Kamis, Maret 24, 2022

Journal 1: hari-hari normal di museum

aneh tidak, kalau aku bilang, bahwa rutinitas kerjaku di museum saat ini membuatku dapat merasakan sebuah ritme kehidupan? aku tidak menyangka, punya rutinitas itu rasanya sangat normal. aku sampai lupa kapan terakhir kali mengalami perasaan senormal ini, sebab yang selalu aku rasakan bulan-bulan belakangan kemarin adalah perasaan kosong, muram, kosong lagi, lalu muram lagi. kalaupun aku merasa senang, perasaan senang itu masih ku lalui dengan kekosongan yang mengendap di hatiku. tapi, ternyata, aku begitu menikmati kenormalan ini sampai tidak sadar kalau aku telah mengalami banyak perubahan dari cara berpikir hingga caraku merespons situasi. perasaan normalnya adalah perasaan yang akan membuatmu mengerti, kalau hidup memang hanya terus berputar dan berjalan, tak peduli medannya seperti apa, lalu kita sendiri yang pada akhirnya menentukan arahnya akan ke mana dan jadi seperti apa.

perasaan yang sangat normal ini nyatanya bisa membantuku melatih fokus. beberapa pikiran yang berserakan akan sedikit lebih tertata kalau aku mulai mengerjakan hal-hal yang menjadi rutinitasku. aku juga jadi jarang menangis, kalau aku punya hari-hari sulit yang membuatku ingin menangis, aku akan memprosesnya dengan sadar dan tak lagi berlarut-larut menghadapinya seolah kesedihan itu akan tertanam selama-lamanya. selain itu, yang menarik dari semua kenormalan ini adalah; aku jadi lebih sering makan (meski porsi makanku masih sedikit) dan menikmati aktivitas makan itu dengan kesadaran penuh, aku sudah jarang merasa mual dan tiba-tiba ingin muntah tanpa sebab, mulai sering tidur nyenyak (karena sudah terlampau capek di museum), dan mulai lebih responsif terhadap tubuh sendiri, salah satunya respon-respon terhadap rasa sakit yang aku alami secara fisik maupun psikis.

sekarang juga jadi lebih bisa menikmati hal-hal kecil dan sepele, yang sebenarnya tidak banyak orang perhatikan, seperti udara pagi atau udara malam, biru langit atau langit keruh, riuh pasar atau pasar lengang, matahari terik atau matahari hangat, hujan gerimis atau hujan badai, jalanan macet atau jalanan kosong, suasana ramai maupun suasana sepi, dan semua momen-momen yang berlawanan. secara perlahan, aku dapat menikmati beberapa peristiwa itu dan tak begitu ambil pusing.

teman-teman kerjaku di museum juga sangat menyenangkan dan ada kalanya (tanpa mereka sadari) mampu menghibur hatiku yang sering sedih. masing-masing dari mereka punya latar historis dan ‘bagasi’-nya masing-masing yang membuat mereka tampak menarik. di satu sisi, mereka juga yang paling sering menyuruhku untuk lebih banyak makan supaya tidak mudah sakit, paling sering menghardikku kalau tahu aku habis keluyuran sampai larut malam, paling sering menertawaiku karena aku suka sekali melakukan hal-hal bodoh. sebenarnya, ada banyak sekali pekerjaan-pekerjaan di museum yang rasanya berat dan runyam, tapi teman-temanku itu selalu menolong dan mengurai kerumitan-kerumitan itu. masih terasa berat sih, tapi paling tidak beban itu bisa kami pecahkan bersama-sama.

kenormalan ini tentu saja juga membuatku jadi gampang sakit. lokasi museum yang berada di bawah lereng gunung mengakibatkan curah hujan di sana tinggi sekali, hampir setiap hari kami menghabiskan waktu di museum dengan kedinginan dan kehujanan, porsi matahari hangat paling-paling hanya sampai setengah hari. aku selalu mengantongi minyak gosok, minyak telon, minyak angin, aromaterapi, koyo, obat batuk, obat pilek, demam, sakit kepala, pegal linu, vitamin, suplemen makanan, sampai hansaplas. karena terpapar kondisi yang demikian, perasaan yang sering aku alami sepulang kerja kebanyakan adalah perasaan lesu dan ketidakberdayaan, seolah-olah energiku telah tersedot habis karena seharian bertemu dengan ratusan manusia di museum. bahkan seringkali aku sampai muak kalau harus membuka mulut untuk bicara dan mengeluarkan kata-kata. maka ketika sampai di kos, lebih sering aku akan menenggelamkan diri (seperti mode shut down) dan mengisi baterai dengan mengerjakan rutinitas harian. sendirian, tidak ada interaksi, tidak ada kebisingan. 

sepulang dari museum biasanya aku akan melakukan beberapa pekerjaan domestik seperti merapikan kamar, memilah sampah daur ulang dan organik, mencuci kotak bekal makan siang, memasak makan malam, mengangkat jemuran dan melipat pakaian-pakaian, stretching ringan di balkon kostan, lalu mandi, memakai serum dan pelembap, mengerjakan beberapa tulisan, menelpon orang rumah, membaca buku, menonton satu-dua episode film sampai tidak sadar kalau sudah tertidur. kalau aku punya janji temu dengan teman, aku akan mengesampingkan pekerjaan domestik itu dan menemui temanku sampai pukul sepuluh, atau sebelas malam, lalu pulang dan bergegas mandi tanpa sempat membersihkan isi tas kerja, biasanya itu akan ku lakukan keesokan paginya (dengan tergesa-gesa).

