Jumat, September 20, 2019

kerlap-kerlip

tak pernah ada bintang di langit kota yang terlalu meriah
tetapi malam-malam belakangan ini bulan berpendar dengan penuh
kelam tapi terang benderang
remang tapi hangat merekah
segala bilur berangsur kabur
dan dadaku disesaki perasaan samar

aku menulis ini tidak dalam keadaan sedih
;itu pertama
hal kedua, hari ini aku sama sekali tidak menangis
pikiranku tenang dan tak bergelombang
tak ada emosi lain yang meluap dan mencurah
pun suara-suara berisik yang meneriaki kepala
dan makian bangsat, bangsat, bangsat
atau rasa takut serta gelisah yang bergolak

kecuali;
aku menemukan diriku menjelma menjadi kerlap-kerlip kecil
yang riang dan semarak
berbinar dan berseri-seri
letup dan pecah; untuk perasaan-perasaan yang merona
debar-debar asing yang berloncatan
atau apa ini namanya, riuh rasa yang manis dan tiada habis

itu adalah hal ketiga, yang sangat mengusik dan akan ku perjelas dengan pertanyaan;
apakah aku sedang disihir?




19/9
di antara keadaan yang paradoks.

Selasa, September 17, 2019

abu-abu

aku minta maaf,
aku bikin anak manusia sedih dan sakit hati lagi
malamnya aku menangis, tidak menduga dan bingung dengan cara hidup ini bekerja
aku minta maaf sambil sesenggukan, tak tahu lagi
kenapa perasaan sakitnya jadi balik menimpaku seperti ini
jadi dua sampai tiga kali lipat sakitnya
aku ingat diriku di kehidupan yang lalu, aku pun pernah mengalami hal yang sama, dan aku pun cuma bisa terpekur seorang diri, tak bisa melakukan apa-apa
perasaan dan segala kejadian yang berkelindan itu sungguh sakral
aku minta maaf
aku ingin selalu diingat dengan hal yang baik
tapi kalau pada akhirnya aku menyedihkan begini
aku bisa apa


di lain hal, isi kepalaku sungguh kacau, aku bisa menangis enam kali dalam sehari
hanya karena satu orang
lalu kalau pikiranku mencuat, saling berhambur
dan aku tak tau harus menenangkannya dengan apa
aku akan bilang pada diriku sendiri
siapa kita ini manusia, yang pernah menyakiti dan disakiti
semua manusia juga begitu
perasaan itu ada dan mengendap dalam setiap degup, debar, detak
alih-alih menghukum diri, dan balik melukai diri
aku akan menangis lagi
sambil bicara
"aku berhak merasa baik, dan tenang
serta hidup dengan baik, dan tenang
serta mencintai dan dicintai
dengan baik, dan tenang
aku cukup"
tuhan, kali ini hal-hal itu mengusikku, dan aku mau coba untuk percaya
lapangkanlah


kepada ibu, selamat ulang taun
satu tahun yang lalu aku bilang akan berhenti menangis dan menangani semua hal
tapi nyatanya sampai malam ini aku masih suka menangis, dan aku tak bisa menangani beberapa hal
aku mau tumbuh dewasa dengan baik, tapi kenapa dalam perjalanannya aku jadi payah dan runyam begini
aku sadar kalau menangis sudah seperti mekanisme pertahananku melawan hal-hal bising di dalam kepala
kalau aku tak menangis, aku pasti sudah gila dan mati dalam wujud yang sia-sia
jadi, mungkin aku tak akan berhenti dan akan terus menangis, tapi ibu boleh mengingat ini; aku akan jadi anak yang kuat setelahnya


panjang umur ibu, yang harum semerbak teduh wangi tenang lembut dan hangat
aku tidak bisa tidur
menulis kalimat-kalimat sedih ini
dan terus berpikir soal kepergian



14/9
satu malam setelah semua itu terjadi.

