Rabu, Mei 26, 2021

Daftar Pertanyaan yang Dapat Kamu Tanyakan Pada Dirimu Sendiri Ketika Sedang Merasa Hilang Arah


Hai, Mima. Bagaimana kabar hari ini?

Tidak sedang sedih dan tidak sedang senang. Biasa saja. Belakangan ini hari-hariku berjalan seperti itu. Kalau aku menangkap momen-momen yang terasa begitu menyedihkan atau begitu menyenangkan, itu hanya akan bertahan sebentar dan setelahnya akan lewat begitu saja. Yang ku hadapi selanjutnya adalah perasaan kosong yang seperti mengulitiku hidup-hidup. Hm, aku memang seperti hantu hidup, sih.


Kalau begitu kapan terakhir kamu merasa begitu sedih dan begitu senang?

Semalam aku baru saja menangis sesenggukan ketika dalam perjalanan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah pun aku masih menangis selama setengah jam, lalu ketika sudah capek aku menenggak air kulkas banyak-banyak untuk menenangkan diri. Air mataku habis dan aku dehidrasi. Malam itu sebenarnya tidak ada hal aneh yang menimpaku, aku cuma sedang merasakan takut yang amat besar sampai aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku seperti bertemu hantu yang sangat seram dan siap menerkamku saat itu juga, tapi nyatanya, itu cuma ilusiku belaka dan aku sedang tidak mengalami apa-apa.


Kalau saat senang?

Oh ya, kemarin aku merasa cukup senang setelah selesai ngobrol dan berkenalan dengan orang-orang Penastri, sebuah perkumpulan dan ruang konsolidasi untuk pegiat teater di Indonesia. Aku juga senang karena malamnya hujan turun deras sekali setelah sekian lama aku merasa begitu kering. Selain itu, tak ada, segalanya tampak normal seperti biasa.


Ada hal tertentu yang sering kamu pikirkan belakangan ini?

Entah kenapa aku terus memikirkan soal kematian seseorang. Aku bisa terus-menerus membayangkan peristiwa itu dan dengan detail mengatur alur ceritanya. Ini menakutkan tapi aku juga tidak bisa melepaskan pikiran tersebut. Aku terus membuat banyak pengandaian dalam kepalaku soal kematian orang itu. Anehnya, aku juga sampai menangis karena bayangan yang ku konstruksi sendiri itu. Rasanya seperti sedang menghadapi hantu yang ku ciptakan sendiri. Aku memang sudah gila.


Apa ketakutanmu saat ini?

Saat ini aku sedang takut kalau harus pulang sendirian ketika sudah lewat pukul 9 malam, apalagi kalau jalanan sudah sepi dan penerangannya minim. Selain itu, tidak ada. Aku bisa menghadapi hari dengan keadaan apapun. Aku cukup tangguh untuk situasi apapun, kecuali ketakutan yang kusebut di awal itu.


Ada hal yang membuatmu pusing?

Kemarin pagi ketika aku mengepel lantai rumah, bapakku sedang duduk di ruang tamu, ngopi, sambil menonton berita Palestina di youtube keras-keras. Aku ikut mendengarkan presenter berita itu bicara sambil terus menggosok lantai dengan gagang pel. Bapak tidak berkutik, ia cuma menaikkan kakinya sebentar ketika aku mengarahkan gagang pel ke bawah meja dan kursi tempat ia duduk, dan matanya sama sekali tak lepas dari layar ponselnya. Aku terus menggosok lantai sambil berpikir, bisa-bisanya aku mengepel lantai dan di waktu yang bersamaan mungkin saja ada perempuan seusiaku yang sedang meringis kesakitan karena luka tembak di tubuhnya. Hidup ini sungguh sempurna penderitaannya. Dan itu membuatku sangat pusing. Fakta bahwa aku selalu bermasalah juga membuatku tambah pusing.


Kalau sesuatu yang membuatmu bingung, ada?

Aku bingung kenapa sistem kerja dunia ini begitu kacau dan permasalahan hidup ini runyam sekali. 279 juta data pribadi kita dijual bebas di situs gelap seperti sedang jualan kacang rebus. Perusahaan farmasi besar ramai-ramai memproduksi rapid tes antigen bekas seolah-olah itu seperti sampah daur ulang. Uang bantuan sosial di negeri ini dikorupsi menterinya sendiri seolah-olah rakyat kita sudah tajir melintir dan tak punya kesulitan ekonomi. Dan ada pengacara tolol yang menyarankan tersangka kasus pemerkosaan untuk menikahi korbannya yang masih di bawah umur. Coba dibayangkan; menikahi orang yang membuatmu trauma seumur hidup. Apa gak bikin tambah gila? Hantu-hantu di neraka pasti tertawa melihat itu semua. Aku merasa dunia seperti sudah kiamat.


