Kamis, Agustus 30, 2018

Merawat ingatan: tempat-tempat paling intim di Kalimantan (bagian satu)

Saya selalu percaya, beberapa tempat yang pernah kita singgahi pasti melahirkan makna dan kesan-kesan yang terikat dengan sisi emosional kita. Tempat-tempat tersebut mungkin saja akan mengantarkan kita pada perasaan-perasaan tertentu, pada ingatan-ingatan tertentu, atau pada orang-orang tertentu. Lalu untuk tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah terbesit sedikit pun di pikiran, saya akan melontarkan pertanyaan: mengapa hal-hal yang awalnya asing dan jauh, bisa terasa begitu erat dan dekat?

Teras di rumah sub unit 4
Di minggu pertama kedatangan saya di Kalimantan, teras depan menjadi tempat pertama yang sering saya tongkrongi. Rumah berwarna biru tua ini berbentuk rumah panggung dengan bahan pokok kayu. Tinggi panggungnya pendek, sekitar setengah meter dari permukaan tanah. Awalnya teras rumah ini bersih dari barang-barang, lantainya cuma dipakai untuk menaruh sepatu saja. Tapi di hari berikutnya, kursi-kursi dan meja kaca kecil yang ada di dalam rumah dipindahkan di teras depan. Sejak saat itu, saya dan beberapa anak yang memang hobi nongkrong (karena nggak punya pekerjaan) suka sekali duduk-duduk di sana. Maskeran, gonjrang genjreng gitar, ngalamun, menelpon orang, makan, menyeruput es, atau cuma sekadar menemani Sheila merokok. Paling enak sih, naik ke atas pagar teras dan duduk menyender di tiang kayunya, hehe.


Halaman belakang di rumah sub unit 4
Sama seperti di teras, bedanya aktifitas yang saya lakukan di sini lebih menenangkan. Halaman belakang rumah milik bapak Panji Agung ini berhadapan langsung dengan semak belukar dan pekarangan liar, karena menjadi ruang terbuka, sirkulasi udara di sini pun terasa silir. Di minggu pertama saya tinggal di rumah ini, saya sering sekali menarik kursi (yang entah disediakan oleh siapa) lalu menghadapkannya ke arah pekarangan sembari menyantap makan siang. Kalau pagi, saya juga duduk di sana dan menyeduh teh hangat. Sorenya, saya ada di sana lagi sambil melakukan macam-macam. Kadang ditemani satu dua orang (sepertinya kursi yang ada di belakang rumah berjumlah empat), kadang juga cuma sendiri. Kalau sudah sendirian, pasti akan ada yang memekik dari dapur, “ngapain, mim?” yang kemudian biasa saya timpali dengan “lagi kontemplasi”. Salah seorang teman bahkan sempat ada yang menganggap saya kesambet karena mendapati saya duduk sendirian jelang maghrib di halaman belakang. Hihihi. Padahal, kebiasaan nongkrong di belakang itu cuma karena suasana tempat itu enak. Anginnya sepoi-sepoi, dan tak banyak orang yang suka mengumpul di sana.


Kamar cewek di rumah sub unit 1
Ya jelas lah. Cuma di kamar ini saya bisa menanggalkan kerudung dan identitas lain yang melekat di tubuh saya. Cuma di kamar ini, saya, Rara, Intan, dan Tetti bisa membicarakan hal-hal yang sifatnya personal dan rahasia, pinjam meminjam alat-alat make up kami (eye linernya Intan, maskernya Rara, liptint Mima, aloe veranya Tetti), lempar melempar bantal ke kasur dan dinding kamar sambil mbengak-mbengok akibat kesal dengan beberapa hal, dan juga menikmati tidur malam kami yang nyenyak akibat terpaan mesin air kondisioner yang tersanding di kamar, hahaha. Kasur kamar ini juga menjadi tempat favorit saya untuk roll depan, kayang dan sikap lilin setiap saya disergap pikiran gelisah. Saya nggak akan mendapat lirikan heran dari cewek-cewek di sub unit 1, soalnya mereka pasti tahu kalau saya sedang nggak oke. Malahan, mereka jadi ikut-ikut saya atraksi di atas kasur, dan si Rara lah yang paling semangat dan jago kalau sudah diminta roll belakang.