di hari libur kerja, yaitu Senin, aku akan bangun sedikit lebih siang sekitar pukul sembilan atau sepuluh (terkadang aku capek harus bangun pagi-pagi untuk bekerja dan kangen sekali menikmati momen bangun siang tanpa gangguan), sambil tetap melakukan beberapa pekerjaan domestik yang bisa dilakukan. ketika sudah siang menjelang sore hari, aku akan menemui Yoga dan menghabiskan waktu bersama laki-laki itu sampai kadang baru pulang pukul duabelas malam. di hari-hari yang berjalan sangat normal itu, seringkali aku berpikir kalau kenormalan-kenormalan ini adalah suatu kemewahan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. tentu saja aku masih punya hari-hari di mana aku merasa sangat oleng dan mletre, seperti ada benda tumpul yang menimpuk kepalaku dengan keras atau seperti terjerembap ke lubang besar menganga di tengah-tengah perjalanan. tapi peristiwa-peristiwa itu masih bisa aku nikmati dengan santai. sekarang segala sesuatunya terasa lebih tenang, lebih kalem, dan tentu saja semuanya itu terasa lebih normal. rasanya enak juga dipikir-pikir.

satu lagi yang membuatku terharu, ini agak klise sih, tapi kenormalan ini ternyata membuatku punya ‘sedikit’ tujuan hidup yang ingin aku capai; aku ingin jadi bermakna dan bisa memberikan ‘sedikit’ arti pada kehidupan orang lain, dan karena itu juga, keinginanku untuk melenyapkan diri jadi semakin jarang belakang ini. i love seeing myself doing better.








*aku menulis ini sambil menikmati jahe panas karena tenggorokanku sedang sakit; malam hujan di bulan Maret 2022.

Minggu, Oktober 31, 2021

#24 pikiran di 24 tahunku yang pertama kali


1. Proses pemulihan dari segala sesuatu yang pernah membuatku sangat terpukul dan terluka tak pernah selalu berjalan dengan mulus. Ada hari di mana aku merasa sangat stabil dengan suasana hatiku yang kondusif, tetapi ada kalanya pula perasaan ingin menangis dan melukai diri itu tiba-tiba muncul dan menyerangku. Karena aku tau situasiku sangat fluktuatif seperti itu, maka, aku akan mencoba mengalami semua emosi itu pelan-pelan. Nantinya pun proses mengalami ini akan menjadikanku banyak belajar; tentang bagaimana baiknya memproses peristiwa, memproses luka, dan memproses perasaan yang malang-melintang bagai isi kepalamu yang begitu berisik. Hidup ini memang berantakan, tapi kalau aku bisa merapikannya satu per satu, kupikir aku bisa bertahan dan menyelamatkan diri.

2. Dunia yang sangat patriarki ini terus-menerus membuat perempuan merasa tidak aman. Kami diliputi ketakutan dan ketidakberdayaan karena terus direpresi oleh bajingan-bajingan yang selalu merasa superior. Ada banyak sekali berita kekerasan seksual yang lalu-lalang di beranda internet, dan seringkali aku menjadi cepat lelah hanya karena membaca peristiwa-peristiwa mengerikan itu. Perutku langsung terasa tidak enak, kepalaku pusing, dan mataku jadi mudah sekali menangis. Brengsek. Kalau tiba-tiba aku terguncang karena trauma kekerasan seksual, aku akan duduk dan minum air putih lalu menenangkan diri sendiri di tempat yang sepi dan tak terlalu riuh. Tiga kali tarikan napas dan tepukan pelan di dada akan lumayan membantuku meredakan kekalutan.

3. Aku tak pernah menyangka, basa-basi yang dilontarkan orang-orang seperti menanyakan kabarmu, bagaimana harimu, apakah kamu sudah makan atau belum, itu bisa menyelamatkanmu dari kabut gelap yang menyergap isi kepalamu —kabut gelap yang membawamu terus berpikir soal ketiadaan. Basa-basi itu rasanya bisa membuatmu tersadar, bahwa hari itu kamu masih hidup dan bernapas dengan baik, matahari di atasmu masih bersinar menyilaukanmu, udara sore masih bertiup sepoi-sepoi menenangkanmu, kamu masih dapat merasakan mojito dingin yang tersanding di depanmu, dan kamu akan ingat bahwa kamu pernah menulis seribu satu alasan mengapa kamu harus tetap melanjutkan hidup meski dunia ini payah dan selalu membuatmu sedih. Sekali lagi aku tak pernah menyangka, basa-basi yang sederhana itu ternyata dapat menolongku sekaligus menghibur kepahitanku.

4. Melanjutkan poin sebelumnya, aku mau mengakui kalau memang ada masa di mana aku tiba-tiba tidak mau berumur panjang. Aku membenci perayaan ulang tahun dan selalu ingin mempercepat ritme hidupku, yang lebih ekstrim aku sampai ingin berhenti tumbuh dan tidak ingin lagi merasakan apa-apa. Pikiranku ini sangat suram dan menakutkan sekali. Kalau aku sudah begini, aku akan mencoba lari sampai berkeringat, meditasi kalau kepalaku terasa penuh, atau memotong-motong sayuran dan memasak demi aku bisa berfokus pada sesuatu. Belakangan ini aku menemukan banyak sekali coping-mechanism selain menulis yang dapat membantuku mengatur pikiran. Aku akan melakukan segalanya; dari mulai mencuci piring, keramas dan creambath, menonton film horror, roll depan dan roll belakang, mengajak orang ngobrol, mengepel lantai kamar, makan makanan pedas sampai lidahku kebakaran, menyanyi, mengisi teka-teki silang di koran mingguan, dan kalau aku punya energi lebih aku akan keluar dan kelayapan tak tentu arah. Yang jelas, aku akan melakukan segalanya; alternatif-alternatif kegiatan yang dapat kulakukan alih-alih menyakiti diri sendiri.

