Jumat, Desember 13, 2019

#22 sekelumit


bulan gerimis dan malam berangin
langit buram dan wajah-wajah yang muram
dalam kabut tipis dan sayup-sayup
aku rebah di antara pengharapan-pengharapan, wangi teduh dan sinar melembut
(desember, 2019)


aku sudah lulus kuliah. terdengar sangat tiba-tiba. tapi yang sebenarnya terjadi adalah hari-hari gila dan melelahkan. aku menangis setiap hari, tidak tidur bermalam-malam, sakit kepala, muntah-muntah sampai demam tinggi. aku stress sampai wajahku break-out, sesuatu yang sebelumnya sama sekali tak pernah aku alami. pikiran dan tubuhku seakan mengawang, terseok-seok di antara hal-hal yang ada dan tiada. aku kacau dan muak, tapi di saat yang bersamaan, aku sungguh-sungguh ingin selesai. ternyata aku sidang skripsi di hari ulangtahunku. 15 oktober. sungguh bukan main terkejutnya. malam harinya aku menangis lagi, tak habis-habis. aku sulit memaparkan bagaimana rasanya. hari itu aku seperti rintik-rintik gerimis yang membasahi pemukiman kering. hatiku seakan terbang, terasa ringan dan menghangat. tak pernah aku mendapati diriku menjadi selapang ini pada sekelumit hal-hal yang sebelumnya terasa mencekik dan membuatku mual. aku telah sampai. aku telah sampai. kalimat itu seperti bius yang menenangkanku, seperti bibir pantai yang bergerak lembut dan menghanyutkanku.

tetapi aku tak yakin benar, apakah aku sungguh-sungguh menyukai diriku yang sekarang? pertanyaan ini selalu kuputar berkali-kali dalam kepalaku. sesungguhnya aku memenuhi diriku dengan banyak sekali keragu-raguan. aku penakut, ceroboh, masih gemar melakukan kesalahan, masih gemar menyesali beberapa keputusan, masih gemar membebani diri dengan perasaan-perasaan yang seharusnya tak perlu aku pikul. aku mudah menangis dan tak bisa melampiaskan amarah. aku ringkih dan terasa begitu kecil. tapi di antara hal-hal itu, aku tak percaya aku terus berjalan sampai detik ini, bahkan dengan pikiran dan kesadaran yang mengabur sekalipun.

kendati tak pernah selalu jadi kuat, ternyata aku masih cukup mampu, padahal apa-apa yang ku lalui penuh dengan keputusasaan. aku masih pemberani di saat sebenarnya aku penuh dengan kekhawatiran dan kecemasan. aku masih bisa begitu baik-baik saja meskipun sesungguhnya aku sama sekali tak merasa baik. kalau sanggup, aku mungkin sudah pecah dan terisak di depan orang-orang, seperti orang gila, tetapi aku masih mampu menahannya sekuat hatiku. bagaimanapun aku hanya ingin diingat dengan sesuatu yang menyenangkan, dan kesedihanku, bukanlah salah satu di antaranya.

selamat ulangtahun hamima, maaf ini sangat terlambat. aku tahu betul bagaimana payah dan lambatnya aku menangani semua hal, tetapi aku sungguh-sungguh berterimakasih pada apapun yang terjadi. menyusuri usia yang baru, aku ingin lebih jarang menangis, tak yakin pasti, tapi semoga ini benar-benar terkabul. dan menyambut apa saja yang akan bergulir setelah ini, semoga aku lebih banyak dipenuhi dengan rasa tenang dan cukup.




*
Hamima cantik dan terpuji, berseri-serilah…

Minggu, November 10, 2019

terbentur

setengah tiga ketika kereta yang membawaku dari lempuyangan berhenti di jenar yang sangat lengang
setelahnya, kereta kembali bergegas dan hilang di ujung pandang, begitu saja
stasiun ini sepi, kanan-kiri adalah pepohonan kering dan sawah-sawah tandus akibat tak ada hujan yang pernah lewat
orang-orang hanya segelintir, bisa dihitung jari dan tak ada keriuhan apapun
sayup-sayup angin bertiup lembut
dan tempias matahari membuat refleksi diriku di antara peron-peron yang aku lalui
sore itu mendadak seperti diterpa perasaan aneh dan asing
dan kosong dan tak terjamah
dan samar-samar dan lamat-lamat
“ayo, mim.” suara icha memecah lamun dan pikiran
pada bayang-bayang semu yang selama beberapa menit melintas di kepala
…dan hampir menjatuhkanku
sambil merengek aku memaki diriku sendiri, aku kenapa sih...



*
stasiun jenar dan hal-hal yang membingungkan, 2019

Jumat, September 20, 2019

kerlap-kerlip

tak pernah ada bintang di langit kota yang terlalu meriah
tetapi malam-malam belakangan ini bulan berpendar dengan penuh
kelam tapi terang benderang
remang tapi hangat merekah
segala bilur berangsur kabur
dan dadaku disesaki perasaan samar

aku menulis ini tidak dalam keadaan sedih
;itu pertama
hal kedua, hari ini aku sama sekali tidak menangis
pikiranku tenang dan tak bergelombang
tak ada emosi lain yang meluap dan mencurah
pun suara-suara berisik yang meneriaki kepala
dan makian bangsat, bangsat, bangsat
atau rasa takut serta gelisah yang bergolak

kecuali;
aku menemukan diriku menjelma menjadi kerlap-kerlip kecil
yang riang dan semarak
berbinar dan berseri-seri
letup dan pecah; untuk perasaan-perasaan yang merona
debar-debar asing yang berloncatan
atau apa ini namanya, riuh rasa yang manis dan tiada habis

itu adalah hal ketiga, yang sangat mengusik dan akan ku perjelas dengan pertanyaan;
apakah aku sedang disihir?




