Rabu, Februari 28, 2018

Aku hari ini; ingin dirawat Ibu


Semalam aku di luar sampai pukul satu pagi 
Lalu tau-tau hujan berisik, sampai jalanan menggenang 
Tempat makan yang aku singgahi menyetel lagunya Arie Koesmiran 
Aku ingat bapak, dan sound speakernya yang baru dibelinya bulan lalu 
Terus sudah melamun saja, padahal ada artikel sulit yang harus aku baca 
Mana pelipisku berdenyut, sistem kekerabatan orang Batak Karo sepusing ini ya? 
Tidak bisa tenang, tidak bisa diam, pikiranku terbang-terbang 
Suara Arie Koesmiran 
Suara hujan deras 
Suara temanku yang mulai bertanya aneh-aneh, ‘mim, kamu merokok ya?’ 
Semua saling meredam, aku bingung 
Jadilah pulang setelah aku ingat aku harus pergi ke pasar pagi-pagi buta 
Bangun-bangun pun aku cemas 
Apakah aku demam? 
Kepalaku seperti ditindih karung 
Dahiku panas 
Terus perutku terasa dipelintir 
Sial, badanku lemas lagi 
Aku beranjak ke meja rias dan melihat wajahku 
Menyedihkan 
Kantung mataku seperti kandungan 9 bulan, anak rambutku mencuat ke mana-mana, hidungku berkeringat, dan aku tampak begitu layu 
Seperti tumbuhan tidak disiram seminggu 
‘Jangan mati dulu, jangan mati dulu’ 
Aku menepuk-nepuk dadaku dan menyambar air mineral 
Lalu menenggaknya bersama obat pereda pusing 
Tidur, bolos tiga mata kuliah, tidak keluar kos, tidak bertemu siapapun, dan tidak mau melirik ponsel (aku takut ditanyai orang-orang) 
Siangnya terbangun karena lapar 
Lalu terseok-seok menuju dapur dan memasak apapun 
Bagaimanapun juga aku harus makan 
Ternyata melegakan, rasanya tidak sesakit sebelumnya 
Pencernaanku membaik, cuma kepalaku yang masih suka berdentum 
Sisa hari aku pakai untuk meracau 
‘Kenapa terus merasa gelisah?’ 
Untuk beberapa hal, aku masih suka membohongi diri 
Tidak hidup dan menghirup dengan baik, tidak tumbuh dan meretas dengan baik 
Apa ini sebabnya jadi sakit? 
Malamnya aku menelpon Ibu, bertanya sedang apa 
Ibu sedang memijat Bapak, semoga Bapak tidak sedang sakit 
Tiba-tiba mencium bau minyak tawon yang sering dipakai Bapak 
Ngilu, suara Ibu terasa jelas di telinga 
Kalau boleh tidak bersekolah 
Kalau boleh tidak pergi jauh dari rumah 
Kalau boleh tidak mengenyam pendidikan 
Kalau boleh tidak memenuhi konstruksi sosial 
Aku ingin hidupku hanya bersama Ibu, 
Didekap Ibu 
Dirawat Ibu 
Lalu sembuh 
Tapi mustahil 

Jumat, Februari 23, 2018

konyol


jam satu pagi hatiku seperti meletus

aku ingin bilang halo
bertanya sedang apa

tapi takut

Jumat, Januari 19, 2018

Kaleidoskop 2017: perempuan di perantauan (bagian 2)

    April dan Mei rasanya menyenangkan kalau diingat-ingat. Selain menyibukkan diri dengan ikut organisasi, jadi relawan sosial, ikut demo di depan kantor gubernur, bikin screening sama klub film di kampus, nyempet-nyempetin diri ke hall teater karena sedang ribet pementasan, saya juga melakukan kegiatan internship alias magang pada sebuah proyek film yang sewaktu itu akan dirilis pada bioskop komersial. Film ini adalah jalur alternatif yang digarap secara militan oleh filmmaker lokal, keluar-masuk berbagai festival film di luar negeri dan menyabet banyak piala penghargaan, dua kali diputar di JAFF hingga tiket penonton ludes berkali-kali, lalu akhirnya berhasil mendapat ruang yang lebih populer untuk disajikan ke penonton, yakni bioskop komersial. Film Ziarah! Saya pernah menulis pengalaman berharga saya ini pada postingan panjang sekitar bulan Juni tahun lalu, silakan langsung ditengok saja dengan menilik lewat arsip blog! Periode magang saya berlangsung antara bulan April- Juni bareng temen-temen Distribusi Film.