5. Aku selalu takut kalau badanku akan menyusut menjadi sekecil kelengkeng karena aku tak pernah punya nafsu makan yang baik, aku tak pernah punya relasi yang sehat dengan aktivitas makan. Upayaku untuk makan adalah upayaku agar tidak mati konyol saja, upayaku agar tidak pingsan dan tak merepotkan orang lain. Selama ini aku tak pernah benar-benar mengilhami aktivitas makan dengan sadar. Aku juga kerap kali merasa mual ketika sedang makan, dokter bilang ini gejala stress, lalu aku direkomendasikan banyak suplemen makanan, vitamin, minyak ikan, jamu, namun tetap saja, aku merasa tetap kehilangan semangat dan selera untuk makan. Lalu ketika ada orang-orang yang bicara "Mima makan yang banyak, ya!" aku selalu tersentuh dan langsung ingin menangis. Kasihan sekali tubuhku. Sudahlah pikiranku suram, sekarang aku malah membebani tubuhku sendiri perihal nafsu makan. Sulit sekali kamu, Mim.

6. Aku juga menyadari kalau selama ini aku terlalu punya banyak asumsi buruk soal hubungan asmara. Padahal itu karena aku sendiri yang tidak percaya terhadap diri sendiri. Aku yang tak mampu, berlagak paling tahu soal apapun. Aku terlalu memelihara banyak rasa takut. Aku terlalu payah melibatkan orang lain di kehidupanku. Aku terlalu berpikir bahwa aku tak pernah benar-benar bisa bersama orang lain. Aku tak pernah benar-benar membuka diri dan memberikan diriku kesempatan; kesempatan untuk mencintai diriku sendiri dan kesempatan untuk mencintai orang lain. Pada akhirnya, aku jadi menyakiti banyak orang, aku juga menyakiti diriku sendiri. Menerjemahkan hidup itu pelan-pelan saja Mim, bisa-bisa kamu cepat mati kalau semua hal kamu perangi. Ketakutan dan kekhawatiranmu akan banyak hal itu akan bisa kamu atasi perlahan, tenang saja, kamu mampu kok.

7. Keberadaan rasa sakit itu, selain untuk diobati, juga untuk direfleksikan kembali. Bahwa ada sesuatu dalam dirimu yang salah, dan tak seharusnya terulang kembali. Tubuhmu akan kesulitan kalau terus-menerus mengalami sakit. Hidup itu memang proses belajar sampai mati, tapi jangan sampai kamu menderita dan tenggelam dalam kubangan rasa sakit yang kamu sangkal sendiri.

8. Aku sudah lama sekali men-shut down diri dan berubah menjadi anak kecil yang tertutup dan tak banyak bicara. Namun belakangan ini, aku punya kesempatan-kesempatan kecil yang mempertemukanku dengan orang-orang baru hingga aku bisa terlibat percakapan dengan mereka. Ajaibnya, aku menjadi sedikit lebih bersemangat, di hari-hariku yang biasanya melelahkan dan tak ada gairah hidup. Ternyata upaya bercakap-cakap bisa terasa semenyenangkan ini. Rasa senangnya adalah rasa senang yang membuat hatimu ringan. Rasa senang yang akan membuatmu tersenyum simpul. Rasa senang yang akan mengingatkanmu kalau ternyata hidup ini tidak payah-payah amat kalau kamu bisa menikmati momen-momen sepele seperti mengobrol dengan orang baru. Sensasi bisa terhubung dengan orang lain lewat sebuah percakapan ini memang aneh sekali.

9. Sejak Bapak mengalami sakit diabetes yang membuat kesehatan dan berat badannya menurun, aku mulai sering berpikir soal kematian. Kematian Bapak dan kematianku sendiri. Dokter bilang penyakit diabetes dapat diwariskan antar generasi. Seorang Ibu dapat mewariskannya pada anak laki-laki, dan Bapak dapat mewariskannya pada anak perempuan, pada diriku sendiri. Diam-diam aku menyimpan ketakutan aneh bahwa aku akan mengalami penderitaan yang selama ini dirasakan Bapak. Diam-diam aku menyimpan ketakutan aneh bahwa tubuhku akan pelan-pelan hancur sampai suatu saat nanti aku lenyap. Diam-diam aku menyimpan ketakutan aneh pada minuman-minuman kaleng dengan kandungan gula tinggi. Diam-diam aku menyimpan ketakutan aneh pada kandungan gula itu sendiri. Diam-diam aku menyimpan ketakutan aneh pada segala sesuatu yang berkaitan dengan gula; termasuk rasa manis yang tercecap di lidah akibat dari sebuah gula. Ketakutan aneh, dan gula.