Bisakah kamu berbagi rekomendasi lagu, buku, atau film yang akhir-akhir ini kamu konsumsi dan membuat kamu terkesan?

Pertanyaan yang bagus! Aku masih rajin mendengarkan Biru-nya Anda Perdana selama sebulan belakangan ini. Itu lagu cinta menenangkan sebenarnya, tapi aku selalu sedih tiap mendengarnya. Mungkin itu karena suara bariton rendah Anda yang terasa nelangsa. Lagu lain akan kubuat daftar di bawah:
Hanya Membekas Kini - Chaisero
Apatis - Benny Soebardja
Kau Yang Tlah Pergi - Caffeine
Mendalam - Dua Band 
Peluk - Dewi Lestari
Antara Anyer dan Jakarta - Sheila Majid
Sebelum Tersisih - Rafika Duri

Kalau untuk buku, saat ini aku tengah membaca kumpulan cerpennya Norman Erikson Pasaribu, judulnya panjang; Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu. Setiap cerpen yang dia tulis rasanya personal sekali, aku seperti mau tenggelam ketika sedang membacanya. Gaya berceritanya juga memikat, aku suka cara dia membuat detail-detail narasi untuk mendeskripsikan soal perasaan. Norman Erikson Pasaribu itu tipe penulis yang akan membuatmu terngiang-ngiang seharian setelah selesai membaca karyanya, bahkan saat kamu sedang di jalan pulang, mengantre di pom bensin, memilih minuman kaleng di indomaret, menunggu lampu merah, atau keramas di malam hari setelah kamu selesai bekerja. Kamu tahu, mungkin hidup semua orang, termasuk kamu dan aku, akan lebih mudah jika kita boleh menikah dengan bantal yang menyangga kepala kita setiap malam, yang mengusir demam, menjauhkan kuntilanak dari mimpi, mengamini doa-doa, merindukan kita di siang hari, menyimpan aroma sampo yang kita sukai, menyerap keringat, liur, air mata, tumpahan kopi tanpa sekalipun protes, dan berbisik ke telinga kita di tiap malam yang murung: "Berbahagialah. Berbahagialah. Di luar sana. Seseorang mencintaimu, seseorang tengah mencintaimu.." (Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal; cerpen pertama)

Film lebih-lebih, aku sampai kacau dibuatnya. Aku belakangan ini menonton banyak film, tapi sejauh ini sedang terkesima dengan ketiga judul ini; Little Big Women (2020), A Sun (2019), Dear Ex (2018). Ketiganya sama-sama film Taiwan dan menyoroti permasalahan keluarga yang kompleks, relasi bapak-ibu-anak yang intens. Di Little Big Women, kita akan bertemu sebuah keluarga yang baru saja ditinggal mati sang ayah, kematian itu sekaligus membukakan rahasia-rahasia di antara mereka. Soal sang ayah yang ternyata punya hubungan dengan wanita lain, kakak tertua yang diam-diam mengidap kanker, fakta bahwa mereka punya saudara kandung lain yang oleh orangtua mereka diserahkan ke adopter, dan detail-detail kompleksitas lain khas keluarga Asia. A Sun apalagi, emosiku sangat babak belur setelah selesai menonton. Masalah di keluarga ini frustating sekali; anak laki-laki pertama mereka yang sangat sopan dan penurut tiba-tiba bunuh diri, sementara sang adik mendekam di penjara atas kasus penyerangan, dan di tengah situasi yang membingungkan itu, pacarnya datang memberi tahu keluarganya kalau dia hamil. Aku sungguh tidak bisa membayangkan posisi ayah dan ibu mereka saat itu, semua hal terjadi bertubi-tubi dan seperti mengubur mereka hidup-hidup. Dear Ex juga masih membahas relasi ibu yang melankolis, dengan seorang anak yang merasa ibunya terlalu pemarah, dan juga satu karakter yang merupakan mantan kekasih almarhum sang ayah, seorang pria, homoseksual. Isunya sensitif, tapi penyampaiannya terasa dekat sekali. Selain keintiman cerita, film-film Taiwan ini juga memperlihatkan potret kota dengan detail-detail yang sangat artistik. Visualnya enak, tone warnanya cantik-cantik sekali!


Kalau kamu adalah seorang karakter film, kamu ingin jadi siapa?