    Ah ya allah sampai lupa! Di bulan Mei ini saya juga diberi kesempatan baik untuk riset kecil-kecilan di sebuah panti wredha daerah Giwangan untuk tugas mata kuliah Etnovideografi. Sebenarnya sudah dari bulan-bulan yang lalu sih persiapan saya bersama tim untuk ke sana, tapi seingat saya memang kunjungan rutin kami berakhir pada bulan Mei. Kami sering sekali berkunjung ke panti tiap weekend atau menyempatkan di hari-hari sebelum kami berangkat kuliah. Simbah-simbah di sana sangat ramah, dan juga pencerita yang baik. Saya bisa duduk berjam-jam di samping mereka hanya untuk mendengarkannya bercerita, soal masa mudanya, soal cerita keluarganya, dan hal tersebut bisa mereka ulang sampai berkali-kali, sampai saya hafal dialognya. They were really nice, dan saya selalu punya perasaan magis tiap kali bertemu dengan para lansia. Saya suka sekali kalau sudah menjabat tangan rentanya dan melihat kerut di wajahnya ketika tersenyum. I think I have talked about it many times, soal kecintaan saya pada tiyang-tiyang sepuh. Apalagi saya dipertemukan dengan tokoh Mbah Sri di Film Ziarah, wuih, semakin besar lah tingkat kekaguman saya pada kaum mereka.

    Juni masih sibuk merayakan Ziarah, ngampus untuk kuliah dan organisasi, ke hall teater meski cuma sekadar nongkrong dan ikut latihan, juga wara-wiri ngajar secara sukarela pada komunitas tertentu. Bedanya, Juni jadi bulan yang istimewa karena sedang Ramadhan vibes! Banyak hal baru yang saya lakukan pada bulan baik ini, seperti mencoba merajut, nonton pertunjukan Sisir Tanah di Teater Garasi, nonton kolaborasi indah antara Mbak Lani dan Sekar Sari (dua seniman Jogja yang saya kagumi), belajar meracik jamu, wisata religi ke masjid-masjid besar (dan kuno) di Jogja, serta banyak hal lain. Saya juga pernah merangkum ragam aktivitas saya selama bulan Ramadhan tahun lalu, silakan diintip saja dengan menuju ke arsip blog!

    Juli sangat menenangkan karena saya diberi kesempatan untuk merayakan Hari Raya di rumah, bersama keluarga dan orang-orang baik di kampung saya. Alhamdulillah dan bersyukur sampai pol. Karena rasanya begitu nyaman kembali ke sangkar setelah menjadi capek berbulan-bulan di kehidupan luar. Akhirnya saya pulang, akhirnya rumah.

    Pertengahan Juli juga masih menjadi bulan yang menyenangkan. Sehabis lebaran, saya sempatkan kembali lagi ke Jogja meski waktu libur masih tersisa lama. Saya naik kereta dari stasiun Purwokerto menuju Lempuyangan pada pagi harinya, lalu menonton pertunjukan teater berjudul Gejolak Makam Keramat di PKKH UGM pada malam harinya. Iya, demi nonton pentasnya ibu-ibu penyintas 65 yang terhimpun dalam kelompok Teater Tamara (Tak Mudah Menyerah). Mereka adalah penyintas tahanan politik (tapol) peristiwa 1965 dari Plantungan, Ambarawa, Bulu, dan lain-lain. And guess what, ini adalah pertunjukan teater pertama yang mampu membuat saya terkesima, bahkan sampai menangis. Pengalaman menyaksikan ibu-ibu itu melakukan pertunjukan akan selalu menjadi pengalaman yang tak ternilai bagi saya, it was really a most heartwarming performance. Saya bersyukur sekali bisa diberi kesempatan untuk terlibat di dalamnya.

    Masuk ke bulan Agustus? Saya ngapain ya? Sepertinya bulan ini tergolong selo, karena saya nggak lagi turut serta dalam euforia penyambutan mahasiswa baru di kampus. Saya nggak jadi panitia ospek di fakultas maupun universitas, soalnya tahun lalu sudah pernah, begitu alasan saya ketika ditanyai teman-teman. Bulan ini juga merupakan bulan sakit hati teraneh saya. Kayaknya saya jadi sering banget bersedih pada bulan ini. Persoalannya kompleks; soal laki-laki, pekerjaan, dan juga keluarga. Selain itu saya juga masih mengurus kuliah, kegiatan organisasi kampus, volunteering di komunitas sosial (buka lapak jualan di pekan seni), juga jadi penanggungjawab expo kampus untuk ngurusin teater.