10. Aku kadang bingung dengan diriku sendiri. Aku punya banyak sekali situasi aneh yang membuatku jadi terasa seperti orang lain. Pernah dalam satu hari aku merasa sangat pusing setelah membaca ulasan film animasi Jepang berjudul Perfect Blue (1997) karya sutradara Satoshi Kon. Genre film panjang ini adalah psychological thriller. Aku bahkan tidak tau tepatnya apa yang membuat kepalaku sakit, tapi sepertinya karena tokoh utama dalam anime itu adalah seorang perempuan bernama Mima, Mima Kirigoe, seorang idol dari grup bernama CHAM! yang berganti karir ke dunia akting dan modeling. Mima, dalam film animasi ini, punya banyak peristiwa traumatis yang mengguncang jiwa dan kesadarannya, membuatnya jadi gila dan frustasi. Ada banyak adegan kekerasan, gore, sensual, dan disturbing scene lain yang membuatku pening dan merasa mual. Selama satu hari itu, aku bukan saja hanya terbayang-bayang dengan jalan cerita yang penuh teror, tapi juga terbayang-bayang pada karakter perempuan yang bernama sama denganku; Mima.

11. Penyesalan apa yang membuatmu menderita selama ini? Penyesalan karena tidak pernah jujur terhadap diri sendiri, dan penyesalan karena tidak pernah mendengarkan kata hati; untuk mencoba, untuk percaya, untuk mencoba lagi (kalau suatu waktu merasa kecewa dan sakit hati).

12. Dunia ini punya spektrum yang sangat luas. Aku sudah tak pernah lagi menghakimi orang hanya karena aku sedang merasa kesal atau takut. Aku paham betul, yang mudah bagi orang lain, bisa terasa sulit bagi yang lainnya. Menghakimi tanpa melihat keutuhan peristiwa cuma akan membawa penyakit ke dalam hatimu.

13. Aku sudah tidak lagi merasa bersalah atas rasa sakit-rasa sakit yang pernah terjadi di belakang. Tak lagi ku sesali segala keputusan-keputusan yang pernah aku dan pihak-pihak di masa laluku buat. Apa yang telah terjadi telah membuatku banyak melihat dan memahami peristiwa. Sekarang, masing-masing dari kita bertanggung jawab atas luka dan kesembuhan diri kita masing-masing. "I dont hate you anymore, you must live happily." aku bicara sungguh-sungguh.

14. Belakangan hari ini, bangun tidurku terasa mudah dan ringan, aku tidak lagi membenci sinar matahari, aku tidak lagi mengeluh sepanjang hari, yang ada hanyalah hari-hari biasa tanpa perasaan sedih dan muram yang seperti mau menenggelamkanku. Belakangan hari ini, aku mulai bisa menikmati hal-hal kecil yang tampak normal, seperti rasanya mandi dengan pikiran segar, menikmati sarapan nasi kuning ditemani lagu-lagu kesukaan, tidur malam yang nyenyak tanpa dilingkupi mimpi buruk dan kesulitan untuk terlelap. Aku tak tahu, belakangan ini, rasanya semua terasa ringan, dan ada semangat kecil yang meletup di dalam hatiku. Karena terbiasa mengalami perasaan sedih, ketika aku punya hari-hari di mana aku merasa senang, aku justru jadi sedikit bingung, tetapi tetap berusaha menikmatinya sepenuh hati. Rasa senang di kehidupanku yang gersang adalah sebuah berkah.

15. Realizing there was never something “wrong” with you in your past relationships, you just weren’t with the right person.

16. Kalau suatu saat nanti aku membuat kesalahan, mungkin aku akan cemas dan menangis semalaman sembari merasa bersalah, sebelum kemudian memberanikan diri untuk mengakui keluputan dan meminta maaf. Sebelum itu, aku harus banyak-banyak meyakinkan diriku terlebih dulu kalau manusia itu bertumbuh atas pengalaman yang pernah dilalui, dan kita belajar dari kesalahan. Manusia itu bisa bodoh, dan oleh karena itu, tentu saja juga bisa berbuat salah.

17. Doaku belakangan ini: Tuhan, ajarilah aku untuk lebih banyak menghibur daripada dihibur, mengasihi daripada dikasihi, mencintai daripada dicintai, sebab dengan memberi, kita menerima.

18. Tahun ini aku belajar banyak soal bagaimana caranya meregulasikan emosi dengan baik, seperti bagaimana caranya mengekspresikan amarah (dalam situasi yang aman dan konstruktif), bagaimana cara mengutarakan pendapat dan perasaan (dalam cara yang asertif dan terbuka), bagaimana cara menghadapi situasi konflik yang tidak nyaman dan tidak menyenangkan (dengan tidak lari, memendam, menghindari, berpura-pura tidak terjadi masalah), dan bagaimana caranya membawakan diri di tempat umum (bagaimana cara untuk tidak merasa malu dan terasing, membangun kepercayaan dan keberhargaan diri, untuk tidak tiba-tiba merasa ingin menenggelamkan atau melenyapkan diri). Meskipun aku lambat dan seringkali aku bekerja keras dengan payah, aku tahu aku pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk diriku sendiri.

19. Satu per satu melepas sakit di masa lalu.

20. Rasanya bisa terbuka dengan mengakui diri kalau kita pernah terluka sekaligus pernah melakukan kesalahan itu leganya tiada tanding. Apalagi kalau kamu bicara dengan orang yang sungguh-sungguh mendengarkanmu meski kamu harus bercerita sampai menangis. Perasaan didengarkan dan dipahami itu berarti sekali. Keberanian untuk mengatakan hal-hal yang menjadi ketakutan dan keresahan juga sesuatu yang rasanya istimewa sekali. Tak pernah kudapati hatiku menjadi seringan ini. Perasaan ringannya adalah perasaan yang menyenangkan, sekaligus perasaan ringan yang menenangkan.