19/9
di antara keadaan yang paradoks.

Selasa, September 17, 2019

abu-abu

aku minta maaf,
aku bikin anak manusia sedih dan sakit hati lagi
malamnya aku menangis, tidak menduga dan bingung dengan cara hidup ini bekerja
aku minta maaf sambil sesenggukan, tak tahu lagi
kenapa perasaan sakitnya jadi balik menimpaku seperti ini
jadi dua sampai tiga kali lipat sakitnya
aku ingat diriku di kehidupan yang lalu, aku pun pernah mengalami hal yang sama, dan aku pun cuma bisa terpekur seorang diri, tak bisa melakukan apa-apa
perasaan dan segala kejadian yang berkelindan itu sungguh sakral
aku minta maaf
aku ingin selalu diingat dengan hal yang baik
tapi kalau pada akhirnya aku menyedihkan begini
aku bisa apa


di lain hal, isi kepalaku sungguh kacau, aku bisa menangis enam kali dalam sehari
hanya karena satu orang
lalu kalau pikiranku mencuat, saling berhambur
dan aku tak tau harus menenangkannya dengan apa
aku akan bilang pada diriku sendiri
siapa kita ini manusia, yang pernah menyakiti dan disakiti
semua manusia juga begitu
perasaan itu ada dan mengendap dalam setiap degup, debar, detak
alih-alih menghukum diri, dan balik melukai diri
aku akan menangis lagi
sambil bicara
"aku berhak merasa baik, dan tenang
serta hidup dengan baik, dan tenang
serta mencintai dan dicintai
dengan baik, dan tenang
aku cukup"
tuhan, kali ini hal-hal itu mengusikku, dan aku mau coba untuk percaya
lapangkanlah


kepada ibu, selamat ulang taun
satu tahun yang lalu aku bilang akan berhenti menangis dan menangani semua hal
tapi nyatanya sampai malam ini aku masih suka menangis, dan aku tak bisa menangani beberapa hal
aku mau tumbuh dewasa dengan baik, tapi kenapa dalam perjalanannya aku jadi payah dan runyam begini
aku sadar kalau menangis sudah seperti mekanisme pertahananku melawan hal-hal bising di dalam kepala
kalau aku tak menangis, aku pasti sudah gila dan mati dalam wujud yang sia-sia
jadi, mungkin aku tak akan berhenti dan akan terus menangis, tapi ibu boleh mengingat ini; aku akan jadi anak yang kuat setelahnya


panjang umur ibu, yang harum semerbak teduh wangi tenang lembut dan hangat
aku tidak bisa tidur
menulis kalimat-kalimat sedih ini
dan terus berpikir soal kepergian



14/9
satu malam setelah semua itu terjadi.

Selasa, Agustus 06, 2019

asam lambung

mau tau rasanya? apa ya bahasa indonesianya overwhelming? semua perasaan masuk. pingin muntah, tentu saja. GEMETAR, PUSING, JANTUNG BERDEGUP KENCANG, berdiri tegak juga nggak mampu, ah iya, OLENG, seperti orang teler, NAPAS JADI SESAK dan lapar, hari ini aku baru makan sekali.

aku pingin dikata-katai goblok keras-keras tepat di depan telinga, kalau bisa semua umpatan kebun binatang juga masuk, yang penting jangan ada kontak fisik, aku sedang lemas.

bagaimana cara menjelaskannya ya? kemarin aku benci diriku setengah mati. aku mengisolasi diri seperti orang gila. aku tidak bicara pada siapapun, ibu kosku sampai menelpon tiga belas kali, tapi itu karena dia mau nagih uang. aku bertengkar dengan sahabatku. telunjukku teriris pisau ketika sedang memotong sayur. aku demam dan tak punya obat apapun yang bisa diminum. aku benar-benar tak menyukai diriku sendiri. cermin di kamarku pecah dan aku malas membereskan pecahan belingnya. aku muak dan ingin menelan diriku hidup-hidup.

kadang benderang, kadang temaram, kadang remang, kadang menghilang. malam ini aku sungguh-sungguh mengasihani diri sendiri. aku jadi seperti gelas yang tak mampu menampung air yang sedang dituang, jadi meluber, jadi meluap, jadi tumpah dan basah. bagaimana mengatakannya ya? aku ingin bilang kalau aku sedang merasa lapang. aku jadi seperti halaman belakang rumah yang ditanami bunga-bungaan liar dan dijadikan tempat bermain anak-anak. aku jadi seperti angin sore yang ditiup lembut, langit teduh menuju magrib, hujan deras yang perlahan reda. aku tenang, dan rasa-rasanya, aku tak ingin apa-apa kecuali bisa selalu merasakan cukup terhadap apapun yang tengah dicecap. kekhawatiran-kekhawatiran, kecemasan, gelisah, perasaan kusut dan gamang, semuanya. “yang dalam riang ringkih, rumit dan terhimpit.”

meski tak menentu dan kadang sembunyi, meski tak kunjung tau ujung jalan, bangsat, bangsat, bangsat, ini semua karena asam lambung.


*
karena mendengarkan Temaram - Polka Wars, 2019.