    September! Bulan ulangtahun Ibu saya! Bulan ini jadi bulan yang dipenuhi refleksi akan diri saya pribadi. Saya jadi sering melakukan perjalanan hanya untuk berkontemplasi dan mengarungi diri, memikirkan hidup yang sudah sembilan belas tahun dan berpikir macam-macam. Saya pergi ke pantai, ke bukit-bukit megah, ke jalanan entah yang kanan-kirinya cuma terpampang sawah, ke air terjun, ke museum, pasar tradisional, toko buku seorang diri, ke pertunjukan-pertunjukan teater, nonton konser, beragam pameran seni dan festival, hanya untuk mencari tahu diri saya sendiri, tapi saya masih belum juga pergi ke gunung. Nggak tahu ya, mungkin karena belum dipertemukan kesempatan untuk naik gunung, atau memang saya yang secara badan belum siap, meskipun jiwa saya sudah meraung-raung ingin sekali naik gunung.

    Bulan September juga membuat saya kembali aktif belajar gamelan bersama suatu kelompok karawitan bernama Sekar Jindra, yang isinya memang cewek-cewek Antropologi dari lintas angkatan. Ada mbak Lani Frau juga di kelompok gamelan kami.

    Selain itu saya juga bertemu banyak orang-orang keren di bulan September. Kayak misal ketemu Wregas dan Ghyan di sebuah talkshow perfilman, terus Kadekarini dan Febrian yang mencerahkan saya soal dunia travel blogging, terus saya juga sempat ikut workshop dari komunitas Lab Laba Laba soal pita film seluloid di Festival Arsip, nonton Mbak Lani manggung, juga band-band favorit saya konser. September kenyang lah!

    Masuk bulan Oktober giliran saya yang ulangtahun. Menyambut usia dua puluh, saya banyak ikut kegiatan baru, kayak Jogja Berkebun dan bertemu dengan pengetahuan soal urban farming, istilah-istilah pertanian, permakultur, healthy food lewat veganisme, pangan organik, dan lain sebagainya. Saya juga magang di salah satu media lokal Jogja, jadi reporter berita, belajar meliput dan bikin narasi yang bagus. Saya nggak paham, meski sudah masuk antro dan melupakan jurusan komunikasi sejak kelas 2 SMA lalu, saya masih selalu punya keinginan untuk mencicipi kerja jurnalistik. Selain itu, saya juga melibatkan diri pada acara inisiasi antro di Jakal atas (meskipun tidak begitu intens). Yang jelas, Oktober membuat saya punya banyak kawan baru yang baik.

    November super hectic dan lumayan kacau karena sepertinya kegiatan saya sangat padat di bulan ini. Saya masih kuliah (dan mulai masuk minggu UAS yang chaos), masih mengurus organisasi kampus (dan sedang spaneng LPJ-an), masih magang di media lokal jogja (dengan semangat yang naik turun karena kadang-kadang saya nggak suka sama penugasan dan topik liputannya), masih volunteering anak-anak (meskipun lebih suka menghilang), sedang menggarap proyek pementasan Teater Gadjah Mada yang dilangsungkan di Desember awal (silakan ditebak saya berkutat di bagian apa, ya jelas setting properti lah!), dan dapat kerjaan baru mengurus festival film yang digalakkan oleh Dinas Kebudayaan. Kerumitan itu sebenarnya masih belum semua, saya masih punya tetek-bengek kecil yang kalau dijabarkan nggak akan ada habisnya. Tapi senangnya, November jadi saksi di mana akhirnya saya bisa nonton penampilan Tetangga Pak Gesang yang saya cintai dan saya sayangi pada malam pembukaan Biennale, bonus nonton mas Jason Ranti juga.  Saya juga berkesempatan mengerjakan proker kementerian organisasi kampus saya yang terakhir yakni Sekolah Media! Rasanya sumpah, melegakan sekaligus meredakan. Kayak pingin nangis setelah proker tersebut terealisasi, pun dengan LPJ-LPJ yang sudah selesai di hari sebelumnya. I’m done with all, tapi belum tuntas sih, karena masih harus LPJ-an dengan internal organisasi dan fafifu pergantian jabatan. 

    Akhir tahun! Astaga nggak menyangka sama sekali 2017 berlalu secepat itu. Kalau November jadi bulan yang super hektik dan kacau, maka Desember berada di satu tingkat lebih parah dari November. Yup! Bulan ini saya digempur habis-habisan. Tapi saya tetap chill karena tahu itu semua pasti akan berlalu, saya cuma perlu melewatinya saja. Awal bulan semakin panas karena pementasan teater dengan tajuk ‘Kupu Kupu’ (reformasi naskah Kapai Kapai-nya Arifin C Noor) akan berlangsung pada tanggal 7 dan 8 Desember. Setiap hari pulang pagi, setiap hari rapat produksi, begitu terus sampai selesai pertunjukan dan kami semua bikin lingkaran evaluasi di depan panggung. Saya juga banyak datang ke JAFF untuk bikin liputan berita, menonton banyak screening film-film bergizi dan merenung sesudahnya. Garapan UAS yang tak kunjung usai juga menguras lumayan banyak tenaga saya, setelah selesai bepergian ke sana-ke mari, malam larutnya barulah saya mulai mencicil mengerjakan paper-paper tersebut, dan baru bisa tidur menjelang subuh. Literally subuh. Di sela-sela ujian tersebut, saya masih sempat ikut kepanitiaan di FFPJ (Festival Film Pelajar Jogja) divisi Program, untungnya festival tersebut hanya berlangsung selama dua hari, kalau sampai seminggu seperti JAFF maupun FFD, bisa tewas lah saya di tengah kespanengan mengurus banyak hal.