21. Sekarang aku tak akan berasumsi kalau aku harus selalu hidup bahagia, aku tak masalah jika mengalami sedih, atau perasaan tidak bersemangat, atau perasaan ingin mati, atau biasa saja, atau tak merasakan apa-apa. Apapun yang sedang aku alami, aku tak akan keberatan. Yang mengalir, akan mengalir. Yang terjadi, akan terjadi. Kupikir hidup akan lebih mudah kalau aku tak mencoba menahan apapun. Hidup itu memang rumit, tapi di satu sisi juga sangat sederhana. Kalau pun nanti aku punya satu hari yang sangat melelahkan dan membuat hatiku berat, aku sudah percaya duluan kalau hidup ini memang hopeless tapi juga sekaligus hopeful. Layaknya kesenangan, kesulitan hari itu pastilah cukup untuk hari itu.

22. Belakangan ini aku berpikir, kalau sosokku di usia 10 tahun melihatku saat ini, apakah dia akan senang dengan keadaan dan kondisi diriku saat ini? Mima kecil di usia 10 tahun itu mungkin akan mendatangiku dan bicara “kamu tidak akan lagi kesepian, aku akan selalu ada di sini untukmu” lalu memelukku erat sambil mengusap pelan punggungku. I deserve to be healed. Rasanya sulit sekali bicara begini hanya karena selama ini aku selalu terbiasa dengan rasa sakit. Aku berharap sekali, semoga aku punya banyak keberanian untuk mempercayai diriku sendiri, semoga aku punya banyak kerendahhatian untuk memaafkan diriku sendiri, dan semoga aku punya banyak cinta untuk ku berikan pada diriku sendiri.

23. Kalau aku tiba-tiba punya keinginan untuk menghilang lagi, aku akan keluar ruangan untuk menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya sampai paru-paruku terasa penuh. Kalau aku tiba-tiba sampai ingin menangis lagi, aku akan memejamkan mata sembari bernapas pelan-pelan dan menghitung satu sampai sepuluh. Setelah itu aku akan melakukan 3 hal baik untuk menukar rasa sedihku. 3 kebaikan untuk 1 perasaan duka. Bisa apa saja, dan dengan siapa saja. Kebaikan yang bisa aku lakukan untuk diriku sendiri, ataupun kebaikan yang bisa aku lakukan untuk orang lain.

24. Selamat ulang tahun. Terima kasih karena tidak memutuskan untuk menyerah dan mati lebih dulu.


kado keren tahun ini! 😂

Senin, Agustus 30, 2021

kau begitu sepi dan sepi begitu meniadakanmu

i. Apa arti kehidupan?

Kau bertanya pada dirimu sendiri yang mulai kehilangan makna pada banyak hal. Kau mendapati dirimu tak lagi punya kesenangan terhadap apapun dan ambisi untuk mencapai apapun. Kau tak lagi menikmati hari-hari yang berjalan lambat dan membuatmu tersesat. Kau tak lagi menikmati langit biru dan udara pagi yang dapat menceriakan hatimu. Kau tak lagi merasakan semilir dari angin yang berhembus melalui daun telingamu, menerbangkan anak-anak rambutmu, dan membuatmu mengerjap sayup-sayup, —kau justru merasa angin itu mengguncangkanmu dan kau sampai begitu ingin menangis. Kau tak lagi percaya soal harapan-harapan yang akan menyelamatkanmu dari kiamat-kiamat kecil di dunia. Kau menemukan dirimu menjelma dalam bentuk serpihan-serpihan kaca yang telah pecah dan membuatmu terluka. Kau berdarah dan kesakitan. Perih itu menyadarkanmu; kau memang begitu payah dan kau memang begitu menyedihkan. Pada kenyataannya, kau begitu kosong dan kosong begitu menenggelamkanmu.


ii. Apa kau kesepian?

Kau menyadari bahwa selama ini kau hidup dengan membiarkan dirimu menjadi tak tergapai dan tak tersentuh. Kau menyadari bahwa selama ini kau hidup dengan membangun pagar tinggi supaya tak ada orang yang bisa menyakitimu. Kau menyadari bahwa selama ini kau hidup dengan tak pernah memberikan rasa percayamu pada siapapun. Kau menyadari bahwa selama ini kau hidup dengan menimbun luka dan traumamu sendiri. Kau menyadari bahwa selama ini kau menyebut itu semua sebagai pertahanan diri tapi kau justru seperti memenjarakan dirimu sendiri. Kau tak pernah punya siapapun untuk bercerita. Kau tak punya siapa-siapa. Dalam malam yang mencekam tulangmu, kau tak tahu lagi harus bersandar ke mana. Dalam penglihatanmu yang begitu kabur, kau merasa semua orang berpaling dan seolah berjalan menjauhimu. Kau seperti ditinggalkan seorang diri. Kau seperti dilepaskan tanpa pegangan. Kau akan berpikir bahwa kau memang tak layak dicintai, karena kau juga berpikir bahwa kau tidak mencintai dirimu sendiri. Kau akan berpikir bahwa kau akan menyakiti orang lain, karena kau juga berpikir bahwa kau menyakiti dirimu sendiri. Kau mematung menatap bayanganmu dan bayanganmu menatap dirimu yang mematung. Kau begitu kesepian dan kesepian begitu menakutimu.


iii. Apa kau ingin melenyapkan diri?