Dapur di rumah sub unit 1
Dapur di rumah milik Pak Aswandi ini sepertinya merupakan dapur paling luas se-Kalimantan, hahaha. Selain memang menyimpan alat-alat masak layaknya fungsi dapur pada umumnya, bagian rumah ini juga menyimpan perlengkapan fotografi milik Anjar −tuan muda rumah ini, dan perkakas-perkakas lain yang sepertinya milik Pak Aswandi. Lebar ruangannya saja luas, kurang lebih tiga sampai empat meter dengan panjang sekitar sepuluh meter, mungkin juga lebih. Dapur ini menjadi tempat paling sering anak-anak sub unit 1 berkumpul dan bercengkerama, meskipun momen bersama kami di dapur hanya pada saat memasak dan jam makan tiba (serta briefing pagi yang baru intens di minggu-minggu terakhir). Saya masih bisa membayangkan bagaimana dapur berperan membentuk pola laku kami. Ketika Bang Jali mendapat jatah piket memasak, saya cuma akan bantu-bantu memotong sayur dan mencuci piring (soalnya saya nggak bisa masak hahaha). Rara dengan racikan jagungnya dan Esa dengan gelas energennya akan duduk mengobrol di meja makan. Lalu ada Intan yang sibuk menyetrika baju-baju milik siapapun yang tergeletak di samping meja makan. Reza mondar-mandir sembari menenteng ember isi cucian. Sementara Tetti akan panik dan berisik sambil duduk di kursi plastik, kepalanya dibalut handuk dan tangannya mencekal hape, kelimpungan karena petugas puskesmas menghubunginya dan meminta program tambahan. Lewat dapur ini pula, kami anak-anak sub unit 1 mungkin saja punya kesan pribadi yang nggak semua orang tahu. Mungkin Reza yang kepergok menangis di samping Intan, Esa yang diam-diam merokok di pintu dekat jemuran, Tetti yang pucat karena melihat kobra lewat di belakang dapur, perasaan sepi Bang Jali ketika memasak seorang diri di saat rumah kosong, atau obrolan rahasia antara Rara, saya, dan anak sub unit lain, Nur dan Topik ketika pukul dua pagi di meja makan sambil menyantap indomie rebus.


Rumah sub unit 2
Rumah sub unit 2 lokasinya ada di RW 02. Bentuk rumah ini bukan panggung seperti rumah-rumah di Kalimantan, lantainya sudah keramik meskipun dindingnya masih berkayu. Tapi impresi saya terhadap pondokan milik teman-teman sub unit 2 ini adalah: hangat dan menyenangkan. Mereka yang baik itu selalu menampung perut-perut kami yang kelaparan, menghibur diri-diri yang kesepian, menyimak cerita-cerita pilu dan pelik kami, serta menawarkan ruang bagi kami yang barangkali mau menangis sampai sesenggukan –kalau yang ini sepertinya cuma saya seorang sih; satu-satunya anak sub unit lain yang pernah numpang menangis di tempat ini, hehe.

Lebih detail lagi, saya punya kesan yang intim untuk mendeskripsikan bagaimana halaman teras rumah ini membuat saya jadi sangat emosional. Di teras tersebut, saya pernah bersitegang dengan seseorang, sampai saya pecah dan menangis terisak-isak, sampai seorang anak kecil bernama Vina menghampiri dan bertanya tanpa mengecilkan suaranya, ‘kak mima kenapa menangis?’ lalu saya diberinya permen cokelat, katanya supaya tangis saya mereda, tapi saya makin terisak, pasalnya anak itu kemudian masuk ke dalam rumah dan memberi tahu semua orang kalau saya sedang tersedu-sedu di teras depan. Satu jam kemudian, saya pamit dalam keadaan sembap, teman-teman sub unit 2 nggak ada yang merecoki apalagi membanjiri dengan pertanyaan aneh, mereka bersikap seperti biasa dan seolah paham, bahasa tubuh mereka seperti bilang ‘mima sedang nggak oke, dan itu oke’.