Aku ingin jadi seperti Alyssa di series The End of The Fucking World (2017). Dia gadis pemarah, agresif dan hobi mengumpat, di saat yang bersamaan dia juga kerap bingung dan mempertanyakan dirinya sendiri. Tapi aku suka sekali cara dia menyelesaikan traumanya. Menyelesaikan perkara hantu yang bermukim di dalam dirinya. Alyssa punya isu yang sama denganku, aku ikut merasakan bagaimana cemas dan takutnya ia melalui itu semua. "Kau bisa terjebak di suatu tempat dan bahkan tidak menyadarinya. Jika kau tak hati-hati, kau bisa terjebak selamanya."


Apa yang membuat kamu bersemangat?

Aku semangat kalau dengar lagunya Rumahsakit, atau Pee Wee Gaskins. Selain itu, hidupku melempem.


Kalau begitu mari ganti pertanyaan, apa kamu punya ketertarikan dalam hal lain selain menulis blog?

Dulu jaman kehidupanku masih bergelimangan teman dan waktu luang, aku suka sekali jalan-jalan ke kuburan belanda, klenteng, pecinan, petilasan, situs-situs klenik, ke museum, ke masjid gedhe, gua maria, pertokoan kuno, maupun tempat aneh lain yang menyimpan banyak cerita sejarah. Waktu berlalu, teman-temanku sudah pada pergi jauh, dan ritual jalan-jalan cross cultural kami itu terhenti, digantikan rutinitas pekerjaan yang membosankan dan kehidupan dewasa yang menuntut banyak hal. Kadang-kadang, aku kangen melakukan perjalanan itu. Perjalanan menjelajahi hantu-hantu masa lalu.


Kamu terus menyebut hantu sedari tadi, apa kamu percaya hantu?

Aku percaya kalau dunia ini dihuni oleh banyak entitas, dan manusia tidak semestinya sombong akan eksistensinya sendiri. Lagipula, menurutku, hantu paling mengerikan itu sebenarnya adalah luka membusuk dan kenangan kelam yang membuatmu tertelan. Mereka menahanmu dan tak mengizinkanmu ke mana-mana. Aku tidak bisa menyaksikan kuyang, atau lelembut, pocong, atau kuntilanak dengan mata telanjangku, tapi aku bisa merasakan pahit dan sengsaranya kalau kita sampai terperangkap di masa lalu dan tak bisa melanjutkan hidup. Itu jauh lebih mengerikan. Di satu sisi, aku juga agak terobsesi dengan konsep hantu. Dia itu semu, surreal, tapi entah bagaimana keberadaannya seperti mampu melumpuhkan hidup seseorang.


Ada sesuatu yang ingin kamu lakukan?

Pikiranku belakangan ini penuh akan seseorang. Dia sedang sakit dan aku belum menengoknya lagi sejak terakhir kami bertemu di rumah sakit. Situasinya sedang sulit, dan kalau ada yang ingin aku lakukan, itu adalah mengupayakan agar orang itu merasa sedikit lebih baik dan sedikit lebih tenang, serta sedikit lebih percaya bahwa segala kesulitan itu nantinya akan berlalu. Selain itu, aku ingin potong rambut, kebal-kebul merokok sambil ngobrol dengan teman-teman sampai larut malam, dan aku juga ingin naik kereta ke Bogor.


Kenapa Bogor?

Aku cuma ingin pergi yang jauh. Ke Surabaya juga bisa, ke manapun, tapi harus naik kereta.


Ada sesuatu yang sedang kamu harapkan?

Kalau kupikir-pikir, hidup memang gudangnya masalah. Kita semua tak akan bertahan hidup kalau tak diterpa masalah. Jadi alih-alih menyebutnya sebagai cobaan hidup, aku mau jadi lebih terbiasa saja dengan itu semua. Terbiasa menghadapi masalah, terbiasa menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif, terbiasa mengekspresikan kemarahan dalam situasi emosi yang aman, terbiasa bicara dengan asertif, terbiasa berkompromi, dan terbiasa mengalami apapun. Aku mau punya cukup keberanian untuk mengatakan kalau aku sungguh tidak masalah harus mengalami apapun, asal aku punya sistem rekonsiliasi yang sehat. Bisa adaptif dengan segala kondisi adalah cara manusia bisa bertahan hidup. Dan di antara cara kerja sistem itu, salah satunya adalah punya lingkaran orang-orang dekat yang selalu mendukung dan menghargai keputusan kita. Apapun masalahnya, aku harap selalu punya support system. Apapun, apapun, asal kita nggak kesepian. Kesepian itu bisa berwujud seperti hantu yang murung.


Kamu bicara hantu lagi...