Ketika kau tak lagi menemukan arti dalam apa-apa yang berkelindan dalam hidupmu, kau mungkin akan berpikir bahwa semuanya adalah sia-sia. Ketika kau tak tahu lagi harus bergantung pada siapa, kau mungkin akan berpikir bahwa kau memang pahit dan kau memang menyakitkan. Kau begitu pahit dan pahit begitu mematikanmu. Kau begitu menyakitkan dan kesakitan itu begitu menghisap jiwamu. Kau mulai pendiam dan tak banyak bicara. Kau mulai tak menemui orang-orang. Kau mulai tak punya nafsu makan. Kau mulai tak berniat untuk bangun lagi. Kau mulai menolak ketika pagi datang, padahal kurang sinar matahari dapat membuatmu depresi. Kau mulai berpikir bahwa tidur selamanya pun tak akan menjadi masalah. Kau mulai merasa kelelahan. Kau mulai merasa begitu tua. Kau mulai berpikir soal melenyapkan diri. Kau mulai berpikir soal ketiadaan. Kau mulai berpikir bahwa keberadaan maupun ketidakberadaanmu itu tiada bedanya. Kau tak lagi berarti bagi siapapun, kau juga tak berarti bagi dirimu sendiri. Lalu kau akan melukai orang lain, karena pada akhirnya pun kau juga melukai dirimu sendiri.


Kau melihat dirimu lagi. Kau menelusuri matamu yang sayu. Kau menelusuri kelopak matamu yang lebam. Kau menelusuri pelipismu yang berbekas luka. Kau menelusuri hidungmu yang sembap, ada darah mimisan yang baru saja kau seka dengan punggung tanganmu. Kau menelusuri bibirmu yang kering. Kau menelusuri pipimu yang basah. Kau menelusuri rambutmu yang kusut. Kau tak pernah begitu menyangka, bahwa kau begitu sepi dan sepi begitu meniadakanmu.

Jumat, Juli 30, 2021

in the midst of my fatigue, July was so gloomy

when my parents were sick, I always had hallucinations hearing them calling my name,
very slowly, very quietly

their voices were muffled
as if they were speaking on a windy hilltop
but when I looked at them,
I found that they were just sleeping so peacefully,
so calmly,
and I got confused

so I went back to the kitchen,
cooked breakfast for them,
and wondered
why my mornings always felt so weird?

I said nothing,
maybe it was only my sentimental feelings.

Rabu, Mei 26, 2021

Daftar Pertanyaan yang Dapat Kamu Tanyakan Pada Dirimu Sendiri Ketika Sedang Merasa Hilang Arah


Hai, Mima. Bagaimana kabar hari ini?

Tidak sedang sedih dan tidak sedang senang. Biasa saja. Belakangan ini hari-hariku berjalan seperti itu. Kalau aku menangkap momen-momen yang terasa begitu menyedihkan atau begitu menyenangkan, itu hanya akan bertahan sebentar dan setelahnya akan lewat begitu saja. Yang ku hadapi selanjutnya adalah perasaan kosong yang seperti mengulitiku hidup-hidup. Hm, aku memang seperti hantu hidup, sih.


Kalau begitu kapan terakhir kamu merasa begitu sedih dan begitu senang?

Semalam aku baru saja menangis sesenggukan ketika dalam perjalanan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah pun aku masih menangis selama setengah jam, lalu ketika sudah capek aku menenggak air kulkas banyak-banyak untuk menenangkan diri. Air mataku habis dan aku dehidrasi. Malam itu sebenarnya tidak ada hal aneh yang menimpaku, aku cuma sedang merasakan takut yang amat besar sampai aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku seperti bertemu hantu yang sangat seram dan siap menerkamku saat itu juga, tapi nyatanya, itu cuma ilusiku belaka dan aku sedang tidak mengalami apa-apa.


Kalau saat senang?

Oh ya, kemarin aku merasa cukup senang setelah selesai ngobrol dan berkenalan dengan orang-orang Penastri, sebuah perkumpulan dan ruang konsolidasi untuk pegiat teater di Indonesia. Aku juga senang karena malamnya hujan turun deras sekali setelah sekian lama aku merasa begitu kering. Selain itu, tak ada, segalanya tampak normal seperti biasa.


Ada hal tertentu yang sering kamu pikirkan belakangan ini?

Entah kenapa aku terus memikirkan soal kematian seseorang. Aku bisa terus-menerus membayangkan peristiwa itu dan dengan detail mengatur alur ceritanya. Ini menakutkan tapi aku juga tidak bisa melepaskan pikiran tersebut. Aku terus membuat banyak pengandaian dalam kepalaku soal kematian orang itu. Anehnya, aku juga sampai menangis karena bayangan yang ku konstruksi sendiri itu. Rasanya seperti sedang menghadapi hantu yang ku ciptakan sendiri. Aku memang sudah gila.


Apa ketakutanmu saat ini?

Saat ini aku sedang takut kalau harus pulang sendirian ketika sudah lewat pukul 9 malam, apalagi kalau jalanan sudah sepi dan penerangannya minim. Selain itu, tidak ada. Aku bisa menghadapi hari dengan keadaan apapun. Aku cukup tangguh untuk situasi apapun, kecuali ketakutan yang kusebut di awal itu.


Ada hal yang membuatmu pusing?

Kemarin pagi ketika aku mengepel lantai rumah, bapakku sedang duduk di ruang tamu, ngopi, sambil menonton berita Palestina di youtube keras-keras. Aku ikut mendengarkan presenter berita itu bicara sambil terus menggosok lantai dengan gagang pel. Bapak tidak berkutik, ia cuma menaikkan kakinya sebentar ketika aku mengarahkan gagang pel ke bawah meja dan kursi tempat ia duduk, dan matanya sama sekali tak lepas dari layar ponselnya. Aku terus menggosok lantai sambil berpikir, bisa-bisanya aku mengepel lantai dan di waktu yang bersamaan mungkin saja ada perempuan seusiaku yang sedang meringis kesakitan karena luka tembak di tubuhnya. Hidup ini sungguh sempurna penderitaannya. Dan itu membuatku sangat pusing. Fakta bahwa aku selalu bermasalah juga membuatku tambah pusing.


