suatu petang anak itu pernah bicara pada ibu
ia tak sungguh-sungguh mampu untuk tumbuh dan menjelma jadi kembang api-kembang api kecil
yang selama ini menghidupinya
seperti terhenti di tengah-tengah jalan sepi di tepi kota
seperti kehilangan pandang pada udara subuh yang membuatnya menggigil
seperti tak lagi bisa merasakan apapun
ia ingin meniup nyala apinya
jadi padam
tak ingin lagi berpendar
sirep.
setelah mendengar cerita itu,
kenapa hatiku seperti digerogoti
aku tak bisa tidur
dan menangis sepanjang malam
25/2
seperti mimpi buruk
Kamis, April 30, 2020
Kamis, April 23, 2020
personal
perjalanan-perjalanan, penemuan yang personal, berujung pada
keputusan-keputusan memisahkan hari ini dengan masa lalu
meski tak semua tanya datang bersama jawab
dan tak semua harap dapat terpenuhi, namun
aku ingin apa-apa yang terjadi adalah kesadaranku untuk
terus bertumbuh
tak terlalu rumit pada diri sendiri
tak juga berbelit-belit dan menjadikan segalanya runyam
tak membebani diri dengan hal-hal samar dan abu-abu
semu dan tak jelas
ragu dan memburam
teduhlah hatimu
teduhlah hatimu
22/4
karena lagu Utarakan-nya Banda Neira
Senin, Januari 13, 2020
sebelas malam
di antara sepi dan kejadian-kejadian suram
sebelas malam adalah
ruang dapur redup, akibat penerangan yang minim
pintu-pintu tergembok dan jalanan lengang
kucing komplek yang lalu-lalang di koridor
dan salah satunya berhenti di depan kamar berbaring lesu di atas sepatu
suara yang masih parau, batuk yang tak kunjung sembuh, sisa bertengkar semalam dengan bapak
obrolan hantu perempuan yang senang menyapa
menontonku dari sudut ruangan ketika tengah malam menangis
yang katanya menyerap enerji jelek yang ku alirkan
bunyi salon speaker yang sudah tua
jari gemetar menyentuh cangkir panas isi seduhan teh
dan nyeri-nyeri yang berpusat di bagian ulu hati
sebelas malam adalah
ruang dapur redup, akibat penerangan yang minim
pintu-pintu tergembok dan jalanan lengang
kucing komplek yang lalu-lalang di koridor
dan salah satunya berhenti di depan kamar berbaring lesu di atas sepatu
suara yang masih parau, batuk yang tak kunjung sembuh, sisa bertengkar semalam dengan bapak
obrolan hantu perempuan yang senang menyapa
menontonku dari sudut ruangan ketika tengah malam menangis
yang katanya menyerap enerji jelek yang ku alirkan
bunyi salon speaker yang sudah tua
jari gemetar menyentuh cangkir panas isi seduhan teh
dan nyeri-nyeri yang berpusat di bagian ulu hati
sebelas malam adalah
akumulasi dari perasaan cemas
kebingungan terhadap banyak keadaan
dan di antaranya adalah ketakutan menjumpai diri sendiri
kebingungan terhadap banyak keadaan
dan di antaranya adalah ketakutan menjumpai diri sendiri
rileks, mim
12/1
bersama obat pereda nyeri sakit kepala
Jumat, Desember 13, 2019
#22 sekelumit
bulan gerimis dan malam berangin
langit buram dan wajah-wajah yang muram
dalam kabut tipis dan sayup-sayup
aku rebah di antara pengharapan-pengharapan, wangi teduh dan sinar melembut
(desember, 2019)
aku sudah lulus kuliah. terdengar sangat tiba-tiba. tapi yang sebenarnya terjadi adalah hari-hari gila dan melelahkan. aku menangis setiap hari, tidak tidur bermalam-malam, sakit kepala, muntah-muntah sampai demam tinggi. aku stress sampai wajahku break-out, sesuatu yang sebelumnya sama sekali tak pernah aku alami. pikiran dan tubuhku seakan mengawang, terseok-seok di antara hal-hal yang ada dan tiada. aku kacau dan muak, tapi di saat yang bersamaan, aku sungguh-sungguh ingin selesai. ternyata aku sidang skripsi di hari ulangtahunku. 15 oktober. sungguh bukan main terkejutnya. malam harinya aku menangis lagi, tak habis-habis. aku sulit memaparkan bagaimana rasanya. hari itu aku seperti rintik-rintik gerimis yang membasahi pemukiman kering. hatiku seakan terbang, terasa ringan dan menghangat. tak pernah aku mendapati diriku menjadi selapang ini pada sekelumit hal-hal yang sebelumnya terasa mencekik dan membuatku mual. aku telah sampai. aku telah sampai. kalimat itu seperti bius yang menenangkanku, seperti bibir pantai yang bergerak lembut dan menghanyutkanku.