Hehe, maaf!


Apakah jam tidurmu aman?

Saat ini aku tidak ada masalah dengan pola tidur. Aku bahkan merasa aku lebih menyukai tidur ketimbang harus bekerja, bersosialisasi dengan orang-orang di luar dan menjalani hidupku yang sedang kusut. Itu yang tidak aman. 


Kamu sudah makan hari ini?

Ketika aku menulis ini, jam di kamarku menunjukkan pukul delapan lebih lima. Aku baru selesai mandi, memakai pelembab dan tabir surya. Ibuku hari ini memasak semur sapi, ada pecel sayur juga beserta sambal. Aku belum sarapan, mungkin itu sebabnya pikiranku agak berantakan dan bicaraku sangat melantur.


Apakah perasaanmu sudah membaik?

Terima kasih sudah bertanya. Aku selalu mengusahakan untuk yang satu ini.



*
Purwokerto, 2021

Senin, April 05, 2021

Putih #4

     kalau ada satu hal paling kuat di dunia ini yang memberikan saya keteguhan hati dan kemampuan untuk menghadapi hari-hari, (selain bantuan dan dukungan dari orang-orang terdekat) saya mau memberitahu dengan lantang bahwa itu adalah cerita dari teman-teman perempuan saya.

    cerita-cerita tentang betapa paitnya pengalaman hidup yang menggerus dan mengacaukan harapan mereka. peristiwa-peristiwa yang secara sekejap kabur membawa seluruh keberanian yang mereka punya. kegilaan-kegilaan yang memaksa mereka untuk menelan itu semua seorang diri. kekerasan dalam hubungan, eksploitasi dan diskriminasi perempuan, sampai kasus pelecehan seksual. beberapa dari mereka masih terbata-bata mencari tahu mengapa semua hal itu bisa terjadi, beberapa dari mereka masih berusaha menyembuhkan diri dan meyakinkan hati bahwa mereka akan segera baik-baik saja. tapi saya tahu betul, luka dan ingatan itu tak akan pernah hilang dari kepala. otak kita tak pernah benar-benar berfungsi untuk melupakan. selamanya ia akan bercokol di ruang paling gelap dan sembab dalam dirimu. selamanya ia akan jadi hantu dan kamu mungkin akan selalu merasa ketakutan.

    cerita-cerita pilu yang saling kami tukarkan di malam-malam dingin belakangan ini, secara tidak langsung membuat sesak yang mengikat di dalam dada pelan-pelan terurai. segala sesuatunya tidak lantas menjadi mudah dan selesai, tetapi paling tidak, saya tidak merasa sendiri. kami juga seolah punya pekerjaan yang sama untuk bisa terus hidup dengan membawa kesadaran penuh kami, melalui hari-hari sinting yang begitu memuakkan

    hal-hal yang tak bisa ditolak, seperti hidup yang saat ini, seringkali membuat saya termangu dan bertanya-tanya; kemungkinan buruk apa lagi yang tersisa dan menunggu untuk kami (para perempuan) habiskan di depan nanti? rasanya saya seperti kehilangan semua harapan untuk mengalami kesenangan sederhana lagi. malam yang biasa dilewati dengan mudah, sekarang jadi terasa asing dan menakutkan. di titik terbuntu pikiran, saya merasa bahwa selamanya perempuan akan selalu dihantui oleh bayangan-bayangan mengerikan ini; hidup yang tak pernah memberikan perasaan aman dan keberpihakan pada kami, hidup yang selalu menempatkan kami di posisi rentan dan mengancam kesehatan jiwa maupun tubuh kami, hidup yang dipenuhi dengan ketidaknyamanan dan ketidaktenangan bahkan hanya untuk melakukan peran kami sebagai manusia.  

    belakangan ini saya sering sekali berdoa untuk keselamatan teman-teman perempuan saya. kehidupan dunia saat ini tak akan pernah membaik, tentu saja kehidupan saya juga tak akan pernah membaik, dan besok pun tak akan jadi hari yang lebih baik. tapi, agar semuanya tak menjadi lebih buruk, saya harus menjalani setiap celanya, saya harus menghadapi setiap kekacauannya. bekal yang semoga selalu dapat saya dan teman-teman perempuan punyai adalah keberanian dan kejernihan pikiran dalam memproses peristiwa. dua hal itu saya amini keras-keras supaya bisa terus terjaga dan terpelihara selalu. 

    apapun yang terjadi, terlepas dari trauma dan kesakitan kita di masa lalu, kita adalah perempuan berharga yang berhak menjalani hari dengan sepenuh hati kita masing-masing. meskipun takut, meskipun rasanya kecut, dan meskipun diri ini seperti menciut.