Kalau sesuatu yang membuatmu bingung, ada?

Aku bingung kenapa sistem kerja dunia ini begitu kacau dan permasalahan hidup ini runyam sekali. 279 juta data pribadi kita dijual bebas di situs gelap seperti sedang jualan kacang rebus. Perusahaan farmasi besar ramai-ramai memproduksi rapid tes antigen bekas seolah-olah itu seperti sampah daur ulang. Uang bantuan sosial di negeri ini dikorupsi menterinya sendiri seolah-olah rakyat kita sudah tajir melintir dan tak punya kesulitan ekonomi. Dan ada pengacara tolol yang menyarankan tersangka kasus pemerkosaan untuk menikahi korbannya yang masih di bawah umur. Coba dibayangkan; menikahi orang yang membuatmu trauma seumur hidup. Apa gak bikin tambah gila? Hantu-hantu di neraka pasti tertawa melihat itu semua. Aku merasa dunia seperti sudah kiamat.


Bisakah kamu berbagi rekomendasi lagu, buku, atau film yang akhir-akhir ini kamu konsumsi dan membuat kamu terkesan?

Pertanyaan yang bagus! Aku masih rajin mendengarkan Biru-nya Anda Perdana selama sebulan belakangan ini. Itu lagu cinta menenangkan sebenarnya, tapi aku selalu sedih tiap mendengarnya. Mungkin itu karena suara bariton rendah Anda yang terasa nelangsa. Lagu lain akan kubuat daftar di bawah:
Hanya Membekas Kini - Chaisero
Apatis - Benny Soebardja
Kau Yang Tlah Pergi - Caffeine
Mendalam - Dua Band 
Peluk - Dewi Lestari
Antara Anyer dan Jakarta - Sheila Majid
Sebelum Tersisih - Rafika Duri

Kalau untuk buku, saat ini aku tengah membaca kumpulan cerpennya Norman Erikson Pasaribu, judulnya panjang; Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu. Setiap cerpen yang dia tulis rasanya personal sekali, aku seperti mau tenggelam ketika sedang membacanya. Gaya berceritanya juga memikat, aku suka cara dia membuat detail-detail narasi untuk mendeskripsikan soal perasaan. Norman Erikson Pasaribu itu tipe penulis yang akan membuatmu terngiang-ngiang seharian setelah selesai membaca karyanya, bahkan saat kamu sedang di jalan pulang, mengantre di pom bensin, memilih minuman kaleng di indomaret, menunggu lampu merah, atau keramas di malam hari setelah kamu selesai bekerja. Kamu tahu, mungkin hidup semua orang, termasuk kamu dan aku, akan lebih mudah jika kita boleh menikah dengan bantal yang menyangga kepala kita setiap malam, yang mengusir demam, menjauhkan kuntilanak dari mimpi, mengamini doa-doa, merindukan kita di siang hari, menyimpan aroma sampo yang kita sukai, menyerap keringat, liur, air mata, tumpahan kopi tanpa sekalipun protes, dan berbisik ke telinga kita di tiap malam yang murung: "Berbahagialah. Berbahagialah. Di luar sana. Seseorang mencintaimu, seseorang tengah mencintaimu.." (Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal; cerpen pertama)

Film lebih-lebih, aku sampai kacau dibuatnya. Aku belakangan ini menonton banyak film, tapi sejauh ini sedang terkesima dengan ketiga judul ini; Little Big Women (2020), A Sun (2019), Dear Ex (2018). Ketiganya sama-sama film Taiwan dan menyoroti permasalahan keluarga yang kompleks, relasi bapak-ibu-anak yang intens. Di Little Big Women, kita akan bertemu sebuah keluarga yang baru saja ditinggal mati sang ayah, kematian itu sekaligus membukakan rahasia-rahasia di antara mereka. Soal sang ayah yang ternyata punya hubungan dengan wanita lain, kakak tertua yang diam-diam mengidap kanker, fakta bahwa mereka punya saudara kandung lain yang oleh orangtua mereka diserahkan ke adopter, dan detail-detail kompleksitas lain khas keluarga Asia. A Sun apalagi, emosiku sangat babak belur setelah selesai menonton. Masalah di keluarga ini frustating sekali; anak laki-laki pertama mereka yang sangat sopan dan penurut tiba-tiba bunuh diri, sementara sang adik mendekam di penjara atas kasus penyerangan, dan di tengah situasi yang membingungkan itu, pacarnya datang memberi tahu keluarganya kalau dia hamil. Aku sungguh tidak bisa membayangkan posisi ayah dan ibu mereka saat itu, semua hal terjadi bertubi-tubi dan seperti mengubur mereka hidup-hidup. Dear Ex juga masih membahas relasi ibu yang melankolis, dengan seorang anak yang merasa ibunya terlalu pemarah, dan juga satu karakter yang merupakan mantan kekasih almarhum sang ayah, seorang pria, homoseksual. Isunya sensitif, tapi penyampaiannya terasa dekat sekali. Selain keintiman cerita, film-film Taiwan ini juga memperlihatkan potret kota dengan detail-detail yang sangat artistik. Visualnya enak, tone warnanya cantik-cantik sekali!


Kalau kamu adalah seorang karakter film, kamu ingin jadi siapa?