    Desember juga jadi bulan-bulan LPJ mewabahi semua kegiatan-kegiatan kampus yang saya ikuti. Kalau bentuk LPJ di November masih berupa masalah admnistrasi seperti laporan kegiatan dan keuangan ke pihak kampus, Desember berbentuk laporan kerja yang disampaikan kepada publik secara langsung, beserta evaluasinya sisan. Saya LPJ-an dua kali di bulan ini, satu urusan Teater Gadjah Mada (membawahi divisi PSDM), dan lembaga eksekutif saya di Kementerian Media. LPJ-an TGM juga dibarengi dengan mengkaji AD/ART dan pemilihan ketua baru, jadi agendanya menguras waktu dan tenaga banget dari malam sekitar pukul sembilan sampai keesokan harinya pukul tujuh pagi. Tewas? Jelas. Tapi perasaan lega yang didapatkan setelahnya sungguh tak tertandingi oleh apapun. 

    Tentunya saya juga punya banyak pengalaman penolakan di bulan ini. Saya nggak mau secara eksplisit menjelaskan detil ceritanya, tapi saya akan bilang kalau salah satunya adalah saya ketolak KKN, sampai dua kali. Menjelang semester 6 memang menjadi periode yang sengit untuk persoalan KKN. Semua orang nampak berlomba-lomba membentuk tim KKN yang yoi dengan mengagung-agungkan potensi daerah. Esensi bekerja untuk masyarakat jadi kelihatan hilang. Baru pertempuran awal saja saya sudah kedepak oleh sistem. Bagaimana rasanya? Wo, ya ndak perlu ditanya, saya sudah kebal sekali dengan hal-hal semacam ini. Saya sudah di luar batas muak dan sudah mencoba legowo sekali. Santai saja lah, penolakan bukan akhir segalanya. Saya masih bisa bersenang-senang setelah ini.

    Bersenang-senang itu saya wujudkan dengan melakukan perjalanan ke Jepara bersama teman-teman cewek antropologi menaiki kendaraan motor! Menyusuri Jogja, Semarang, Demak, Jepara, dan melipir ke perbatasan Pati. Perjalanan ini tentunya menjadi penutup 2017 saya yang sangat crowded dan melelahkan. Saya bersyukur sekali akhirnya saya selesai dengan banyak hal. Saya sudah menyelesaikan banyak hal. Dan Jepara jadi reward yang paling menyenangkan. Saya banyak melihat lalu-lalang kapal dan perekonomian nelayan di sini, merasakan kehidupan kota kartini yang masih asri dan elok, mengalami banyak pengalaman seru, menemukan hal-hal baru yang membuat saya bisa berefleksi dan merenungi diri.

    So, this is why I called my self as ‘perempuan yang merdeka’. Saya merasa di tahun 2017 lalu, I can do anything that I want. Tidak ada paksaan dari siapa-siapa, tidak ada tekanan untuk mengerjakan hal lain yang tidak saya suka (kalaupun ada, biasanya saya memilih untuk hengkang). Saya murni jadi diri saya sendiri, murni karena memang ingin belajar banyak hal. Jatuh tersungkur, sakit, putus asa, pasti ada, karena itulah hidup. Tapi memacu diri untuk terus bergerak dan melakukan kebaikan adalah tantangannya. Melakukan kilas balik setahun kemarin seperti ini rasanya sungguh melegakan, saya nggak sadar telah melewati itu semua. Teman-teman mungkin hanya membaca part-part yang memang menyenangkan saja, tanpa tahu kalau sebenarnya saya pun banyak merasakan kesedihan di tahun kemarin. Dua hal itu yang kemudian membentuk diri saya lebih baik lagi, untuk terus belajar dan berkarya, tanpa membenci dan menyakiti orang lain.

    Saya juga bersyukur karena bisa tumbuh di lingkaran orang-orang dengan kegemaran terhadap hal-hal yang sama, rasanya menyenangkan. Saya punya banyak teman yang saling mendukung dan mendengarkan, meski saya berada di kondisi terjelek sekalipun. I am really grateful for these blessing. Hidup ini enak sekali, Tuhan.