Hari itu bukan kali pertama saya menangis di teras. Pernah pada suatu malam sehabis rapat, saya dan beberapa teman memutuskan untuk nongkrong di rumah sub unit 2 (ternyata bukan cuma saya yang menganggap kalau tempat ini nyaman disinggahi). Awalnya kami cuma ngobrol hal-hal sepele, bermain teka-teki, memandang langit, dan mengumpat satu sama lain, tapi makin lama obrolan kami jadi intens dan dalam. Salah seorang teman memancing saya untuk bercerita tentang suatu hal, lalu saya beberkan, karena hal tersebut cukup emosional, mata saya jadi merah dan setelahnya saya menangis. Beberapa saat kemudian, teman saya yang lain datang berkerumun dan ikut nimbrung ke depan teras. Saya yang nggak mau ketahuan langsung menyeka mata dan pura-pura tertawa seperti orang goblok. Ketika itu, saya masih belum tenang karena ada hal lain yang sebenarnya mengganjal dan membuat sesak. Awalnya saya coba tahan karena di teras ada banyak orang yang sedang berkumpul. Tapi lama-lama perasaan sesak itu seperti mau meletus, saya lalu berdiri dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa bicara apapun. Saya mau jujur pada siapa saja yang sedang membaca ini: malam itu saya sembunyi di kamar mandi, menyalakan kran air dan menangis sambil membekap mulut. Saya nggak mau kepergok siapapun, saat itu saya kacau banget, bahkan sampai sekarang saya masih bisa mengingat perasaan sesak itu. Malam itu saya pulang tanpa pamit pada siapapun, meninggalkan orang-orang di teras yang bertanya heran.

Hal emosional lain yang saya rasakan di teras adalah ketika saya dan beberapa teman tengah dilanda urusan pelik yang menyangkut hajat orang desa. Saya nggak akan bercerita banyak soal ini, tetapi saya akan bilang kalau pada malam itu pikiran saya berkecamuk dan saya sungguh kalut. Malam itu nggak ada permainan teka-teki dan suara tawa lantang dari siapapun. Malam itu saya sudah lemas duluan, malam itu saya sudah jatuh berkeping-keping, malam itu saya sudah remuk dan redam, malam itu saya mati-matian menahan tangis. Malam itu, di teras, di depan beberapa teman, susah payah saya menahan suara parau dan mata yang sudah memburam. Saya enggan menangis, saya enggan pecah di depan mereka, saya enggan bilang pada mereka kalau saya sudah roboh, apapun caranya saya harus terlihat stabil. Maka setelah pertemuan mendebarkan itu selesai, saya dan salah satu teman langsung melarikan diri ke tempat lain, dan di sana, seperti yang bisa kalian tebak, saya menangis sesenggukan tiada henti.

Kenapa ya teras rumah tersebut seperti mengantongi atmosfir pilu tiap saya singgah ke sana?


Dapur di rumah sub unit 3

Ya ampun ternyata saya cengeng juga ya? Lagi-lagi saya menambahkan daftar tempat ke dalam tulisan ini karena tempat tersebut pernah jadi ruang saya untuk menangis. Malam itu saya berada di dapur sub unit 3, sementara teman-teman yang lain berkumpul di halaman depan. Saya duduk sendirian, menghadap meja dapur, menyanding gelas air putih dan satu kotak tisu entah milik siapa. Ponsel saya tersambung ke teman karib saya di Jogja, kami bicara panjang lebar, sampai tahu-tahu saya menangis tanpa sadar. Dapur malam itu terasa kosong dan melompong, saya masih ingat betapa hawa lengang di dapur saat itu justru seperti menekan saya pelan-pelan. Karena takut, saya lalu mengirim pesan pada Nur, bertanya sedang berada di mana, perempuan itu lalu mengirimi foto wajahnya yang pucat. Sontak saya kaget dan langsung menghampirinya di kamar. Sial lah, ternyata Nur juga sedang menangis. Saya lantas ikut berbaring di sebelahnya, diam dan tak bicara apa-apa. Kami bertolak punggung dan tenggelam pada perasaan kami sendiri. Bahkan konyolnya, setelah itu kami sempat mematut diri di kaca lemari lalu mengumpat bebarengan, wajah kami tampak menyedihkan, mata kami sembap dan hidung kami memerah. Dalam kondisi berantakan itu, kami lalu terbahak keras-keras.

