Juno: Potret 'Teen Pregnancy' yang Jujur
“A comedy about growing up… and the bumps along the way”
Ketika saya selesai menonton film Juno di program screening bulanan yang digalakkan oleh klub film saya di kampus, saya langsung mengumpat pada diri sendiri, kenapa saya baru nonton film sebagus ini sekarang? Lalu geleng-geleng kepala saking tidak habis pikir saya dibuatnya.
Juno adalah film bergenre drama
komedi yang diproduksi tahun 2007 dan disutradarai oleh Jason Reitman. Film ini
menyoroti kisah Juno MacGuff (Ellen Page) remaja perempuan usia enam belas
tahun yang dihadapkan dengan kehamilan di luar rencana bersama teman
sekelasnya, Paulie Bleeker (Michael Cera). Juno dan Bleeker adalah remaja SMA yang berteman dekat dan sering nge-band bersama, dan ya... dua remaja yang juga punya keingintahuan dan dorongan yang besar akan seksualitas.
Perasaan bingung dan resah jelas
muncul pada scene awal ketika Juno mengetahui kehamilannya lewat test pack yang
dibelinya di sebuah toko. Juno yang masih sangat belia itu tidak tahu harus
melakukan apa, sementara kandungannya mulai menginjak usia 2 bulan dan
perutnya semakin besar. Juno kemudian memberi tahu Leah (Olivia Thirlby),
sahabat dekatnya, tentang kehamilannya. “It’s
probably just a food baby. Did you have a big lunch?” tanya Leah yang membuat
Juno memutar bola matanya.
Juno lalu bersiap mengumumkan
kabar kehamilannya kepada ayahnya (J. K. Simmons) dan ibu tirinya, Brenda
(Allison Janney). Mereka diminta duduk di kursi tamu dan mendengarkannya
bicara. Melihat gelagat Juno yang nampak begitu serius, Brenda menebak kalau
mungkin saja Juno barusan dikeluarkan dari sekolah akibat mengonsumsi narkoba.
Tapi kemudian Juno mengatakan dengan cepat, “I’m Pregnant.” yang membuat Mac MacGuff, ayahnya, melontar “Oh, God.” dan respon Brenda yang menghibur, “I didn’t even know that you were sexually
active.” Meskipun awalnya memang sangat terkejut, orang tua Juno kemudian
mencoba bersikap bijak, mereka
membantu menyelesaikan masalah tersebut dan memberi dukungan moril kepada Juno.
Ibunya bahkan memberi tahu hal-hal apa saja yang harus dilakukan Juno ketika
dirinya sedang hamil, seperti harus rutin pergi ke dokter, meminum vitamin,
dll.
Mac dan Brenda |
Berbagai solusi dicari untuk
mengatasi kasus kehamilan Juno yang tidak direncanakannya itu, sampai kemudian
pilihan aborsi sempat terbesit di pikiran Juno. Tetapi hal itu ia urungkan
setelah melihat seorang perempuan muda tengah melakukan protes di depan klinik
aborsi sambil mencekal papan bertuliskan ‘no
babies like murdering’. Juno lalu berinisiatif memberikan anaknya kelak
untuk diadopsi kepada keluarga yang membutuhkan atau pasangan gay/lesbian yang
menginginkan anak.
Dibantu ayahnya, Juno kemudian
menemui pasangan muda yang belum dikaruniai anak, adalah Mark (Jason Bateman) dan
Vanessa (Jennifer Garner), a yuppie
couple with a huge house in sub urbs. Vanessa adalah wanita karir,
sedangkan Mark merupakan seorang komposer. Setelah melakukan perjanjian,
pasangan tersebut bersedia mengadopsi anak yang dikandung Juno.
Hari-hari Juno dilalui dengan
biasa, ia masih pergi ke sekolah dengan seragamnya meskipun perutnya semakin
membuncit. Teman-teman di sekolahnya juga gemar memandangi perut Juno, tapi
hanya sekadar itu, tidak ada adegan mencemooh atau menuduh. Sementara
itu, hubungannya dengan Bleeker malah menjadi renggang. Meskipun Bleeker sempat
beberapa kali menemui Juno, Juno merasa tidak perlu lagi menemui Bleeker.
Bahkan ketika Bleeker meminta Juno untuk datang ke prom bersamanya, Juno
menolak dan malah menyuruh Bleeker untuk pergi dengan gadis lain.
Menjelang usia kehamilannya yang
semakin besar, Juno justru dihadapkan pada kenyataan bahwa Mark ingin
menceraikan Vanessa. Untuk beberapa alasan, Mark merasa belum siap untuk memiliki
anak dan menjadi ayah, he has some things he still wants to do –kira-kira
begitu ujarnya. Mark juga merasa Juno datang dengan begitu cepat menawarkan
bayi setelah Mark dan Vanessa mengiklankan diri sebagai pengadopsi. Rasa
kepercayaan Juno yang dibangun untuk pasangan tersebut sebagai keluarga utuh
yang akan mampu merawat bayinya seketika berubah menjadi kecewa.
Juno lalu menemui Ayahnya.