    Mendiang Ibu Anna, dosen antropologi saya yang awal Januari lalu menghadap Tuhan, pernah berkata, dalam suatu kelas gender. “Selamat untuk kalian, perempuan-perempuan yang sekarang berada di kota orang untuk kuliah. Kalian ini sedang merayakan kemerdekaan kalian sebagai perempuan. Merdeka dari stigma tentang peran domestik, juga merayakan kesetaraan hidup.”

    Perkataan itu sangat menyentuh. Saya mendadak seperti punya keberanian baru untuk hidup.

    Saya sadar karena kata-kata itu bukan hanya berdampak pada saya saja, tapi pada seluruh teman-teman perempuan di bumi ini yang menggunakan waktunya untuk belajar di luar lingkungan tempat tinggalnya, jauh dari keluarga dan saudara, melepas diri di tanah asing lalu membaur dan mencoba hidup di lingkungan barunya. Perempuan-perempuan di perantauan, saya salut dan menaruh kagum untuk kalian di manapun kalian berada, yang sedang berjuang dan menjadi harapan baik untuk orang-orang yang disayangi. 

    Peluk hangat,
    Hamima 

bentuk kebahagiaan: volunteering!

ngegig dulu sob (Silampukau, 2018)

mengobrol dengan mantan srimulat jawa timur di panti wredha. saya sempat diberinya cincin akik warna merah. nuwun, mbah :)

dialog dini hari menuju pementasan teaterrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

temen-temen LEM habis selesai rapat

ibadah nonton teater dulu sob

konser terbaik saya!!!!!!! (sheila on 7 with luv) 

Rabu, Januari 17, 2018

Kaleidoskop 2017: perempuan di perantauan (bagian 1)

    2018 menjadi tahun ketiga saya hidup jauh di dataran provinsi DIY dan sekitarnya, although only 169 kilometers away dan dengan jarak tempuh 3 sampai 4 jam. Bagi saya hal itu sudah jadi pencapaian baik untuk saya bisa keluar dari zona paling nyaman; rumah, keluarga, tempat tinggal saya di desa yang tenang, dan juga orang-orang baik di sekeliling saya. Setidaknya saya sedang melatih diri untuk survive dengan mencebur ke dalam lingkungan yang multikultur, pada keadaan yang tidak segalanya berporos pada kita, pada dataran bumi yang lebih luas lagi. Karena kalau saya cuma berada di dalam tempurung, takut melongok ke luar, menutup diri dari kesempatan-kesempatan baik, saya jelas akan rugi banyak hal. Saya cuma akan diam dan berputar-putar dengan isi kepala, tanpa membebaskannya, tanpa menumpahkannya, tanpa mau melihat kalau sebenarnya kehidupan ini begitu kaya dan beragam, akan banyak hal. Lagi-lagi; banyak hal.

    Saya jelas masih mengingat alasan saya memutuskan untuk merantau setelah lulus SMA: saya ingin merasakan tinggal di luar rumah, dan cara untuk merealisasikannya kemudian adalah dengan kuliah. Karena SMA saja saya tidak punya keterampilan apa-apa, jadi ya begitu lulus kegiatan yang selanjutnya saya lakukan adalah sekolah lagi lebih tinggi. Untungnya, dengan saya kuliah, saya bebas pilih jurusan apapun yang saya mau, jadi saya tidak perlu lagi repot-repot belajar matematika, fisika, kimia, biologi, dan bidang-bidang lain yang sama sekali nggak menarik perhatian saya. Mata pelajaran - mata pelajaran yang cuma formalitas saya pelajari demi bisa dapat nilai yang layak di buku rapor.

    Pilihan jurusan kemudian jatuh kepada Antropologi Budaya (setelah semedi 1001 malam). Saya lalu membongkar banyak website dan platform di internet untuk mencari tahu di mana saya bisa kuliah Antropologi Budaya. Hasilnya adalah beberapa universitas keren; ada UI, UGM, Unpad, Udayana, UB, Unair, terus entah deh di mana lagi. Pilihan saya kemudian jatuh pada UGM yang berada di Jogja. Kalau tanya alasan, saya akan jawab dengan mantap; di Jogja kegiatan kesenian dan budayanya rame banget, nggak seperti di Purwokerto. Sudah itu saja cukup, silakan diinterpretasi sendiri-sendiri hahaha.

