Jumat, Agustus 14, 2020

di suatu sore yang lepas


aku akan mengingat
tahun ini sebagai
pelajaran me    l  e
                  pas    kan
pekerjaan, uang, 
pertemuan, pulang,
serta kesibukan.
bahkan hari esok.
sbab yang kumiliki
adalah sekarang,
yang kupunyai adalah
        hari ini.
–tere.








lamat-lamat aku menekan kelopak mata dengan punggung tanganku untuk menahan tangis
sembari tetap mengayuh, ku lekatkan pandangku pada punggung bapak yang semakin menua,
langit sore yang mulai menguning,
matahari di sisi kiriku yang mengecil dari kejauhan,
berkas-berkas lampu jalanan yang menyala redup,
bulan sabit yang berpendar samar di atas kepalaku, sungguh malang anak ini
dan kekosongan yang secara pelan-pelan terus menelanku. 

terentang jejak di belakang
dan hilang yang kelak di depan
...



Agustus,
masuk musim penghujan di 2020.

Jumat, Juli 10, 2020

badai lebat

I've been trying to remember that
all the thoughts I'am having may be real,
but that doesn't make them true


tidak mau segamblang ini menjelaskan situasi. tapi pengungkapan seperti apa yang dapat menggambarkan bahwa aku masih sering menangis selain dengan mengatakannya secara terang-terangan; ya, aku masih sering menangis.

beberapa sebab dapat ku jelaskan dengan mudah, namun yang lebih banyak terjadi adalah kebingungan-kebingungan mendapati mengapa diriku menjadi seolah begitu terluka, entah kenapa. aku mengakui respon-respon emosi tersebut selalu muncul ketika sedang sendiri dan tengah larut dalam ombak pikiran, dalam suasana malam yang panjang, lengang dan tak ada ujung, atau dalam sepi-sepi yang seperti hantu, terasa begitu mengerikan.

namun satu hal yang harus selalu aku lekatkan dalam diriku; aku tak boleh menangis di depan orang, jujur saja bagiku itu seperti aib yang harus disimpan. pun karena aku sudah berkali-kali bilang bahwa aku tidak ingin diingat sebagai sesuatu yang menyedihkan, meskipun sudah pasti kebanyakan dari kalian telah menganggapku bahwa aku adalah seorang anak perempuan kecil yang gemar bersedih, dan rapuh. tapi tak apa, bentuk kesedihan itu sesungguhnya aku telan dan proses untukku pribadi, tidak aku sandingkan di depan manusia, tapi kalaupun itu tumpah di sana, berarti aku sedang tak benar-benar mampu untuk menahannya.

lagipula kita ini siapa? cuma manusia yang bagai diam, tapi rumit, serta ringkih, seperti mengapung di lautan lepas, tak sungguh-sungguh paham dengan apa yang sedang terjadi. aku percaya betul enerji itu menular. aku cuma tidak mau menulari orang-orang dengan kegelapan yang aku punya. jadi ketika gelombang emosi yang bergulung itu tiba-tiba menerjangku, aku akan berhenti dan menepi sesaat. aku akan hilang dan membiarkan diriku tertelan dalam pusaran waktu. menyelam sebentar untuk merasakan getar dari kedalaman emosi yang kuterima. sinyal-sinyal yang merespon bahwa ada sesuatu dalam diriku yang perlu aku proses. lantas menampungnya dan ku olah untukku pribadi. meramunya menjadi rangkaian pesan yang barangkali akan ku kirimkan pada diriku di masa silam, kini, dan suatu saat nanti. pesan-pesan yang akan membawaku pada kesadaran realitas. kesadaran akan entitas.


lalu ketika aku telah rampung, aku akan pelan-pelan menyambut diriku kembali dan menggenggamnya erat dengan sekuat hatiku. "yang aku punya cuma diriku sendiri" adalah sesuatu yang apa adanya.

aku boleh lepas dan tercerai-berai, tapi tidak untuk waktu yang kekal. kalaupun badai lebat ini akan menyerangku kembali, setidaknya aku tahu bagaimana caranya bertahan meskipun kekacauan ini seperti melumatku hidup-hidup.

yang selama ini aku lakukan adalah mencoba dan bertahan, mencoba dan bertahan, mencoba dan bertahan. aku tidak tahu akan terbawa ke mana, aku tidak berani mengharapkan apa-apa, aku tak sungguh-sungguh sekuat itu, dan aku pun tak sungguh-sungguh sehebat itu.

tapi tidak apa-apa, tidak apa-apa, semua orang mengalami ini. aku rasa bukan hanya aku yang bisa menangis sesenggukan di tengah malam selama hampir tiga jam, bukan hanya aku yang melalui hari gila penuh pikiran pahit selama berminggu-minggu, bukan hanya aku yang mendamba sesak dan kekalutan yang menggumpal di dada.

seperti aku, mereka mungkin menyimpannya rapi dalam kotak-kotak yang mereka sembunyikan. kesedihan itu selalu terpelihara dalam ruang personal orang-orang.

selalu belajar. selalu selamat.