Aku ingin jadi seperti Alyssa di series The End of The Fucking World (2017). Dia gadis pemarah, agresif dan hobi mengumpat, di saat yang bersamaan dia juga kerap bingung dan mempertanyakan dirinya sendiri. Tapi aku suka sekali cara dia menyelesaikan traumanya. Menyelesaikan perkara hantu yang bermukim di dalam dirinya. Alyssa punya isu yang sama denganku, aku ikut merasakan bagaimana cemas dan takutnya ia melalui itu semua. "Kau bisa terjebak di suatu tempat dan bahkan tidak menyadarinya. Jika kau tak hati-hati, kau bisa terjebak selamanya."


Apa yang membuat kamu bersemangat?

Aku semangat kalau dengar lagunya Rumahsakit, atau Pee Wee Gaskins. Selain itu, hidupku melempem.


Kalau begitu mari ganti pertanyaan, apa kamu punya ketertarikan dalam hal lain selain menulis blog?

Dulu jaman kehidupanku masih bergelimangan teman dan waktu luang, aku suka sekali jalan-jalan ke kuburan belanda, klenteng, pecinan, petilasan, situs-situs klenik, ke museum, ke masjid gedhe, gua maria, pertokoan kuno, maupun tempat aneh lain yang menyimpan banyak cerita sejarah. Waktu berlalu, teman-temanku sudah pada pergi jauh, dan ritual jalan-jalan cross cultural kami itu terhenti, digantikan rutinitas pekerjaan yang membosankan dan kehidupan dewasa yang menuntut banyak hal. Kadang-kadang, aku kangen melakukan perjalanan itu. Perjalanan menjelajahi hantu-hantu masa lalu.


Kamu terus menyebut hantu sedari tadi, apa kamu percaya hantu?

Aku percaya kalau dunia ini dihuni oleh banyak entitas, dan manusia tidak semestinya sombong akan eksistensinya sendiri. Lagipula, menurutku, hantu paling mengerikan itu sebenarnya adalah luka membusuk dan kenangan kelam yang membuatmu tertelan. Mereka menahanmu dan tak mengizinkanmu ke mana-mana. Aku tidak bisa menyaksikan kuyang, atau lelembut, pocong, atau kuntilanak dengan mata telanjangku, tapi aku bisa merasakan pahit dan sengsaranya kalau kita sampai terperangkap di masa lalu dan tak bisa melanjutkan hidup. Itu jauh lebih mengerikan. Di satu sisi, aku juga agak terobsesi dengan konsep hantu. Dia itu semu, surreal, tapi entah bagaimana keberadaannya seperti mampu melumpuhkan hidup seseorang.


Ada sesuatu yang ingin kamu lakukan?

Pikiranku belakangan ini penuh akan seseorang. Dia sedang sakit dan aku belum menengoknya lagi sejak terakhir kami bertemu di rumah sakit. Situasinya sedang sulit, dan kalau ada yang ingin aku lakukan, itu adalah mengupayakan agar orang itu merasa sedikit lebih baik dan sedikit lebih tenang, serta sedikit lebih percaya bahwa segala kesulitan itu nantinya akan berlalu. Selain itu, aku ingin potong rambut, kebal-kebul merokok sambil ngobrol dengan teman-teman sampai larut malam, dan aku juga ingin naik kereta ke Bogor.


Kenapa Bogor?

Aku cuma ingin pergi yang jauh. Ke Surabaya juga bisa, ke manapun, tapi harus naik kereta.


Ada sesuatu yang sedang kamu harapkan?

Kalau kupikir-pikir, hidup memang gudangnya masalah. Kita semua tak akan bertahan hidup kalau tak diterpa masalah. Jadi alih-alih menyebutnya sebagai cobaan hidup, aku mau jadi lebih terbiasa saja dengan itu semua. Terbiasa menghadapi masalah, terbiasa menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif, terbiasa mengekspresikan kemarahan dalam situasi emosi yang aman, terbiasa bicara dengan asertif, terbiasa berkompromi, dan terbiasa mengalami apapun. Aku mau punya cukup keberanian untuk mengatakan kalau aku sungguh tidak masalah harus mengalami apapun, asal aku punya sistem rekonsiliasi yang sehat. Bisa adaptif dengan segala kondisi adalah cara manusia bisa bertahan hidup. Dan di antara cara kerja sistem itu, salah satunya adalah punya lingkaran orang-orang dekat yang selalu mendukung dan menghargai keputusan kita. Apapun masalahnya, aku harap selalu punya support system. Apapun, apapun, asal kita nggak kesepian. Kesepian itu bisa berwujud seperti hantu yang murung.


Kamu bicara hantu lagi...

Hehe, maaf!


Apakah jam tidurmu aman?

Saat ini aku tidak ada masalah dengan pola tidur. Aku bahkan merasa aku lebih menyukai tidur ketimbang harus bekerja, bersosialisasi dengan orang-orang di luar dan menjalani hidupku yang sedang kusut. Itu yang tidak aman. 


Kamu sudah makan hari ini?

Ketika aku menulis ini, jam di kamarku menunjukkan pukul delapan lebih lima. Aku baru selesai mandi, memakai pelembab dan tabir surya. Ibuku hari ini memasak semur sapi, ada pecel sayur juga beserta sambal. Aku belum sarapan, mungkin itu sebabnya pikiranku agak berantakan dan bicaraku sangat melantur.


Apakah perasaanmu sudah membaik?

Terima kasih sudah bertanya. Aku selalu mengusahakan untuk yang satu ini.



*
Purwokerto, 2021