    "selamat dan sembuh, Hamima."


*
April, 2021
seri catatan Putih ini selesai, sekaligus ditulis sembari mendengarkan 'Biru' milik Anda Perdana.
https://www.youtube.com/watch?v=aXW73oIKjAA

Sabtu, Februari 27, 2021

Putih #3


Apakah hidup akan menyisakan sepotong kecil, seukuran kuku kelingking, sedikit saja, keinginanku yang bisa kutanam dan kusimpan sendiri? Hyang Widhi, apakah sebagai perempuan aku terlalu loba, tamak, sehingga Kau pun tak mengizinkanku memiliki impian? Apakah Kau laki-laki? Sehingga tak pernah Kau pahami keinginan dan bahasa perempuan sepertiku?
(Oka Rusmini, 2001)

*

     Rasanya membaca kutipan dari novel Sagra dalam keadaan pikiran yang mengawang itu ternyata sungguh semenyakitkan ini. Hampa sekali. Bulan ini sudah mau habis dan saya berkali-kali meyakinkan diri bahwa semua hal yang terlintas dalam penglihatan nyata maupun yang cuma di kepala adalah upaya-upaya yang membuat hidup terus bergulir. Kata orang, masalah kecil adalah latihan hidup, masalah besar juga demikian, bedanya ia memberikan tekanan lebih besar pada hatimu. Kalau kamu tak punya daya hidup yang bagus, tentu saja kamu bisa membusuk dan berakhir sia-sia; dengan kata lain adalah mati. Saya berkali-kali meyakinkan diri bahwa... kejenuhan hidup, perasaan-perasaan sedih yang menggerogoti tulang, semangat-semangat semu dan omong kosong ini ternyata selalu dibarengi dengan ketangguhan hati, welas asih yang meskipun nampak putus asa, dan barangkali juga kepasrahan diri untuk menyerahkan hidup yang seada-adanya. 

    Hari-hari kesepian dan berjalan amat lambat. Perjalanan di usia dewasa ini terasa kering sekali.

Sabtu, Februari 13, 2021

Putih #2

    Kenapa ya kita selalu merasa amat sangat bersalah kalau sedang tidak bisa menjadi produktif? Minggu ini saya meliburkan diri dari tempat saya mengambil kerja paruh waktu, lalu meminta ijin pada teman-teman projekan untuk istirahat dan tidak melanjutkan pekerjaan selama beberapa hari, juga menghindari perjumpaan dengan teman-teman yang padahal punya niat baik untuk bertemu. Di satu sisi rasanya seperti kosong dan sepi yang mengiris pelan-pelan, tetapi di sisi yang lain pula, saya tak pernah punya cukup kekuatan untuk menghadapi itu semua, interaksi-interaksi yang demikian entah kenapa rasanya begitu menyulitkan untuk dilakukan. Ketakutan itu seperti menggumpal dan tumbuh menjadi mahluk besar yang mendominasi kesadaran saya. Lalu yang saya lakukan berikutnya adalah menelan diri dan hidup melambat... dan saya tak tahu apa ini sesuatu yang destruktif saya lakukan atau tidak? Kesendirian yang mematikan sekaligus menyembuhkan. Kesendirian yang meniadakan sekaligus menguatkan. Kemudian jadi punya banyak sekali waktu dan hal untuk dirapikan; menenangkan diri, mengademkan diri, menjernihkan diri. Tetapi di saat yang bersamaan pula rasanya jadi seperti memanggil peristiwa-peristiwa buruk di masa lalu, lantas membenturkannya secara lembut dengan kondisi yang sekarang. Rasanya hidup orang lain seperti terus berjalan, tapi hidup saya terasa macet dan berhenti. Rasanya kesedihan yang teramat besar ini sampai tak bisa muat di dalam tubuh saya yang kecil. Rasanya apa-apa yang terjadi ini terlalu kompleks, tapi di saat yang bersamaan, ternyata juga sehambar ini.

    Kalau situasinya sedang aneh begini, saya jadi teringat dengan beberapa lagu menyenangkan yang biasa saya dengar dengan volume kencang. Taman Bunga Plantungan-nya Dialita, lagu keroncong mendayu-dayu yang secara kilat dapat membuat saya rileks, juga lagu mereka yang lain berjudul Ujian dengan liriknya yang kontemplatif “apa aku emas sejati atau imitasi?” yang dinikmati sambil menelan obat pereda nyeri kepala, atau paracetamol karena beberapa hari ini tubuh saya selalu mengalami demam. Saya jadi ingat dengan mimpi saya untuk menyaksikan Dialita secara langsung, di saat-saat seperti ini, mendengarkan Dialita sambil mengeluh kesakitan rasanya seperti sedang disuntik harapan. Ada juga Autumn Town Leaves-nya Iron & Wine, folk-folk gaya amerika yang sangat mendinginkan kepala. In this autumn town where the leaves can fall, on either side of the garden wall, we laugh all night to keep the embers blowing. Emosi yang sedang kalut dan memuncak bisa mereda secara perlahan kalau telinga disumpal dengan lagu tersebut.