    Awalnya memang keinginan saya untuk kuliah di luar kota ditentang habis-habisan oleh keluarga, terutama Bapak. Saya pernah menulis di postingan sebelumnya kalau Bapak itu orangnya sangat konservatif, apalagi untuk urusan-urusan yang menyangkut dengan anak perempuannya. Tidak aman lah, bahaya lah, dan segala justifikasi dijadikan alasan Bapak. Tapi karena saya juga tidak mau mengalah dan merasa punya hak atas keputusan yang akan saya jalani (meskipun support dana masih ditanggung 100% oleh keluarga), lama-lama Bapak meleleh juga karena sepertinya beliau betulan sadar kalau step hidup setelah lulus SMA ini sepenuhnya ada di tangan saya. Voila, juga berkat doa Ibu yang manjur, saya kemudian kuliah antro di Jogja, ngekos dan hidup jauh dari lingkungan tempat tinggal saya di Purwokerto.

    Senangnya jadi perantau adalah saya bisa bertemu dengan manusia yang punya latar belakang budaya berbeda, keyakinan akan hal-hal yang berbeda, perspektif dan tata nilai yang berbeda, juga melihat dinamika hidup yang berbeda pula. Rasanya seru banget bisa berada di masyarakat yang majemuk, kita akan mendapat banyak pengalaman dan pemahaman yang baru, jadi terbuka dengan segala bentuk keragaman, lalu kita akan diantar pada sikap saling menghargai dan menyayangi sesama. Tidak ada kebencian dan kejahatan yang ditularkan, tidak boleh merasa paling-paling, tidak boleh merendahkan kelompok lain, no way. Pokoknya, merantau sama dengan melihat banyak hal yang akan memperkaya sudut pandang.

    Saya juga bersyukur, karena antropologi ternyata adalah bidang studi yang keren banget. Metode ilmu ini adalah etnografis, yang didapat dengan cara melakukan penelitian lapangan, terjun ke kelompok masyarakat langsung, live in selama beberapa waktu, menyelami sistem kebudayaan dan tatanan perilaku anggota kelompok, menjadi pengamat sekaligus ikut membaur. Sebuah observasi yang partisipatif; melihat dimensi sosial di luar lingkaran kita, melihat orang-orang saling bersinggungan antar sesama, melihat bahwa kita semua ternyata saling terkoneksi dan punya keterhubungan yang bisa dijelaskan secara kultural.

    Tulisan ini akan jadi semakin panjang karena saya akan mengilas balik satu tahun kemarin, perjalanan selama di tanah rantau yang membuat saya sungguh-sungguh bersyukur untuk segala hal yang dihantarkan Tuhan di dalam hidup. Tahun kemarin saya cukup banyak menempa diri dengan berbagai kesempatan baik. Hal itu tentunya nggak semerta-merta saya dapatkan dengan bergelung selimut di kasur atau duduk manis di ruang kelas. Saya menghabiskan waktu dengan terus berpergian ke berbagai tempat untuk menemukan kesempatan-kesempatan baik itu. Saya lagi-lagi mencoba untuk melihat banyak hal dan menceburkan diri ke dalamnya, menjadi basah bersamanya.

    Januari, dan bulan-bulan sebelumnya di tahun 2016, menjadi bulan persiapan saya untuk mementaskan pertunjukan teater berjudul ‘Kemalingan’. Saya mengepalai bagian setting properti yang saya kerjakan bersama Hening, teman dari jurusan filsafat, dan hanya kami berdua –perempuan-perempuan cilik. Kegiatan padat tersebut saya selingi dengan menggarap projek sosial di salah satu komunitas kerelawanan yang bergerak di isu anak jalanan, dan hal ini sangat menyenangkan karena saya bisa bertemu dengan teman-teman kecil yang berani, punya daya juang yang hebat untuk bertahan hidup, serta orang-orang baik yang mau meluangkan waktunya untuk menengok kehidupan teman-teman kecil jagoan tadi. Para relawan dan anak-anak adalah kombinasi baik yang manis.

    Masuk bulan Februari dan mendekati tanggal pentas, saya semakin hectic mengurus ini-itu di hall teater bersama teman-teman satu tim, sampai seringkali harus pulang ke kos ketika sudah jam 1 atau 2 pagi. Kerja keras kami semua kemudian terbayar ketika akhir Februari kelompok teater kami sungguhan melakukan pertunjukan di gedung IFI-LIP Sagan, menghadirkan kurang lebih 400an penonton dalam waktu dua hari, mengantarkan kami pada tepuk tangan ramai dan riuh seusai pertunjukan. Lega! Perasaan yang didapati setelahnya sangatlah menyenangkan. Apresiasi teman-teman adalah semangat saya untuk bisa terus berkarya.