Tapi, dapur tadi juga menjadi tempat yang nyaman untuk ditongkrongi. Ketika saya dan Rara berkunjung ke rumah sub unit 3, kami akan berlari ke dapur dan melakukan banyak hal. Membuat sirup, menuangkan es buah atau soda gembira, mencari-cari pengganjal perut di meja makan, membuka kulkas dan melongok isinya, menemani anak sub unit 3 makan siang atau membuat cilok, dan gonjrang-genjreng gitar sambil bernyanyi berisik.

Geng Pak Wandi

bersama Bang Jali

sisanya berlanjut di kemudian hari ya!

Sabtu, Agustus 25, 2018

kalimantan dan juli yang gerimis

malam malam kian lengang
kian asing, kian tersisih
apabila pilu mengambang di jalan
maka aku tumbuh sebagai getir
yang mencuat di sela pagar tanaman
di lampu-lampu tiang yang berderit
di langit lepas saat maghrib
lalu terbang menjadi helaan napas yang amat berat
 
laki-laki itu pernah berujar,
"wajahmu pucat"
lima detik setelah ia tergelak mendengarku bicara
tentang tukang jahit dan hewan-hewan mitologi
polisi tidur, umbul-umbul, atau rumah hantu
kepa, aku mengumpat
rat
keparat
keparat
keparat
keparat
keparat
kalau wajahku pucat, lalu hatiku apa?


−setelahnya hujan badai

Selasa, Juni 19, 2018

4.00 jancuk

udara dingin pil aspirin sepatu gunung piring seng pagar berkarat tanah becek tanaman layu mobil mogok rumah usang bunyi keran apron ibu loyang tua bau parafin lampu jalan bunga liar kunang kunang engsel patah dengkuran bapak jaket jeans raut pensil kusen jendela kain rajut lilin kecil teh hangat daun kering hitam pekat harum ragi mabuk arak radio rusak papan catur teras nenek malam lengang akar pohon ikan sapu kunir asem nona belanda burung walet

jam empat pagi dan saya bicara ngaco

untuk alasan-alasan yang kadang saya nggak mengerti:

kenapa di dunia ini ada banyak sekali hal yang membuat terperangah
kenapa saya menangis sesenggukan ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah
kenapa udara malam kadang-kadang seperti mengendap dan menusuk
kenapa rasanya ingin tenggelam setiap disergap sepi dan pikiran berkecamuk
jancuk

kenapa cuma melihat anak laki-laki itu, saya sampai bingung dan tidak tidur sampai pagi

Minggu, April 29, 2018

Kena sihir 'Cerita Anak' milik Papermoon

Rasanya kalau mengingat-ngingat konsep pertunjukan yang dihelat oleh Papermoon pada akhir april kemarin, perasaan saya langsung jadi bergemuruh; karena senang, takjub, sekaligus merinding. Saya pernah bilang sebelumnya, menonton teater sama dengan membantumu untuk berefleksi, tapi kalau konsep teater itu bagus, kamu bukan hanya bisa berefleksi saja, tapi kamu juga akan dihantarkan pada banyak perasaan-perasaan yang meluap, meluber, sampai kamu sendiri kesulitan menampungnya.

“Cerita Anak” adalah bentuk teater interaktif yang didesain untuk anak usia 2-8 tahun (tentu dengan dampingan orangtua). Pementasan ini digawangi oleh Papermoon Puppet Theatre (komunitas teater boneka dari jogja) dan Polyglot Theatre dari Australia sebagai bagian dari pembukaan pameran seni ArtJog 2018. Cerita Anak juga ternyata pernah dipentaskan di Melbourne, tentunya dengan versi yang berbeda. Jalan cerita di dalam pertunjukan ini sebenarnya sangat sederhana. Seorang anak TK yang menonton pasti bisa dengan mudah menceritakannya di hadapan teman-teman mereka. Tapi bagaimana kemudian alur tersebut dieksekusi dan dibungkus dengan sedemikian indah, adalah poinnya.