    Lalu kadang-kadang saya juga menghibur diri dengan banyak kegiatan, jangan sampai saya mati membeku. Berbelanja sayuran ke pasar pakem yang dingin; membeli jus mangga dan buah pisang serta semangka; menjerang air untuk kemudian membuat jahe panas campur madu; memasak sayur sop, perkedel tahu, dan bakwan jagung; mengepel lantai kamar dan mencuci bersih sepatu-sepatu; menikmati sore di dekat balkon sambil memakan es krim; mengobrol dengan ibu kost soal kompor di dapur yang ngadat; menulis puisi-puisi kesepian dan juga menonton film. Sejauh ini saya belum bisa melakukan interaksi dengan banyak orang dan berpergian dalam waktu lama, jadi hal-hal yang terjadi selama beberapa hari ini hanyalah peristiwa kecil yang santai, tak banyak berisik, dan cukup untuk mengisi diri sendiri.

    Ada satu film yang terakhir saya tonton berjudul Romang (2019) dari Korea Selatan, menceritakan sepasang lansia yang keduanya mengidap penyakit demensia dan hidup bersama mengandalkan satu sama lain. Konfliknya intens, begitu pula dengan keputusasaan yang dirasakan si nenek maupun kakek sepanjang durasi film. Akhir ceritanya nggak menyenangkan, tentulah karena salah satu dari mereka kemudian mati lebih dulu, tapi saya nggak sedih, saya tahu realitas hidup memang kadang terasa seperti itu. Selain itu ada juga satu film pendek berjudul A Friday Noon (2016) yang barusan saya tonton. Berkisah soal kompleksitas transpuan yang cuma kepingin salat Jumat, tapi harus mengalami banyak masalah di perjalanannya mencari masjid untuk sembayang. Ceritanya juga nggak berakhir menyenangkan, dan saya nggak terkejut. Nggak ada yang kontradiktif, apa yang terjadi di dalam layar dengan kenyataan yang sesungguhnya memang seperti itu; hidup tidak selalu mujur. Diam-diam saya mengernyit, mungkin saya yang sedang berpasrah? Sampai sekarang saya bahkan belum bisa marah, dan entah kenapa tak bisa marah, di saat teman-teman saya sudah lebih dulu memaki sumpah serapah dengan brutal. Untuk menuju keadaan emosi yang seperti itu, lagi-lagi saya merasa nggak punya cukup kekuatan. Segala yang saya alami adalah kebalikan dari perasaan mendakik-dakik itu.

    Saya menghela napas sesaat. Dunia yang hebat dan serba cepat ini selalu diam-diam menikam kita. Harus meraih, harus mencapai, harus mendapat, harus mengejar, tanpa mau menyelami proses-proses merelakan, melepaskan, memberikan, menyerahkan… Padahal hidup ini cuma fase; ketika rasanya memuakkan, ternyata suatu saat akan membekas di hati jika mau diamati lebih dalam; ketika rasanya berat, ternyata itu bisa jadi pengingat bahwa kita pernah merasa lebih bahagia tanpa kita pernah pikirkan dan rasakan. Saya jadi ingat cita-cita saya terhadap banyak hal, mimpi-mimpi sepele yang membuat saya bersemangat, perasaan-perasaan ringan yang menyenangkan, kenangan-kenangan manis yang terputar berulang kali di kepala. Saya masih anak perempuan yang berharga meski punya kesedihan sebesar lautan di dalam hati.

    Saya jadi mengerti, ketika saya punya satu peristiwa tidak menyenangkan, yang kemudian sering saya lakukan adalah menyalahkan diri dan mengutuk keadaan yang seperti tahi. Pikiran saya dapat mengurutkan ketololan apa saja yang seharusnya tak saya lakukan pada saat itu. Saya nggak pernah benar-benar tulus menghargai segala keputusan yang sudah saya buat selama 23 tahun ini. Mungkin seharusnya saya nggak menyesali apapun yang telah terjadi di belakang, bagaimanapun hidup telah mengantar pada banyak sekali dinamika. Kemampuanmu menerjemahkan hidup dan pengalaman menjadi pengetahuan-pengetahuan yang bernilai adalah hal yang seharusnya dipelihara.