    Februari juga jadi kali pertama saya mengunjungi Solo (setelah sekian lama) bersama teman-teman teater untuk menghadiri sekaligus mengirimkan perwakilan kami dalam agenda festival teater yang dihelat oleh UNS. Saya bermain ke Pasar Klewer, mengitari kompleks keraton, mengunjungi ISI, mencicipi gedung pertunjukan di Taman Budaya Jawa Tengah, dan merasakan banyak perasaan senang. Tahun ini saya akan merencanakan perjalanan ke Solo lagi!

    Maret adalah bulan yang sangat mendebarkan, karena saya dititahi amanah besar untuk jadi Menteri Media dalam suatu lembaga eksekutif di kampus. Kaget jelas iya, selebihnya adalah perasaan bingung yang menjalar, mengingat saya belum pernah punya pengalaman organisasi lembaga. Mentok-mentok paling seperti forum komunitas atau kolektif seni begitu. Meski awalnya ragu dan pesimis karena saya cenderung nggak suka dengan sistem kerja mirip-mirip birokrat pemerintahan, tapi toh akhirnya saya mengiyakan ajakan Ibu Presiden yang sewaktu itu menelpon saya malam-malam lewat aplikasi line. Sisan saya nyemplung deh, nyambi belajar organisasi di lembaga yang ngampu fungsi eksekutif di wilayah kampus saya. Fyi, struktur kepengurusan organisasi di UGM memang mengadopsi seperti sistem pemerintahan di Indonesia, yang mana juga memegang kekuasaan eksekutif dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintah sehari-hari. Jadi jabatan resminya ada pada Presiden sebagai kepala tertinggi, lalu dibantu menteri-menteri dalam sebuah kabinet. Kalau eranya Jokowi dinamai Kabinet Kerja, maka di FIB, kampus saya, dinamai Kabinet Teman Dekat. Terdengar ramah dan akrab ya? Soalnya memang itu yang ingin diusung oleh kami-kami –pejabat eksekutif kampus, kami ingin jadi teman dekat bagi seluruh warga di fakultas yang merangkul dalam berbagai aspek, akademik maupun non akademik, pokoknya ranahnya di FIB begitu.
 
    Yang jelas, pengalaman satu periode mengarungi diri bersama organisasi mahasiswa tersebut membuat andil besar atas terbentuknya Hamima yang sekarang. I mean, that’s how I grew up. Saya lagi-lagi menerpa diri saya dengan banyak kesempatan baik supaya saya bisa terus tumbuh, berkembang dan menjadi mekar. Because you change as you get older, dan perubahan inilah yang harapannya akan selalu ke arah yang lebih baik, meskipun hanya setitik kebaikan.

    April dan bulan selanjutnya akan saya sambung di tulisan berikutnya! Sudah jam satu pagi dan saya mau istirahat dulu, hehe.

Rabu, Desember 13, 2017

The Seen and Unseen: 'Magical Belief' yang Menyihir

Tantri yang artistik

    Berbekal penasaran karena melongok trailer film ini dan membaca beberapa review menarik di internet, sore harinya saya memutuskan untuk bertandang ke JAFF yang digelar di Empire, menuju meja media center dan menuliskan nama beserta instansi saya, lalu mendapat satu tiket masuk tanpa mengocek uang lima belas ribu dan susah payah ikut antrian penonton. Enak kan uripku?

    Ketika saya selesai mengurus registrasi dan menerima bonus kartu pers, salah seorang teman yang juga menjadi panitia divisi ticketing berseru sebelum saya berlari ke ruang bioskop (karena pemutaran sudah mau dimulai), “Bikin liputan yang bagus ya!” Hehe, iya, saya datang sebagai orang media partner untuk liputan screening. Kan lumayan, ya, bekerja sambil bersenang-senang.

    ‘The Seen and Unseen’ yang diputar dalam program Asean Feature Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2017 menyoroti kisah Tantra dan Tantri, kembar buncing yang memiliki relasi khusus dan saling melengkapi. Mereka hidup di sebuah pedesaan Bali yang religius dengan latar berupa hamparan sawah dan ladang-ladang hijau. Kembar buncing adalah istilah Bali untuk mendefinisikan anak kembar dengan jenis kelamin yang berbeda, yakni seorang laki-laki (Tantra) dan seorang perempuan (Tantri). Kembar buncing oleh masyarakat lokal Bali dianggap sebagai simbol keseimbangan dalam hidup.

    Simbol keseimbangan tersebut diwakilkan lewat beberapa adegan seperti Tantra yang hanya mau makan kuning telur dan Tantri yang juga menyukai putih telur. Keduanya merekah beriringan sebelum Tantra kemudian jatuh sakit dan dirawat inap selama berhari-hari. Kondisi tersebut membuat Tantri menjadi layu dan dihinggapi perasaan kosong. Tantri sering melongok saudara laki-lakinya di rumah sakit, memandangi Tantra yang tergolek lemas di atas ranjang dengan tatapan menerawang. Tantri seperti diselimuti banyak pertanyaan, tentang mengapa tubuh Tantra ada di sana dan mengapa ia tak kunjung bangun. Mengapa Tantra terus diam?