tetapi aku tak yakin benar, apakah aku sungguh-sungguh menyukai diriku yang sekarang? pertanyaan ini selalu kuputar berkali-kali dalam kepalaku. sesungguhnya aku memenuhi diriku dengan banyak sekali keragu-raguan. aku penakut, ceroboh, masih gemar melakukan kesalahan, masih gemar menyesali beberapa keputusan, masih gemar membebani diri dengan perasaan-perasaan yang seharusnya tak perlu aku pikul. aku mudah menangis dan tak bisa melampiaskan amarah. aku ringkih dan terasa begitu kecil. tapi di antara hal-hal itu, aku tak percaya aku terus berjalan sampai detik ini, bahkan dengan pikiran dan kesadaran yang mengabur sekalipun.
kendati tak pernah selalu jadi kuat, ternyata aku masih cukup mampu, padahal apa-apa yang ku lalui penuh dengan keputusasaan. aku masih pemberani di saat sebenarnya aku penuh dengan kekhawatiran dan kecemasan. aku masih bisa begitu baik-baik saja meskipun sesungguhnya aku sama sekali tak merasa baik. kalau sanggup, aku mungkin sudah pecah dan terisak di depan orang-orang, seperti orang gila, tetapi aku masih mampu menahannya sekuat hatiku. bagaimanapun aku hanya ingin diingat dengan sesuatu yang menyenangkan, dan kesedihanku, bukanlah salah satu di antaranya.
selamat ulangtahun hamima, maaf ini sangat terlambat. aku tahu betul bagaimana payah dan lambatnya aku menangani semua hal, tetapi aku sungguh-sungguh berterimakasih pada apapun yang terjadi. menyusuri usia yang baru, aku ingin lebih jarang menangis, tak yakin pasti, tapi semoga ini benar-benar terkabul. dan menyambut apa saja yang akan bergulir setelah ini, semoga aku lebih banyak dipenuhi dengan rasa tenang dan cukup.
*
Hamima cantik dan terpuji, berseri-serilah…
Minggu, November 10, 2019
terbentur
setengah tiga ketika kereta yang membawaku dari lempuyangan berhenti
di jenar yang sangat lengang
setelahnya, kereta kembali bergegas dan hilang di ujung
pandang, begitu saja
stasiun ini sepi, kanan-kiri adalah pepohonan kering dan
sawah-sawah tandus akibat tak ada hujan yang pernah lewat
orang-orang hanya segelintir, bisa dihitung jari dan tak ada
keriuhan apapun
sayup-sayup angin bertiup lembut
dan tempias matahari membuat refleksi diriku di antara
peron-peron yang aku lalui
sore itu mendadak seperti diterpa perasaan aneh dan asing
dan kosong dan tak terjamah
dan samar-samar dan lamat-lamat
“ayo, mim.” suara icha memecah lamun dan pikiran
pada bayang-bayang semu yang selama beberapa menit melintas
di kepala
…dan hampir
menjatuhkanku
sambil merengek aku memaki diriku sendiri, aku kenapa sih...
stasiun jenar dan hal-hal yang membingungkan, 2019
Langganan:
Postingan (Atom)