(9/7)
malam hujan lebat, merayakan hari pertama menstruasi yang begitu sentimental. tai.

Minggu, Juni 21, 2020

surealis

dunia ada di luar genggamanmu
tapi kau diam dan tak bisa bergerak
respon-respon dari kejadian sehari-hari
pemaknaan-pemaknaan yang semu
tindakan-tindakan yang merepresentasikan
ingatan-ingatan personal akan seseorang
berulang-ulang dan t i a d a h e n t i

bayangan malam hari di kereta yang bergerak
dan hujan dua pagi yang memunculkan pengalaman indrawi
perasaan menelusuri kabut tipis yang lengang
dan jalanan yang melambat di suatu kepulangan
ialah hal-hal surealis yang tak kasat mata
menyakitkan namun i n d a h

pusaran spiral kecemasan
menelan bersama kabar-kabar duka yang beterbangan
kilas balik tentang frustasi dan kesenangan masa kecil
proses-proses memahami
pengalaman mencecap rasa
kesadaran-kesadaran di ambang pikir
utuh tapi t e r b e l a h

sementara
mimpi malam tadi berlalu amat cepat
beban harapan terbang satu-satu dengan lamban
kekacauan-kekacauan yang terbungkus rapi
menjadi rumit dan berkelit
kita belum tahu apa-apa, tapi tak mengapa
kita belum sampai mana-mana, tapi tak masalah
a k u t i d a k b u t u h j a w a b a n n y a


20/6
jadi dewasa itu kompleks

Minggu, Juni 07, 2020

intuisi

percaya atau tidak, tetapi
hidup seperti perlintasan yang membuatmu berhenti dan berpikir
ke manakah perginya harapan-harapan yang layu dan tak terpupuk?
doa-doa hening yang dirapal pelan di malam tenang yang tak pernah sekalipun mewujud?
hati-hati patah yang tercerai lepas dan membuatnya tak utuh?

barangkali mereka melayang ke langit-langit dan membentuk awan, 
sebuah biru yang terang dan membuat hatimu lapang

barangkali mereka ikut hadir di antara sesuatu yang merentang lebar dan tak terjamah ujungnya itu,
menghibur dan menyambut pagimu yang selalu tampak keruh —seperti biasanya

bahkan barangkali mereka mewujud menjadi intuisi yang selama ini bermukim di dalam dirimu,
yang membuatmu seakan terlempar dan selalu mengejutkanmu,
kata hati-kata hati yang tak pernah berhenti membisikimu;
'selalu ada segala sesuatu yang bisa diserap'

yang jadi sia-sia itu ternyata selalu bisa dipelihara,
mungkin intuisiku kali ini benar




29/5
dalam perjalanan melihat langit pagi

Jumat, Mei 15, 2020

langit bergulung, basah jalanan, sore gerimis

bau panggangan roti kering dan cangkir kopi yang mengepul panas
samar-samar bagaikan langit yang bergulung, menghilang tanpa arah
wangi basah jalanan dan derap sepatu kets
atau percakapan-percakapan di sabtu sore yang akan gerimis

seorang teman pernah bertanya
what are you most afraid of?
mungkin dulu rasanya hanya seperti jatuh dari sepeda hadiah ulangtahun
lutut berdarah karena terjerembap mengejar teman
sepotong kue cokelat yang habis dilumat kakak
atau sayup-sayup melintasi malam dan ditakuti hantu perempuan
sampai di suatu waktu
tak seorangpun menyadari peristiwa masa kecil itu ternyata dapat mengantar kita pada hal-hal gila yang membuatmu membeku
satu per satu, aku seolah dapat merasakan kembali tubuh kecil yang kaku, memegang arumanis yang dikerubungi semut, perih betadin yang menutupi luka, isakan-isakan yang tertahan, dan ketidaktahuan menghadapi apa yang sebenarnya terjadi di depan mata

bau roti kering itu sudah lewat, gelas kopi mengerak dingin dan terasa hambar
tak ada langit bergulung, tak ada wangi jalanan basah
percakapan-percakapan yang terlintas di sabtu sore juga mengabur dalam riuh kepala
gerimis menjadi deras, membuat halaman rumah dan pot-pot bunga ikut tergenang 
tak ada apapun yang benar-benar tersisa
selain udara penuh, tapi napasmu jatuh
selain hidupmu utuh, tapi harimu runtuh



14/5
di teras belakang