    Kamila Andini selaku penulis dan sutradara film dalam sesi Q&A menuturkan bahwa The Seen and Unseen merupakan sebuah filosofi Bali yakni Sekala Niskala, yang berarti sesuatu yang terlihat (Sekala) dan tidak terlihat atau gaib (Niskala). “Hidup itu terdiri dari 2 hal tadi, antara yang kasat mata maupun tidak, dan ini mendefinisikan bukan hanya pada masyarakat Bali, tapi juga masyarakat di Indonesia. Kita tahu bahwa masyarakat kita sangat mempercayai hal-hal seperti itu.” imbuhnya.

    Ayu Laksmi yang berperan sebagai Ibu dari Tantra dan Tantri juga ikut menjelaskan tentang kepercayaan masyarakat Bali terhadap hal-hal yang tidak tampak. “Setiap hari ketika kita terjaga dari tidur, hal yang kita lakukan adalah berupa penghormatan kepada Yadnya untuk Tuhan, maupun Yadnya untuk Bhuta atau alam semesta. Karena masyarakat Bali punya konsep Tri Hita Karana.” ujarnya dalam balutan kebaya Bali putih. Konsep Sekala Niskala, menurut Ayu Laksmi, diartikan sebagai wujud lain dari bentuk penghormatan kepada yang tidak tampak.

    Dia juga menambahkan, Bali dipilih sebagai setting tempat karena tradisi tersebut masih dirawat di kota-kota besar maupun di desa-desa yang terpencil, dan hal itu terlihat sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, film yang menjalani proses produksi selama 5 tahun ini juga mengangkat kepercayaan (deep connection) masyarakat Bali terhadap bulan, di mana mereka juga memakai siklus bulan untuk mengatur perhitungan kalendernya. Sistem kepercayaan itulah yang kemudian dijadikan elemen utama sekaligus kekuatan dalam film The Seen and Unseen ini.

    Bagi saya, film ini adalah film yang sungguhan merepresentasikan anak-anak sesuai porsinya mereka. Kita, orang-orang dewasa, diajak masuk menyelami dunia imajinernya anak-anak, membawa kita pada pengalaman spiritual dan hubungan emosional anak-anak, yang bagi kita mungkin terlihat sangat aneh dan mustahil, tapi entah kenapa rasanya jadi begitu magis. Sinematografinya saja cantik sekali, banyak unsur lokalitas Bali yang diusung, saya seperti sungguhan bisa menghirup aroma dupa dan menjejakkan kaki di lahan sawah di sana. Wardrobe yang dipakai Tantra dan Tantri, koreografi pada setiap adegan lekukan tubuh, pemilihan dialog, bahkan sampai hal-hal sedetil piring seng yang dijadikan properti, bagi saya semua itu terpampang sangat indah. Kamila Andini beserta teman-teman kru lain, saya kira sudah cukup berhasil mengemas The Seen and Unseen menjadi sajian yang manis dan hangat. Pantas saja kalau film ini berkesempatan diputar perdana di ajang Toronto International Film Festival (TIFF) 2017.

    Dunia anak selalu dicitrakan dengan hal-hal bernuansa menyenangkan dengan tone warna cerah dan ceria, tapi Kamila Andini menampik hal tersebut dalam menggarap filmnya. Kematian dan jam malam adalah dua topik yang asing dengan anak-anak, untuk itu, Kamila mencoba menuturkan hal-hal tersebut lewat visual yang menyihir. Melihat Tantra dan Tantri dalam The Seen and Unseen, rasanya seperti sedang merayakan kesedihan dengan cara yang begitu memikat. Perasaan itu larut seiring dengan geliat Tantri yang menyadari kehidupan kembarnya, Tantra, lama-lama memudar. Tantri bercengkerama dengan imajinasinya soal Tantra, melalui malam-malam dingin dan temaram purnama, lalu menjadi beku kembali ketika siangnya Tantri ternyata masih mendapati Tantra berbaring di kasur rumah sakit.

“This situation opens up something in Tantri’s mind: she keeps waking up in the middle of the night from a dream and seeing Tantra. The night becomes their playground. Under the full moon, Tantri dances—about her home, about her feelings. As the moon dims and is replaced by the sun, Tantri’s becoming a woman eclipses Tantra’s fading life.” - JAFF 2017.

    Terima kasih sekali mbak Kamila Andini, untuk perspektif baru mengenai hidup yang sangat segar! Sukses untuk pemutaran di bioskop komersil 2018 mendatang!

Ibu dan Tantri