Selasa, Agustus 06, 2019

asam lambung

mau tau rasanya? apa ya bahasa indonesianya overwhelming? semua perasaan masuk. pingin muntah, tentu saja. GEMETAR, PUSING, JANTUNG BERDEGUP KENCANG, berdiri tegak juga nggak mampu, ah iya, OLENG, seperti orang teler, NAPAS JADI SESAK dan lapar, hari ini aku baru makan sekali.

aku pingin dikata-katai goblok keras-keras tepat di depan telinga, kalau bisa semua umpatan kebun binatang juga masuk, yang penting jangan ada kontak fisik, aku sedang lemas.

bagaimana cara menjelaskannya ya? kemarin aku benci diriku setengah mati. aku mengisolasi diri seperti orang gila. aku tidak bicara pada siapapun, ibu kosku sampai menelpon tiga belas kali, tapi itu karena dia mau nagih uang. aku bertengkar dengan sahabatku. telunjukku teriris pisau ketika sedang memotong sayur. aku demam dan tak punya obat apapun yang bisa diminum. aku benar-benar tak menyukai diriku sendiri. cermin di kamarku pecah dan aku malas membereskan pecahan belingnya. aku muak dan ingin menelan diriku hidup-hidup.

kadang benderang, kadang temaram, kadang remang, kadang menghilang. malam ini aku sungguh-sungguh mengasihani diri sendiri. aku jadi seperti gelas yang tak mampu menampung air yang sedang dituang, jadi meluber, jadi meluap, jadi tumpah dan basah. bagaimana mengatakannya ya? aku ingin bilang kalau aku sedang merasa lapang. aku jadi seperti halaman belakang rumah yang ditanami bunga-bungaan liar dan dijadikan tempat bermain anak-anak. aku jadi seperti angin sore yang ditiup lembut, langit teduh menuju magrib, hujan deras yang perlahan reda. aku tenang, dan rasa-rasanya, aku tak ingin apa-apa kecuali bisa selalu merasakan cukup terhadap apapun yang tengah dicecap. kekhawatiran-kekhawatiran, kecemasan, gelisah, perasaan kusut dan gamang, semuanya. “yang dalam riang ringkih, rumit dan terhimpit.”

meski tak menentu dan kadang sembunyi, meski tak kunjung tau ujung jalan, bangsat, bangsat, bangsat, ini semua karena asam lambung.


*
karena mendengarkan Temaram - Polka Wars, 2019.

Sabtu, Juni 29, 2019

—yang tidak dibicarakan

mau berhenti dan menekan segala pikiran-pikiran yang menghimpit kepala sampai pusing dan rasanya pecah,

berat tapi seseorang terus berkata
"tenang, mima, tenang..."

i love seeing my self doing better, anyway. meski jam dua pagi bisa tiba-tiba nangis, tanpa stimulus, tanpa tau apa yang sebenarnya sedang terjadi, tanpa mengerti bagaimana kekacauan itu mendadak meletus. andai aku bisa menjelaskannya dengan mudah di sini.

aku telan semua ucapan baik-baik, sekalipun hal-hal kecil yang tak bersinggungan dan justru bikin melompong, aku percaya segala peristiwa itu dinamis, tidak tetap dan abadi. aku merenungi itu semua sambil terus-menerus menyambar tisu, mengelap mata yang terus-menerus basah dan terus-menerus berair. menangis itu sungguh melelahkan sekali.

tidak bisa tidur, mual-mual, demam tinggi, pingin lepas kepala, berat, tapi seseorang terus berkata
"tenang, mima, tenang"

aku juga mau. tapi bagaimana kalau perasaan cemas ini kekal?
aku sangat takut.



28/6
akibat terbangun tengah malam

Senin, Juni 03, 2019

puisi tak selesai


duapuluh kilo per jam menyusuri sudirman yang lengang dan tergenang
lambat dan tercekat
malam ke tigabelas di akhir tahun
musim penghujan dan bulan benderang
selepas subuh, setelah diputus kekasih 
dan kecupan dingin yang mengendap di kening
...



/
mati, puisi ini tak akan rampung
seseorang telah runtuh dan meluruh
bersama segala hal sia-sia yang selama ini tumbuh 

rapalku diam-diam dalam perjalanan;
semoga hal-hal yang terus berulang ini suatu saat bisa berhenti 



*
Stasiun Tugu, 2018.