Cerita Anak berlatar di sebuah perairan laut luas. Dilansir dari website ArtJog, tema pertunjukan ini mengenai sejarah maritim dan kisah nyata seorang anak Srilangka yang menjadi salah satu pencari suaka di Australia. Panggung teaternya dibuat berkelambu, dan ada kapal besar sebagai properti utama yang ditaruh di tengahnya. Tiga orang dewasa yang berperan sebagai awak kapal kemudian masuk dan memulai petualangan, disusul rombongan anak-anak manis bersama orang tua mereka yang juga memainkan cerita. Menariknya, anak-anak tadi benar-benar diterjunkan tanpa arahan sutradara, mereka bebas bermain dengan berbagai properti laut yang ada di panggung. Ketika air ombak yang divisualkan lewat kain biru tipis saling bergulung, mereka langsung lompat dan ikut bergelung di dalamnya. Ketika awak kapal menyuruh mereka untuk masuk ke dalam kapal karena air ombak semakin tinggi, mereka kemudian menjerit-jerit dan langsung menaiki kapal. Ketika kapal masuk ke wilayah laut lepas dan mulai muncul banyak ikan-ikan, mereka kemudian diajak untuk memancing dengan alat pancing mainan. Ketika kapal tenggelam setelah menerjang badai ombak yang liar, mereka lalu mencengkeram tangan orang tua mereka karena ketakutan. Sepanjang pertunjukan, anak-anak kecil itu tertawa, terperangah, kaget, berteriak, menggumam, dan berbagai emosi mereka ikut saya rasakan, membuat saya tersenyum lebar melihatnya. Sangat lebar sampai saya sendiri nggak sadar kalau saya sedang tersenyum.

Semua adegan dalam Cerita Anak tentu sangat emosional, dan saya tidak bisa menuliskan detil bagaimana perasaan-perasaan tersebut menguras saya. Ada pula beberapa adegan yang saking emosionalnya, mata saya langsung berkaca-kaca menahan tangis.

Salah satunya adalah ketika melihat properti teater berbentuk hewan laut super besar yang diperagakan menggunakan lampu warna-warni, saat itu saya refleks mencengkeram tangan Pije (teman nonton saya waktu itu) dan kami memekik bersama. This is just so beautiful, mata saya berair dan menghangat. Saya nggak punya kosa kata lagi untuk menggambarkan betapa ‘Cerita Anak’ ini begitu indah. Saya seperti disihir, oleh anak-anak yang bermain dengan polos (spontan dan tanpa skrip), tata lampu, proyeksi video, properti panggung, setting suara, plot cerita, dan semua kombinasi yang membuat pertunjukan itu sangat kontemplatif. Cerita Anak seperti menghidupkan kembali imajinasi dan dinamika anak-anak yang sederhana dan begitu menyenangkan, pada kami orang-orang dewasa yang menonton.

magissssss

Malam itu saya berterimakasih banyak pada Mbak Ria Papermoon dan seluruh kru yang telah menyajikan pentas teater seapik itu. Saya pulang dengan perasaan bahagia berkali-kali lipat, sambil menyeka mata dan bertepuk tangan tak habis-habis.


sumber foto: instagram papermoon puppet theater

Minggu, April 01, 2018

Self-healing abad kontemporer: duduk di kursi teater

    Jadi sudah belakangan ini saya merasa nggak enak badan, pikiran, dan juga perasaan. Hawanya jadi uring-uringan melulu. Mungkin efek tugas-tugas kuliah yang sangat membebani pundak kali ya. Tapi selain itu, saya sebenarnya sadar satu hal akan kondisi saya sekarang ini; saya lagi bosan banget! Semester enam ini saya sudah lepas dari segala bentuk penyematan jabatan, saya nggak lagi rapat sehabis kelas, nggak lagi ngevent di fakultas tiap malam minggu (saking seringnya fib bikin acara), nggak lagi nongkrong di hall teater ngomongin proyekan sampai jam dua pagi, nggak lagi ribet ngurusin keuangan dan bikin proposal program kerja, nggak lagi cari-cari kerjaan di luar kampus (magang, ikut kepanitiaan, cari duit), nggak lagi wara-wiri cari penghidupan di seantero jogja sampai lupa kuliah lupa makan lupa mandi lupa harus tetap tenang.