Melihat banyak orang menjadi terluka lewat pernikahan, baik yang dialami oleh
Ayahnya, maupun pada Vaneesha dan Mark, membuat Juno merasa seperti kehilangan harapan dan kepercayaan pada orang-orang, termasuk soal relationship. Juno
beranggapan bahwa rasanya sulit bagi dua
orang untuk bisa tinggal dan stay happy
forever. Ayahnya lalu menimpali, “Well,
it's not easy, that's for sure. Now, I may not have the best track record in
the world, but I have been with your stepmother for 10 years now and I'm proud
to say that we're very happy.” yang membuat Juno diam dan tercenung.
Mac kemudian berbicara lagi, “the best thing you can do is find a person who loves you for exactly
what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what have you, the
right person is still going to think the sun shines out your ass. That's the
kind of person that's worth sticking with.”
Mendengar penuturan dari Ayahnya, Juno kemudian merasa
telah menemukan orang yang dimaksud ayahnya. Dari sini, kita bisa menebak kalau
pada akhirnya Juno kembali menemui Bleeker dan mengungkapkan perasaannya pada
teman satu kelasnya itu.
i love this line
Mendekati usia persalinannya,
Juno memutuskan untuk tetap memberikan bayinya pada Vanessa, setelah melihat
ketulusan Vanessa dan ikatan emosional yang kuat dengan bayinya. Juno juga
merasa kalau Vanessa masih menjadi best
parenting option for the baby, meski pada akhirnya Mark tidak lagi
mendampingi Vanessa.
Ide cerita yang diangkat jujur
cukup sensitif, tapi Jason Reitmen berhasil mengemasnya dengan ringan serta
menyertakan bumbu-bumbu komedi dalam porsi yang pas, sehingga pesan yang ingin
disampaikan film ini sebenarnya bisa dengan mudah diresapi oleh penonton.
Saya juga sangat mengagumi
karakter Juno. Dia begitu hidup meskipun perutnya sedang membesar dan
orang-orang di lingkungan sekolahnya selalu melempar pandangan heran ke arahnya.
Juno tetap menjalani harinya seperti remaja-remaja lain.
Saya juga bisa melihat film ini
turut mengantarkan sisi kedewasaan Juno menjadi lebih baik. 9 bulan dilalui
Juno dengan penuh ups and downs. Di
usianya yang masih belia, Juno dihadapkan dengan realita-realita yang membentuk
dirinya menjadi bijaksana dan lebih bertanggungjawab atas hidupnya –termasuk
hidup si jabang bayi. “Oh, just out dealing with things way beyond
my maturity level.” adalah contoh kelakar Juno ketika mendapat pertanyaan ‘dari mana’ oleh
Ayahnya. Jawaban yang ringan tapi merepresentasikan keadaan Juno dengan tepat.
Sikap terbuka dengan kasus
kehamilan yang tidak direncanakan (KTD) di dalam film Juno sama sekali terlihat
kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia. Mereka yang mengalami KTD masih
dilekati dengan stigma dan ketakutan-ketakutan di lingkungan sosialnya. Padahal
dukungan moril adalah hal yang paling dibutuhkan oleh para perempuan yang
mengalami KTD. Umumnya, keluarga dengan kasus KTD akan merasa malu dan seperti
menanggung aib yang besar, sehingga seringkali jalan yang ditempuh untuk
menyelesaikan masalah hanya bersifat sepihak tanpa berusaha memahami posisi
sang ibu. Di dalam film Juno, saya sangat suka bagaimana orangtua Juno merespon
berita kehamilan Juno dengan sangat pretty
well. Reaksi kedua orangtuanya memang terkejut, tapi mereka tetap mencoba
bijaksana dengan menunjukan sikap terbaiknya untuk mendukung anak mereka. Hal
yang sepertinya jarang sekali ditemui di Indonesia. Kultur dan cara bersikap
masyarakat Indonesia dalam menghadapi isu KTD adalah showing how someone DOES react to teen pregnancy rather than how
someone SHOULD react to teen pregnancy.
Film Juno memberikan persepektif
yang berbeda tentang seksualitas remaja dan menyikapi KTD, tentu dengan bumbu
humor yang luas, dialog yang ringan, tone film yang cantik –setting suasana
90an, Ellen Page yang sangat baik dalam memainkan peran, serta tentu saja
soundtrack film yang easy listening! Menjadikan film ini tidak terlalu berat
tapi masih dapat dinikmati bersama keluarga. Bahkan memasuki akhir cerita
ketika Juno melakukan persalinan, I cried
just because I saw Juno’s struggle gave birth to a baby. Juno merupakan
perempuan baik hati, memiliki rasa tanggung jawab dan kesadaran penuh atas
resiko yang telah ditimbulkannya sendiri. She
is a strong teenager. Really.
heeeeeei, kamu tu keren lho Mbak Jun!!!
2 Comments
Thank you for sharing this review!
BalasHapusMakin cakep aja lu kalo ngebahas pilem, sist. Eaaak~
Mengupas topik KTD udah bisa jadi satu artikel tersendiri tuh--lepas dari review film, apalagi dengan adanya perbedaan perspektif barat dan masyarakat Indonesia soal KTD. Barangkali kapan-kapan bisa jadi bahan paper. Hmm.
Ps. Beberapa typo bisa diperbaiki agar artikelmu semakin caem!
terima kasih jg anak manisss sudah menyempatkan baca review filmku dan mengomentarinya. yaps bbetuuull aku masih harus belajar memperbaikinya lagi. doakan akuuu semoga semakin sering dan giat menulis review2 seperti ini. have a nice day!
Hapus