga juga turut merasakan apa yang sedang aku dan teman-teman rasakan ketika melihat langit. bahwa sebenarnya, hidup ini sangatlah indah. lalu dengan alasan apa kalian merutuki hal-hal sampai merasa benci? kalian taruh mana kebaikan-kebaikan yang Tuhan beri dan semesta ajarkan?

   lalu kami melihat bintang kejora menjelang matahari terbit. terang dan indah sekaliiiii. rasanya ingin kubingkai dan kubawa pulang ke kos. melihatnya saja sudah membuatku hangat dan terpesona. 

  lalu pelan-pelan sekitar pukul setengah lima pagi, langit yang tadinya gelap dan dipenuhi benderang bintang mulai berubah jingga keemasan karena sesuatu tiba-tiba muncul dari arah timur.

    itu sunrise

    matahari terbit!

    aku menuju bibir pantai lagi dan melihat langit lebih lekat. dadaku lagi-lagi menghangat untuk perasaan entah hanya karena melihat langit kemuning subuh itu. aku tidak pandai menyulam perasaanku menjadi puitis layaknya matahari terbit saat itu, tapi aku tahu betul mataku berkaca-kaca dan aku menahan untuk tidak menangis menyaksikan keindahan yang terpampang gratis itu. fakta bahwa hhhhhiiiidddduuuuuupppppppppppppppppp iiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnniiiiiiii, sssssssssssssssunggggggggggguuuuuhhhhhhhhhh... keren!

    pagi adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita semua, bahwa Tuhan selalu mengasihi kita, bahwa akan selalu ada harapan. aku seperti dibisiki sesuatu, lamat-lamat aku menyentuh air laut yang telah berubah menjadi hangat dan berkata lirih,

    "selamat pagi, semesta. aku mau hidup yang berbinar-binar!"

Selasa, November 08, 2016

tertidur di hammock

entah apa yang membuat aku begitu excited ketika diajak temanku mengunjungi pantai pada hari senin pagi, padahal siangnya kami ada kelas batik dan saat dia mengabari hal itu, malam sudah larut pukul sebelasan. tapi siapa peduliiiiii, sepertinya aku benar-benar butuh pantai dan aku ingin perjalanaaaan. padahal sabtu-minggu kemarin sahabat tersayangku dari Purwokerto habis mendatangi kehidupanku di kos sambil membawa donat lucu dipasangi lilin mati lampu dan nyanyi selamat ulangtahun, padahal aku sudah enggak ulangtahun tapi siapa peduli ya kaaan? terus mereka nginap semalam dan dua hari itu kami berpergian tak henti-henti, cari udara segar, tempat yang enak untuk foto-foto dan melamun, toko kecil jualan roti artisan, kedai susu dekat kampus, dan berbagi cerita banyak sekali sampai rasanya mulut kami berbusa. lalu mereka pulang ke dunianya masing-masing karena harus menjalani kehidupannya kembali.

begitu juga dengan aku, aku masih harus berjalan mengitari kehidupanku, dan itulah sebabnya saat temanku mengajak ke pantai pagi-pagi, aku tak punya alasan untuk berpikir tidak dan langsung ku iyakan dengan sungguh-sungguh. sepertinya ini memang takdirku, aku bicara mantap di depan cermin dengan lagakku yang lebay. lalu tidur pukul dua pagi setelah mengerjakan macam-macam.

Tuhan ternyata bantu aku beneran, beberapa menit sebelum subuh diadzankan, aku sudah melek meski dengan keadaan tertatih karena aku hanya tidur berapa jam doang.

perjalanan menuju pantai benar-benar terjadi. aku berterimakasih berkali-kali pada partikel-partikel dalam hidup karena aku bisa menghirup udara pagi dingin, melihat anak-anak kecil berangkat sekolah, upacara hari senin di suatu sekolah dasar! pasar tradisional yang tumpah ruah, jalanan yang hening, langit biru indah yang ramah dan matahari pagi yang masih hangat. terima kasih banyak sekaliiii... hidup ini memang oke.

pantai yang kami datangi juga enak banget suasananya, meski air laut terlihat keruh karena kami cuma mengunjungi pantai yang terdekat di Bantul saja hehe. tapi enggak apa, Cemara Sewu yang pagi itu sedang senyap nggak ada siapapun kecuali kami, telah jadi obat penghilang pusingku dan teman-teman yang juga sedang sakit saat itu. aku lalu berayun di lahan kecil dekat pasir pantai sambil ngalamun, sedang yang lain mengambil banyak gambar di antara pohon-pohon cemara rindang. tapi kemudian pandanganku teralih pada hammock-hammock yang dipasang di antara pohon-pohon, salah satu temanku berbaring di sana sesaat aku tengah memandangi hammock tadi, aku mengetuk diriku sendiri dengan pertanyaan 'untuk apa dilihati terus?' aku lalu turun dari ayunan dan berjalan ke salah satu hammock yang menghadap ke laut sementara matahari berada di sisi kiri atasku. aku menyentuh tali hammock itu, mengetesnya dengan menarik-ulur untuk tau seberapa kuatnya tali itu dan memutuskan untuk berbaring di atasnya.

mohon maaf kalau aku berlebihan, tapi perasaan yang ku dapati ketika aku sudah berada di hammock tadi adalah: ketenangan yang aneh. matahari hangat menerpa wajahku samar-samar lewat dedaunan cemara yang diterpa silir angin, suara debur ombak terdengar sangat baik oleh telingaku, pemandangan pohon-pohon dengan bunyi gemerisik dahan-dahannya begitu nyaman dilihat, udara pagi terasa enak, burung-burung entah bercokol aneh, apa lagi yang perlu aku cemaskan ketika sudah begitu? senin pagi itu benar-benar baik, kepalaku sembuh mendadak dan aku tak mengenal pusing lagi. hening, senyap, tenang, segalanya cuma seperti itu. betapa betulnya kalau sepi itu ternyata indah, percayalah...

setelahnya aku menyetel lagu-lagunya Maliq n D'Essentials dan tiba-tiba sudah tertidur saking nyamannya untuk beberapa menit.


hidup ini,
sungguh...