    Di sela-sela saya menghirup aroma bosan dari tubuh kecil saya, saya membuka kembali novel Laut Bercerita milik Leila Chudori yang kertasnya telah mengkerut dan menjadi kuning akibat pernah terendam banjir dua tahun lalu. Di sana, Laut menulis surat untuk adiknya, Asmara Jati, ketika dirinya dikabarkan menghilang pasca gejolak politik tahun 1998. Laut berpesan untuk adiknya, ayahnya, sekaligus ibunya, sebuah kalimat yang membuat saya dapat tercenung sejuta kali; jangan hidup di masa lalu, jangan terjebak pada kenangan yang membuat kalian semua tak bisa meneruskan hidup

    Mata saya berat. Malam ini saya akan tertidur tanpa menangis. Maaf kalau tulisan saya kali ini tidak runut dan rapi.

    Selalu selamat, selalu belajar.


*
dan hujan-hujan deras yang menggelayuti hati, Februari yang mengabu dan terhenti.

Kamis, Februari 11, 2021

Putih #1

    Hari ini masih menjadi hari yang mengerikan, sama seperti hari-hari kemarin. Hujan berisik sedari malam ternyata terus terbawa sampai pagi, tak ada habisnya. Alhasil, langit jadi berkabut dan tampak suram. Bagi seseorang seperti saya yang menyerap energi dari banyak hal, tentu saja suasana langit yang jelek itu pastilah ikut mengeruhkan suasana hati saya. Tapi entah kenapa, pagi itu saya tetap bangun, melepas kaus kaki dan melipat selimut, mengambil gelas lalu menuang air minum dan menghabiskannya dalam tiga kali tegukan, kemudian diam sebentar untuk mengumpulkan nyawa sambil mengamati keluar-masuknya napas, menghitung detak jantung, dan merasakan guna panca indera dengan seksama. Setelah punya kesadaran yang cukup, saya baru paham bahwa sedari tadi sebetulnya saya dijalari perasaan takut dan gugup, diam-diam suasana langit yang jelek itu ternyata sudah merasuki saya. Kegundahan yang menyusup itu sebenarnya punya akar yang rumit dan bercabang, tapi untuk pagi itu saya punya satu alasan yang jelas; hari ini saya punya janji untuk bertemu dengan psikolog guna melakukan sesi konseling.

    Saya lalu mandi sambil berpikiran macam-macam. Rasanya mendebarkan membayangkan kemungkinan-kemungkinan apa yang nanti akan terjadi. Selesai mandi, anehnya saya malah jadi ragu untuk berangkat. Sambil menyisir rambut, saya memperhatikan diri saya di depan cermin lalu bergumam banyak hal. Saya nggak yakin. Sepertinya saya belum siap. Saya nggak mau keluar. Sepertinya saya mau membusuk saja di dalam kamar. Kemudian memakai tabir surya dan membubuhkan gincu tebal-tebal, supaya tak tampak pucat, sambil terus memojokkan diri untuk menyerah. Sudahlah, saya mau tidur sampai besok saja. Lalu Nilna, teman SMA saya, tiba-tiba sudah muncul di depan pintu kamar ketika saya baru memilih jilbab. Tak lama setelahnya, kami berdua lalu turun ke lantai satu untuk mengambil motor dan mengenakan mantel, hari masih hujan, dan melesat menuju kantor UPTD PPA Sleman di Tridadi, lembaga pemerintah yang berdiri di bawah payung Kemenpppa. Rasanya saya mau menguap saat itu juga.

    Dan yang terjadi, kemudian terjadilah. Saya sudah duduk berhadapan dengan psikolog saya, Mbak Ulfah, di ruangan berdinding putih yang tak terlalu banyak menyimpan perabotan. Pertemuan pertama untuk sesi konseling tersebut kira-kira berjalan sekitar satu jam. Mbak Ulfah banyak sekali mengajukan pertanyaan yang anehnya membuat saya jadi bicara banyak terhadap apa-apa yang saya rasakan dan mengganggu saya, yang sebelumnya sama sekali nggak saya sadari. Saya jadi seperti dikenalkan kembali dengan kegelisahan, ketakutan, perasaan malu, kebingungan dan ketidaktahuan akan apa yang seharusnya saya lakukan, juga rasa-rasa lain yang menumpuk dan kalang-kabut menimpa saya. Di titik-titik ketika apa yang saya sampaikan itu terlalu personal, mata saya merembes dan jadi sesenggukan. Mbak Ulfah seperti membantu saya untuk pelan-pelan mengidentifikasi, merunutkan, sekaligus memetakan emosi saya, supaya saya punya sedikit kejernihan dalam menilik situasi. Satu peristiwa mengerikan dan sangat tidak menyenangkan yang saya alami ternyata sungguh mengacaukan seluruh kesadaran saya. Saya sampai takut membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya tidak mencari bantuan.