    Kalau dipikir-pikir, semester enam ini sudah jadi bebas banget, dan saya kira saya bakal lega sampai paru-paru, tapi rupanya nggak lega-lega amat. Saya kira saya akan menjalani hidup dengan damai, tapi ternyata nggak damai-damai amat. Saya jujur aja, tapi kok rasanya malah pusing ya? Pusing karena saya nggak punya kehektikan apapun. Hidup saya sekarang jadi cuma perihal kuliah, dan kalian tahu lah kerjaan di antro itu ngapain; baca jurnal, review, baca jurnal, review, baca jurnal, dan sumpah kegiatan itu tuh sebenarnya sangat membosankan. Pengetahuan akan isu-isu baru di dalam artikel memang jadi nambah sih, tapi ya sudah cuma sampai itu, saya nggak punya banyak pengalaman di lapangan. Suka heran juga saya, kenapa jadi jarang riset ke lapangan ya? Padahal ini modalnya anak antro. Sudah tiga tahun ini saya melakoninya, tapi rasa-rasanya baru kali ini ngempet banget di pikiran, kaya muak sampai ubun-ubun tapi nggak bisa ngapa-ngapain setelahnya. Nggak paham lagi lah dengan hidup ini, kadang jalur lintasannya memang bisa bikin pingsan.

     Maaf saya jadi marah-marah satu paragraf panjang begitu. Intinya, di saat kondisi bosan saya sungguh-sungguh ingin meledak, saya mulai merutinkan kembali ibadah rohani yang dulu sering saya lakukan untuk menyeimbangkan hormon saya; cari festival, nonton screening film, ke pameran, naik kereta, jalan-jalan sore, dateng konser, dan salah satunya adalah menonton pertunjukan teater!

    Sebenarnya niat terselubung di balik nonton teater adalah; saya pingin banget duduk di kursi penonton sebuah gedung pertunjukan yang besar. Sebutlah kalau di Jogja itu berarti concert hall-nya TBY. Kalian boleh menyebut saya aneh atau nggak masuk akal, tapi saya memang akan jadi baik-baik saja kalau sudah duduk di kursi penonton itu. Senderan sambil menyangga dagu, melihat berderet-deret kursi lain di sekitar, merasakan atmosfir pertunjukan lewat lighting redup, panggung megah, aktor yang mungkin tiba-tiba muncul dari samping, setting musik yang disetel padu, tata artistik yang seolah jadi hidup ketika disorot lampu, dan segala komponen lain yang menyatu dalam sebuah pertunjukan.

    Kayak kemarin ini, ketika saya diajak teman untuk nonton teater lakon Jawa Barat di concert hall TBY, langsung menjerit-jerit mau lah saya, apalagi tiket masuknya gratis. Saya sih nggak berekspektasi apa-apa terkait konsep pertunjukannya, asal saya bisa duduk di kursi penonton concert hall aja saya sudah lega banget lah. Saya akan meluruhkan segala beban di kepala, pundak, maupun lutut kalau sudah duduk di kursi penonton. Rasa-rasanya jadi kaya sedang menjalani pengobatan altenatif, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang mendera dalam kehidupan usia dua puluhan. Asli lah, nggak bohong saya.

    Tapi meskipun nggak berekspektasi apapun terhadap teaternya, saya akan tetap memperhatikan jalan cerita dan setting lain yang dibangun oleh kru. Soalnya kalau saya nggak serius nonton, ya nggak dapet lah atmosfirnya! Apalagi kalau selesai pertunjukan dan ada curtain call setelahnya, rasanya pingin banget tepuk tangan paling lama dan paling keras –yang mana adalah bentuk apresiasi ter melegakan di atas panggung. Pulang-pulang, bahagia lahir batin lah saya, dan kalau pas kebetulan konsep teaternya bagus parah, bahagia saya jadi berlipat bertingkat-tingkat, sampai kadang saya nggak bisa berkata-kata dan cuma mampu menangis. Contoh kasus yang ini adalah pertunjukannya teater Tamara (tak mudah menyerah) berjudul Gejolak Makam Keramat, yang dimainkan oleh ibu-ibu penyintas tragedi 65 yang pernah lalu-lalang masuk-keluar camp penahanan akibat peristiwa politik berdarah tersebut. Rasanya selesai menyaksikan pertunjukan mereka, saya seperti punya keberanian baru untuk hidup. Saya nggak pernah tahu sebelumnya kalau menonton teater bisa jadi semagis itu. Kalau dengan menonton teater, saya bisa berkontemplasi tentang banyak hal dan bersyukur karenanya.

    Teman-teman yang lagi pusing banget sampai pingin muntah, bilang saya ya, nanti saya ajak duduk di kursinya gedung teater.


prosesi curtain call setelah pertunjukan selesai