    Menjelang akhir, Mbak Ulfah bertanya soal harapan. Sesuatu yang sejujurnya sama sekali tak saya bayangkan. Di keadaan saya yang sekarang, ternyata saya tak punya cukup keberanian untuk meyakini apa itu harapan. Tapi ketika beliau menanyakan apa yang sebenarnya dalam hati saya inginkan untuk terjadi, diam-diam saya merapalkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Baiklah kalau mungkin ini rasanya begitu pahit, tapi apa salahnya dengan membuat permohonan?

    “Kalau misalnya harapan itu bisa diberi tanda, Mbak Mima mau kasih tanda seperti apa?” Mbak Ulfah bertanya lagi. “Untuk menyimbolkan saja, tandanya bisa berbentuk apapun.” sambungnya yang seperti menangkap kebingungan saya.

    Saya diam sebentar untuk memikirkan jawabannya, saya tak punya pengetahuan yang baik soal visual bentuk. Tapi kemudian saya bicara sambil tersenyum simpul, “Mungkin bintang, tapi ukurannya kecil.”

    “Warnanya apa?”

    “Kuning.” saya masih tersenyum, “Itu warna kesukaan saya.”

    Mbak Ulfah ikut tersenyum, “Baiklah, dalam perjalanan Mbak Mima menelusuri ketidaknyamanan yang tengah dialami Mbak Mima sekarang, semoga Mbak Mima bisa selalu menghadirkan bintang kecil berwarna kuning itu di dalam diri Mbak Mima, ya.”

    Saya tersenyum lagi mendengar metafora yang digunakan oleh Mbak Ulfah, tentu saja sambil menyeka air mata dan hidung yang basah karena menangis. Perumpamaan yang manis dan sederhana. Diam-diam saya mengamini bintang kecil itu supaya bisa terus berpendar di dalam hati saya.

    Sebelum kemudian saya berpamitan pulang dan membicarakan sesi pertemuan yang selanjutnya, Mbak Ulfah, seperti teman-teman saya yang lain, ikut memberikan dukungan dan mengapresiasi keberanian yang saya punya sampai sejauh ini, meskipun sebenarnya saya sudah bilang kalau saya punya rasa takut yang besar berkali-kali selama sesi konseling. “Paling tidak Mbak Mima mampu bertahan di situasi yang menyulitkan ini, Mbak.” sambungnya.

    Dalam perjalanan pulang, saya menyadari kalau ternyata kami melewati rute yang berbeda dengan saat kami berangkat sebelumnya. Saya jadi menimang-nimang dan berpikir banyak hal lagi. Ada sesuatu yang sebenarnya tak begitu sulit tapi sungguh terasa sulit hingga rasanya tak ingin dirasakan. Di arah menuju pulang tersebut, ketika kami berhenti di persimpangan lampu merah yang akan menghubungkan ke ruas jalan di depan, saya lalu bicara pada Nilna yang menyetir di depan, “Dari kemarin sebenarnya aku nggak punya keberanian untuk lewat jalan itu, Nil.”

    “Mau lewat jalan lain apa?”

    “Gausah, muternya jauh. Lurus aja.”

    Dan begitulah, kami lantas melewati jalan bisu dan kelu itu. Saya menahan napas lima detik ketika honda beat Nilna melaju di antara pepohonan kering dan komplek pertokoan sepi yang menghinggapi jalanan tersebut, lalu di detik ke enam mengeluarkan perasaan kalut tersebut ke udara lepas. Saya mau pulih secepat mungkin, tapi kalau prosesnya harus lama dan perlahan seperti ini, semoga saya punya kekuatan yang cukup untuk bisa terus mengalami dan menghadapi apapun di depan mata nanti.

    Teman-teman, maaf kalau saya mungkin punya banyak waktu diam dan jadi lambat terhadap banyak hal, saya akan berusaha untuk tetap mengada (dan tidak menghilang). Sisa waktu yang saya punya untuk sementara ini sedang saya gunakan untuk memulihkan keadaan saya supaya bisa kembali membaik. Terima kasih dan sampai ketemu di catatan berikutnya…


*
Kaliurang yang beku, 2021.